Trump : Perdamaian AS-Iran Tinggal Diteken
DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON— Amerika Serikat dan Iran sama-sama menyatakan bahwa kesepakatan damai semakin dekat setelah berminggu-minggu melakukan negosiasi intensif. Namun, masih terdapat sejumlah pertanyaan penting yang belum terjawab karena Washington dan Teheran memberikan gambaran berbeda mengenai isi kerangka perjanjian yang akan ditandatangani.
Gedung Putih menunjukkan optimisme tinggi terhadap peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran. Pemerintahan Presiden Donald Trump bahkan meyakini kesepakatan tersebut akan mendapat dukungan dari para pemimpin Iran maupun Israel.
Perundingan selama beberapa pekan terakhir difokuskan pada isu-isu paling sensitif, termasuk masa depan program nuklir Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, hingga pencabutan sanksi ekonomi.

Sebagian Besar Poin Sudah Disepakati
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan bahwa mayoritas isu dalam negosiasi telah mencapai titik temu.
“Saat ini pemahaman telah tercapai mengenai sebagian besar persoalan dan kami berada pada tahap akhir pembahasan internal,” kata Baghaei dilansir CNN.Jumat (12/6/2026)
Ia menambahkan bahwa berbagai lembaga terkait di Iran masih menggelar rapat untuk membahas detail akhir sebelum keputusan resmi diumumkan.
Pernyataan tersebut sejalan dengan optimisme yang sebelumnya disampaikan pejabat senior pemerintahan Trump. Meski demikian, Washington mengakui masih ada sejumlah rincian teknis yang harus diselesaikan.
Memorandum Kesepahaman Segera Ditandatangani
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa memorandum kesepahaman (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat dapat ditandatangani dalam beberapa hari ke depan.
Menariknya, penandatanganan tidak harus dilakukan melalui pertemuan langsung.
“Dokumen tersebut dapat ditandatangani secara jarak jauh oleh kedua pihak dan diumumkan setelah tahap akhir negosiasi selesai,” kata Araghchi dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran.
Sementara itu, seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa setelah MoU ditandatangani, kedua negara akan memasuki tahap negosiasi teknis selama 60 hari untuk membahas implementasi dan menyelesaikan persoalan yang masih tersisa.
Selat Hormuz Akan Beroperasi dengan Aturan Baru
Salah satu poin penting dalam kesepakatan adalah masa depan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Araghchi mengatakan Iran dan Oman akan segera mengeluarkan pernyataan bersama terkait pengelolaan selat tersebut.
Menurutnya, Selat Hormuz tidak akan kembali beroperasi seperti sebelum perang.
“Iran tidak akan mengenakan tarif tol, tetapi akan menerapkan biaya layanan bagi kapal-kapal yang melintas,” ujarnya.
Pernyataan ini berbeda dengan gambaran yang sebelumnya disampaikan sejumlah pejabat Amerika Serikat yang menyebut kesepakatan akan mencakup pembukaan penuh Selat Hormuz dan pencabutan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Program Nuklir dan Sanksi Jadi Fokus Utama
Selain Selat Hormuz, memorandum kesepahaman juga akan mencakup isu program nuklir Iran dan pelonggaran sanksi ekonomi yang selama ini diterapkan Amerika Serikat.
Araghchi menjelaskan bahwa kedua isu tersebut menjadi inti dari pembahasan yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
Pemerintah Iran berharap pencabutan sanksi dapat membantu memulihkan perekonomian negara yang selama bertahun-tahun tertekan akibat pembatasan perdagangan dan akses keuangan internasional.
Konflik Lebanon Ikut Dibahas
Dalam perkembangan yang cukup mengejutkan, Iran menyebut kesepakatan juga akan memuat mekanisme penyelesaian konflik di Lebanon.
“Kesepakatan ini mencakup penyelesaian konflik Lebanon dan seluruh front lainnya,” kata Araghchi.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perundingan tidak hanya berfokus pada hubungan bilateral AS-Iran, tetapi juga menyentuh konflik regional yang lebih luas di Timur Tengah.
Trump Kesal dengan Pemberitaan Iran
Meski optimistis, Presiden Donald Trump dilaporkan sempat melontarkan kritik terhadap sejumlah laporan media pemerintah Iran yang dinilai berbeda dengan versi Amerika Serikat mengenai isi kesepakatan.
Perbedaan narasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana kedua pihak benar-benar telah mencapai kesepahaman.
Hingga kini juga belum ada kepastian apakah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah memberikan persetujuan final terhadap kerangka perjanjian tersebut.
Namun berbagai sinyal dari Teheran maupun Washington menunjukkan bahwa kedua negara sedang berada pada tahap paling dekat menuju kesepakatan dibandingkan periode-periode sebelumnya.
Jika berhasil diwujudkan, perjanjian ini berpotensi menjadi salah satu terobosan diplomatik terbesar di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir dan membuka jalan bagi normalisasi hubungan antara Amerika Serikat dan Iran setelah puluhan tahun ketegangan.

Tinggalkan Balasan