Pakistan Gempur Perbatasan Afghanistan, 36 Warga Sipil Tewas
DIKSIMERDEKA.COM ISLAMABAD β Pakistan gempur perbatasan Afghanistan melalui serangan udara yang menewaskan puluhan warga sipil. Taliban mengecam operasi militer tersebut sebagai tindakan agresi, sementara Islamabad menyebut serangan ditujukan untuk menghancurkan basis kelompok milita
Pakistan Melancarkan serangan udara ke tiga provinsi di wilayah timur Afghanistan yang berbatasan langsung dengan negaranya. Pemerintah Taliban mengklaim sedikitnya 36 warga sipil tewas dan 163 lainnya terluka dalam serangan tersebut, sehingga kembali memanaskan hubungan kedua negara yang belum lama ini sempat berperang.
Serangan udara dilakukan pada Minggu (28/6) malam setelah Pakistan mengalami serangan kelompok militan di Karachi yang menewaskan tiga personel keamanan. Pemerintah Pakistan menyebut operasi tersebut ditujukan untuk menghancurkan basis kelompok teroris yang diyakini beroperasi dari wilayah Afghanistan.

Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, mengatakan operasi diawali dengan penyisiran darat berbasis intelijen sebelum dilanjutkan dengan serangan udara terhadap lokasi yang disebut sebagai tempat persembunyian kelompok bersenjata di sepanjang perbatasan Afghanistan.
Namun, pemerintah Taliban membantah wilayah Afghanistan digunakan sebagai tempat berlindung kelompok militan. Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengecam serangan tersebut sebagai tindakan agresi yang telah menimbulkan banyak korban sipil.
“Ini adalah tindakan agresi yang pengecut,” kata Mujahid dilansir dari AFP.
Ketegangan terbaru muncul hanya beberapa bulan setelah Pakistan dan Afghanistan menyepakati gencatan senjata pada Maret lalu. Meski demikian, bentrokan sporadis masih terus terjadi di sepanjang perbatasan. Pada Juni, serangan Pakistan dilaporkan menewaskan sedikitnya 13 orang menurut otoritas Afghanistan.
Serangan terbaru berlangsung sehari setelah kelompok bersenjata menyerang markas regional Pakistan Rangers di Karachi menggunakan senjata api dan bahan peledak. Tiga personel keamanan Pakistan tewas dalam insiden tersebut, sementara tiga penyerang dilaporkan tewas dan seorang lainnya ditangkap dalam keadaan terluka.
Militer Pakistan menyebut pelaku yang ditangkap merupakan warga negara Afghanistan. Kelompok Jamaat-ul-Ahrar, faksi yang memisahkan diri dari Taliban Pakistan, mengaku bertanggung jawab atas serangan di Karachi tersebut.
Menurut Tarar, operasi militer Pakistan menyasar markas Jamaat-ul-Ahrar dan kelompok yang disebut Islamabad sebagai Fitna al-Khawarij, istilah yang digunakan pemerintah Pakistan untuk merujuk kepada Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP).
“Pakistan selalu berupaya menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan. Namun kami tidak akan berkompromi terhadap keselamatan dan keamanan warga negara kami,” ujar Tarar.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pakistan mengalami lonjakan serangan terhadap aparat keamanan yang sebagian besar dituding dilakukan oleh TTP dan kelompok-kelompok sekutunya. Meski memiliki hubungan dekat dengan Taliban Afghanistan, TTP merupakan organisasi yang berbeda.
Sementara itu, pemerintah Afghanistan berulang kali membantah memberikan perlindungan kepada kelompok militan. Kabul justru menuding operasi militer Pakistan telah menyebabkan banyak korban sipil, termasuk serangan terhadap pusat rehabilitasi narkoba pada Maret lalu yang menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menewaskan ratusan orang.
Hubungan Pakistan dan Afghanistan semakin memburuk setelah perang singkat yang pecah pada akhir Februari. Menurut PBB, konflik tersebut menewaskan ratusan orang dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi.
Pertempuran juga diwarnai serangan udara Pakistan ke sejumlah kota Afghanistan, termasuk Kabul dan Kandahar yang menjadi basis pemimpin tertinggi Taliban. Berbagai upaya mediasi yang melibatkan China dan Arab Saudi hingga kini belum mampu menghasilkan penyelesaian permanen, sementara perbatasan kedua negara sebagian besar masih ditutup akibat meningkatnya kekerasan lintas batas.
Pada awal Maret, Panglima Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, menegaskan hubungan damai dengan Afghanistan hanya dapat terwujud apabila pemerintahan Taliban menghentikan dukungannya terhadap kelompok-kelompok teroris.
Konflik di sepanjang perbatasan Pakistan dan Afghanistan diperkirakan masih akan terus berlanjut selama kedua negara belum menemukan kesepakatan mengenai penanganan kelompok bersenjata lintas batas. Operasi militer terbaru menunjukkan bahwa ketegangan keamanan masih menjadi persoalan utama di kawasan tersebut. Banyak pengamat menilai Pakistan gempur perbatasan Afghanistan sebagai bagian dari strategi menekan kelompok militan yang dianggap mengancam keamanan dalam negeri. Di sisi lain, pemerintah Taliban tetap menolak tuduhan bahwa wilayah Afghanistan digunakan sebagai tempat berlindung kelompok bersenjata. Perbedaan pandangan tersebut membuat hubungan diplomatik kedua negara kembali memanas dan meningkatkan kekhawatiran akan memburuknya situasi keamanan serta bertambahnya korban sipil di kawasan perbatasan.

Tinggalkan Balasan