DIKSIMERDEKA.COM PARIS – “Gelombang Panas Eropa tahun ini menjadi salah satu yang terparah dalam beberapa dekade terakhir. Eropa sedang menghadapi salah satu gelombang panas paling mengerikan dalam beberapa tahun terakhir. Suhu udara melonjak hingga lebih dari 40 derajat Celsius, sekolah ditutup, layanan transportasi terganggu, dan korban jiwa mulai berjatuhan.

Tragedi paling memilukan terjadi di Prancis selatan.

Dua balita berusia empat dan dua tahun ditemukan tak bernyawa di dalam mobil keluarga mereka di wilayah Carpentras, Senin (22/6). Saat itu suhu udara di kawasan tersebut mendekati 40 derajat Celsius.

Petugas penyelamat yang tiba di lokasi tidak mampu lagi menyelamatkan kedua anak tersebut.

Jaksa wilayah Carpentras, Hélène Mourges, mengatakan penyebab kematian masih dalam penyelidikan. Namun panas ekstrem menjadi dugaan terkuat.

Penyebab kematian masih belum dapat dipastikan, tetapi panas ekstrem menjadi fokus utama penyelidikan kami,” kata Mourges.

Kabar duka itu mengguncang Prancis yang saat ini sedang berjuang menghadapi cuaca ekstrem yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Bahkan sebelum tragedi dua balita tersebut terjadi, tiga warga lanjut usia berusia antara 80 hingga 95 tahun telah meninggal dunia di wilayah Bordeaux akibat gangguan kesehatan yang dipicu suhu panas ekstrem.

Baca juga :  BMKG: Musim Kemarau 2026 Lebih Panjang, Sebagian Wilayah Indonesia Mulai Kering April

Dilansir The Guardian,, sedikitnya 13 orang dilaporkan tewas tenggelam saat berusaha mencari kesegaran di pantai, sungai, dan kolam renang selama akhir pekan.

Situasi yang semakin mengkhawatirkan membuat pemerintah Prancis mengeluarkan peringatan darurat.

Sebanyak 49 departemen atau sekitar setengah wilayah daratan Prancis kini berstatus siaga merah, level peringatan tertinggi yang menunjukkan ancaman serius terhadap keselamatan manusia.

Sekitar 35 juta warga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan, menghindari paparan sinar matahari langsung, dan memperhatikan kondisi kesehatan anggota keluarga yang rentan.

Layanan meteorologi nasional Prancis, Météo-France, memperingatkan bahwa gelombang panas kali ini bukan sekadar fenomena sesaat.

Suhu yang sangat tinggi kini menetap untuk jangka waktu panjang di seluruh wilayah Prancis,” kata Météo-France.

Di Bordeaux, suhu diperkirakan mencapai 43 derajat Celsius. Limoges diprediksi menyentuh 41 derajat Celsius, sementara Paris yang biasanya lebih sejuk diperkirakan mencapai 39 derajat Celsius.

Yang membuat situasi semakin berbahaya adalah suhu malam hari yang tetap tinggi.

Alih-alih memberikan kesempatan tubuh untuk beristirahat dan menurunkan suhu, banyak kota di Prancis justru mencatat suhu minimum sekitar 25 derajat Celsius sepanjang malam.

Baca juga :  Hujan Masih Turun, Padahal El Nino? Pakar IPB Bongkar Faktanya

Akibatnya, tubuh manusia terus terpapar panas tanpa jeda.

“Banyak orang akan menderita karena tubuh manusia mengalami akumulasi tekanan akibat suhu tinggi yang berlangsung terus-menerus,” kata Menteri Kesehatan Prancis, Stéphanie Rist.

Ia mengingatkan masyarakat agar memeriksa kondisi para lansia, anak-anak, dan warga yang memiliki penyakit kronis.

“Kita sedang menghadapi setidaknya beberapa hari cuaca yang sangat, sangat panas. Kami belum mengetahui kapan suhu akan mulai menurun,” ujarnya.

Dampak gelombang panas kini terasa di berbagai sektor.

Lebih dari 1.300 sekolah ditutup, sementara sekitar 4.000 sekolah lainnya mempersingkat jam belajar.

Di Paris, sekitar 10 persen layanan kereta regional dibatalkan karena suhu tinggi berpotensi merusak rel dan sistem operasional kereta.

Namun Prancis bukan satu-satunya negara yang menderita.

Di Spanyol, suhu diperkirakan menembus 44 derajat Celsius. Pemerintah mengeluarkan peringatan merah di sejumlah wilayah setelah suhu melonjak jauh di atas rata-rata normal.

Kota San Sebastián yang biasanya memiliki cuaca relatif sejuk diperkirakan mencapai 40 derajat Celsius.

“Kami melihat suhu berada 5 hingga 10 derajat Celsius di atas normal untuk periode ini, bahkan di beberapa wilayah utara lebih dari 10 derajat di atas rata-rata,” kata juru bicara badan meteorologi Spanyol, Rubén del Campo.

Baca juga :  Kasus Hantavirus di Argentina Meledak, Ahli Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu

Di Jerman, panas ekstrem disertai badai petir memaksa penyelenggara menghentikan final turnamen tenis Berlin Open dan mengevakuasi penonton.

Belgia mencatat suhu yang disebut berpotensi menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah negara tersebut.

Sementara Inggris mengeluarkan peringatan panas ekstrem hingga Kamis dengan suhu yang diperkirakan mencapai 39 derajat Celsius, mendekati rekor nasional bulan Juni.

Italia juga ikut membara.

Sebanyak 12 kota besar, termasuk Roma, Milan, Florence, Turin, Bologna, dan Venesia, kini berada dalam status siaga merah akibat gelombang panas.

Para ilmuwan menilai peristiwa ini menjadi peringatan keras tentang dampak perubahan iklim yang semakin nyata.

Gelombang panas yang dahulu hanya muncul pada puncak musim panas kini datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan membawa konsekuensi yang semakin mematikan.

Bagi jutaan warga Eropa, pekan ini bukan lagi sekadar musim panas.

Ini adalah pertarungan melawan suhu ekstrem yang telah merenggut nyawa, melumpuhkan aktivitas, dan menunjukkan bagaimana perubahan iklim dapat mengubah cuaca menjadi ancaman mematikan.