DIKSIMERDEKA.COM CARACAS – TGempa Venezuela menewaskan sedikitnya 920 orang. Pemerintah mengerahkan tim penyelamat internasional untuk mencari korban yang masih tertimbun reruntuhan di La Guaira dan Caracas.

sementara hampir 3.000 warga mengalami luka-luka. Di tengah bertambahnya korban, pemerintah berjanji akan mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin warga yang masih tertimbun reruntuhan.

Dilansir The Guardian, penjabat Presiden Venezuela Delcy Rodríguez mengatakan operasi pencarian dan penyelamatan kini diperkuat dengan kedatangan tim SAR dari berbagai negara. Fokus utama pemerintah, kata dia, adalah menemukan korban yang masih memiliki peluang untuk diselamatkan.

“Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang. Solidaritas kami bersama seluruh keluarga korban,” ujar Rodríguez saat meninjau kawasan La Guaira, wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5.

Sementara itu, Ketua Majelis Nasional Venezuela Jorge Rodríguez mengumumkan angka kematian resmi telah meningkat menjadi 920 orang. Pemerintah memperkirakan jumlah tersebut masih bisa bertambah karena ratusan warga dilaporkan belum ditemukan.

Di balik upaya penyelamatan, muncul gelombang kekecewaan dari warga yang menilai respons pemerintah berjalan lambat. Banyak keluarga korban mengaku harus melakukan pencarian secara mandiri sebelum bantuan resmi tiba.

Salah satunya dialami Rotny Bombart, seorang paramedis berusia 33 tahun. Selama lima jam ia menggali reruntuhan apartemen OPP 33 di La Guaira demi mencari ibunya, María Eugenia, yang tertimbun bangunan setinggi 15 lantai.

Baca juga :  Upaya Menghadapi Bencana Alam, Sekda Dewa Indra Tekankan Pejabat Terkait Untuk Lakukan Contigency Plan

“Dulu gedung ini memiliki 15 lantai. Sekarang tidak ada lagi yang tersisa,” ujarnya setelah menjalani perawatan akibat luka robek di lengan kanan saat membantu proses evakuasi.

Bombart mengaku pada jam-jam pertama setelah gempa hampir tidak ada petugas penyelamat pemerintah di lokasi. Akibatnya, warga sekitar terpaksa bekerja menggunakan tangan kosong dan peralatan seadanya.

“Kami memang dilatih menghadapi keadaan darurat, tetapi bukan bencana seperti ini. Tidak ada yang bisa mempersiapkan seseorang melihat tubuh-tubuh korban, anak-anak, dan bangunan yang hancur seperti ini,” katanya.

Kisah serupa datang dari Diego González yang menghabiskan waktu lebih dari empat jam menggali reruntuhan Apartemen Residencias Belo Horizonte di Catia La Mar untuk menyelamatkan sepupunya, Helari Rodríguez, 34 tahun.

“Kami berhasil mengeluarkannya dengan bantuan teman-teman. Semua orang bekerja memakai tangan kosong. Kami sangat membutuhkan alat berat. Catia La Mar benar-benar hancur. Sangat sedikit bangunan yang masih berdiri,” ujarnya.

Besarnya skala bencana membuat bantuan internasional terus berdatangan. Inggris mengirim 68 personel tim pencarian dan penyelamatan, enam anjing pelacak, serta tenaga kemanusiaan dari berbagai brigade pemadam kebakaran.

Pemerintah Inggris juga menyiapkan Tim Medis Darurat Inggris (UK Emergency Medical Team) untuk kemungkinan pengerahan tambahan dan mengucurkan bantuan kemanusiaan senilai 2 juta poundsterling.

Raja Charles III dan Ratu Camilla turut menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Venezuela.

Baca juga :  Hujan Intensitas Sedang Sampai Lebat Masih Terjadi Di Luwu Utara

“Dalam masa yang sangat sulit ini, kami menyampaikan simpati yang mendalam kepada seluruh keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta, rumah, dan mata pencaharian. Kami juga memberikan penghormatan kepada para petugas penyelamat yang bekerja tanpa lelah membantu mereka yang membutuhkan,” tulis Raja Charles dalam pesan resminya.

Dukungan juga datang dari Amerika Serikat. Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan Presiden Donald Trump telah memerintahkan pengerahan personel militer untuk membantu operasi kemanusiaan.

“Misi kami jelas, menyelamatkan nyawa dan mengirimkan bantuan penting secepat mungkin ke wilayah yang paling membutuhkan,” kata Hegseth.

Komando Selatan Amerika Serikat (US Southern Command) mengonfirmasi Mayor Jenderal Kevin J. Jarrard telah tiba di Caracas guna mengoordinasikan dukungan logistik dan operasional militer AS bagi tim pencarian dan penyelamatan.

Selain Amerika Serikat dan Inggris, sejumlah negara seperti Brasil, Kolombia, El Salvador, Meksiko, Spanyol, Prancis, Turki, dan Swiss juga mengirim bantuan kemanusiaan serta tim penyelamat.

Namun, lebih dari 36 jam setelah gempa mengguncang pesisir utara Venezuela, bantuan pemerintah dinilai belum menjangkau banyak wilayah terdampak. Kondisi itu memunculkan kritik bahwa krisis ekonomi dan dugaan korupsi selama bertahun-tahun telah melemahkan kemampuan negara menghadapi bencana besar.

Rekaman dari Rumah Sakit José María Vargas di La Guaira memperlihatkan pasien harus menunggu perawatan di area parkir karena kapasitas rumah sakit tidak lagi mencukupi.

Baca juga :  AS, Kuba, Iran hingga China Kirim Bantuan, Dunia Bersatu Bantu Venezuela

Pakar Amerika Latin dari University of North Texas at Dallas, Orlando Pérez, menilai pemerintah Venezuela terlihat tidak siap menghadapi bencana sebesar ini.

“Bencana alam selalu menunjukkan kemampuan sesungguhnya sebuah pemerintahan. Respons harus cepat, efisien, dan mampu menyelamatkan korban. Dalam kasus ini, pemerintah tampak benar-benar kewalahan,” ujarnya.

Menurut Pérez, ironisnya Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, tetapi selama bertahun-tahun justru mengalami kemunduran di sektor kesehatan dan infrastruktur.

“Mereka memiliki sumber daya, tetapi gagal mengelolanya. Banyak rumah sakit kekurangan peralatan dan obat-obatan. Kondisi ini pada akhirnya akan merenggut lebih banyak nyawa,” katanya.

Aktivis oposisi Jesús Armas menilai pemerintah seharusnya telah mengantisipasi ancaman gempa mengingat Venezuela berada di pertemuan lempeng tektonik Karibia dan Amerika Selatan.

“Gempa besar seperti ini terjadi setiap beberapa dekade. Kami seharusnya sudah siap. Namun kemarin kami melihat petugas bekerja tanpa sarung tangan, tanpa helm, bahkan tanpa peralatan yang memadai. Karena itu, Venezuela membutuhkan dukungan internasional sebesar-besarnya,” ujarnya.

Armas juga menyoroti krisis migrasi yang membuat hampir 8 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya dalam beberapa tahun terakhir.

“Banyak dokter, insinyur, serta tenaga ahli penyelamatan yang kini berada di luar negeri. Padahal, mereka sangat dibutuhkan pada saat bencana seperti sekarang. Inilah tragedi yang sesungguhnya,” pungkasnya.