Gempa Filipina Tewaskan 55 Orang, Kota-Kota di Mindanao Porak-Poranda
DIKSIMERDEKA.COM MANILA — Gempa Filipina berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang Pulau Mindanao pada Selasa (9/6/2026) itu menewaskan sedikitnya 55 orang dan menyebabkan ribuan warga mengungsi. Bencana ini menjadi gempa terkuat yang melanda negara tersebut dalam hampir 50 tahun terakhir.
Menjelang tengah malam, tim penyelamat akhirnya berhasil mengevakuasi jasad seorang korban dari reruntuhan toko kelontong yang ambruk akibat gempa. Tangis keluarga korban pecah ketika jenazah berhasil ditemukan.
“Meskipun tragis, setidaknya keluarga memiliki jasad yang bisa dimakamkan,” kata Rene Baliong, kepala tim pencarian dan penyelamatan.
Selama beberapa hari terakhir, tim penyelamat bekerja tanpa henti menyisir puing-puing bangunan di Kota General Santos, salah satu kota terbesar di Mindanao. Semangat mereka sempat terangkat setelah berhasil menemukan seorang korban dalam keadaan hidup pada Selasa (9/6) lalu.

Namun hingga kini, puluhan orang masih dinyatakan hilang.
Korban dan Pengungsi Terus Bertambah
Data terbaru menunjukkan sedikitnya 55 orang meninggal dunia dan sekitar 1.120 orang mengalami luka-luka akibat gempa tersebut.
Dari laporan AFPLebih dari 45.000 warga terpaksa mengungsi, sebagian besar karena peringatan tsunami yang sempat dikeluarkan setelah gempa mengguncang wilayah selatan Filipina.
Gempa dipicu oleh aktivitas di Palung Cotabato dan menjadi yang terkuat sejak gempa berkekuatan 8,1 magnitudo pada 17 Agustus 1976 yang juga berasal dari kawasan bawah laut yang sama.
Menurut Direktur Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina, Teresito Bacolcol, gempa tahun 1976 tersebut memicu tsunami besar yang menewaskan ribuan orang.
Longsor dan Bangunan Runtuh
Kerusakan akibat gempa terjadi di berbagai wilayah Mindanao.
Di Kota Glan yang berada di daerah pegunungan, longsor menimbun sejumlah rumah dan menewaskan sedikitnya 18 orang.
Sementara itu di General Santos, sedikitnya 13 orang meninggal dunia setelah sejumlah bangunan runtuh.
Sebanyak 19 bangunan komersial besar mengalami kerusakan, termasuk pusat perbelanjaan dan hotel. Selain itu, lebih dari 19.000 rumah warga dilaporkan rusak.
Pemerintah Filipina saat ini fokus menyediakan bantuan darurat berupa makanan dan sistem penyaringan air bersih setelah jaringan pipa kota rusak akibat gempa.
Warga Kesulitan Mendapatkan Kebutuhan Pokok
Sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan makanan dan air minum karena pusat perbelanjaan besar masih ditutup untuk pemeriksaan keamanan bangunan.
“Saya berkeliling kota mencari supermarket yang masih buka untuk membeli makanan dan air,” kata Rufa Cagoco Guiam, dosen universitas yang tinggal di General Santos.
Trauma Psikologis Menghantui Korban
Selain kerusakan fisik, gempa juga meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat, terutama anak-anak.
Menurut Drew Strobel dari Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), dampak psikologis bencana sering kali kurang mendapat perhatian.
“Saya rasa kita sering meremehkan dampak kesehatan mental dari gempa seperti ini, terutama terhadap anak-anak. Kami sudah melihat banyak warga mengalami trauma akibat peristiwa tersebut,” ujarnya.
Gempa terjadi tepat saat para siswa bersiap kembali ke sekolah setelah libur musim panas selama dua bulan.
Meski belum masuk kelas, banyak siswa menyaksikan gedung sekolah mereka berguncang ketika sedang berkumpul di lapangan untuk menyanyikan lagu kebangsaan.
Sedikitnya 10 sekolah mengalami kerusakan dan sekitar 6.000 siswa masih belum dapat kembali belajar karena proses inspeksi keamanan bangunan masih berlangsung.
Ancaman Cuaca Perburuk Pemulihan
Palang Merah kini menyediakan layanan dukungan psikologis, makanan hangat, serta membantu proses penyelamatan dan pemulihan ekonomi masyarakat.
Namun tantangan pemulihan diperkirakan semakin berat akibat ancaman cuaca ekstrem.
Pemerintah memperingatkan bahwa fenomena El Niño yang dipadukan dengan angin muson barat daya dapat memicu banjir sekaligus kekeringan berkepanjangan di beberapa wilayah.
Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi Mindanao.
Wilayah tersebut merupakan salah satu sentra produksi beras terbesar di Filipina, sementara perkebunan kelapa menjadi sumber penghidupan utama masyarakat di Provinsi Sarangani.
“Ini adalah sumber mata pencaharian utama masyarakat. Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dan kerusakan infrastruktur akibat gempa, kami harus bersiap menghadapi tantangan yang lebih besar,” kata Rodrigo Sosmeña, Direktur Regional Kantor Pertahanan Sipil Filipina.
Menurutnya, proses membangun kembali kehidupan masyarakat pascagempa tidak akan mudah.
“Memungut kembali kepingan-kepingan kehidupan setelah gempa bukanlah pekerjaan yang mudah,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan