DIKSIMERDEKA.COM KABUL-Pemerintahan Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah kontroversial mengirim sekitar 1.100 warga Afghanistan yang dulu membantu militer AS ke Republik Demokratik Kongo (DRC).

Langkah ini memicu kritik keras. Pasalnya, kelompok ini bukan orang biasa. Mereka adalah penerjemah, keluarga tentara AS, hingga ratusan perempuan dan anak-anak yang selama ini justru dilindungi karena membantu operasi militer Amerika.

Selama setahun terakhir, mereka tertahan di Qatar setelah dievakuasi dari Afghanistan yang kini kembali dikuasai Taliban.

Masalahnya, alih-alih dibawa ke Amerika, mereka justru berpotensi dipindahkan ke negara lain yang juga dilanda krisis dan dipenuhi hutan belantara seperti Kongo.

Presiden organisasi AfghanEvac, Shawn VanDiver, langsung angkat suara. Ia menyebut rencana ini tidak masuk akal.

Baca juga :  Siapa Mojtaba Khamenei? Putra Ali Khamenei yang Kini Memimpin Iran

“Yang lainnya seharusnya langsung datang ke sini,” tegasnya seperti yang dilansir Media Inggris, The Guardian.

“Ini sebenarnya mudah diselesaikan: ‘Hei, selamat datang di Amerika.’”

Menurutnya, sekitar 900 dari 1.100 orang tersebut sebenarnya sudah memenuhi syarat untuk tinggal di AS. Bahkan, di antara mereka ada keluarga anggota militer aktif.

VanDiver juga menyoroti bahwa sebagian besar adalah kelompok rentan.

Lebih dari 700 orang adalah perempuan dan anak-anak. Sekitar 100 hingga 150 orang lainnya merupakan keluarga tentara aktif AS.

Ia pun mempertanyakan logika kebijakan tersebut.

“Ini gila—semua ini sebenarnya bisa diselesaikan hanya dengan perubahan kebijakan,” ujarnya.

Baca juga :  Iran Kutuk Serangan AS, Desak PBB dan Negara Islam Bertindak

Ia menegaskan, tidak ada aturan hukum yang menghalangi mereka masuk ke Amerika.

“Mereka bisa datang ke sini—tidak ada hukum yang melarang mereka,” tambahnya.

Sementara itu, pemerintah AS memberikan pernyataan berbeda. Juru bicara Departemen Luar Negeri menyebut pihaknya masih mencari solusi.

Mereka mempertimbangkan pemindahan ke negara ketiga sebagai opsi.

“Memindahkan kelompok ini ke negara ketiga adalah solusi positif untuk keselamatan mereka dan warga Amerika,” katanya.

Namun, ia juga mengakui kenyataan pahit yang dihadapi kelompok tersebut.

“Warga Afghanistan di kamp saat ini tidak memiliki jalur yang layak untuk masuk ke Amerika Serikat,” ujarnya.

Situasi ini semakin rumit karena Kongo sendiri sedang menghadapi krisis besar. Konflik berkepanjangan membuat jutaan orang mengungsi.

Baca juga :  Iran Ancam Invasi AS, Harga Minyak Tembus USD 107! Dunia di Ambang Krisis Energi

Artinya, jika rencana ini benar dilakukan, para warga Afghanistan akan dipindahkan dari satu krisis ke krisis lain.

Yang lebih mengkhawatirkan, jika mereka dipulangkan ke Afghanistan, risikonya sangat besar.

Menurut VanDiver, mereka bisa menghadapi ancaman serius—bahkan kematian—karena pernah bekerja sama dengan militer AS.

Kini, nasib mereka berada di titik genting.

Trump Afghanistan bukan lagi sekadar isu kebijakan luar negeri. Ini soal kemanusiaan.

Di tengah tarik ulur politik, lebih dari seribu orang masih menunggu kepastian—apakah mereka akan diselamatkan, atau justru dipindahkan ke ketidakpastian baru.