DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA– Belfast kembali menjadi sorotan setelah gelombang kerusuhan melanda sejumlah wilayah di Irlandia Utara. Kerusuhan Belfast pecah setelah aksi protes terkait kasus penikaman berubah menjadi kekerasan yang menargetkan kendaraan, rumah warga, dan pertokoan.

Gelombang kerusuhan melanda sejumlah wilayah di Irlandia Utara setelah aksi protes terkait kasus penikaman berubah menjadi kekerasan. Massa membakar kendaraan, menyerang rumah-rumah warga, serta menjarah sejumlah toko di Belfast dan daerah sekitarnya.

Dilansir dari The Guardian, kerusuhan pecah pada Selasa (9/6) malam hanya beberapa jam setelah polisi mendakwa seorang pencari suaka asal Sudan berusia 30 tahun atas tuduhan percobaan pembunuhan terkait insiden penikaman yang terjadi di Belfast Utara sehari sebelumnya.

Korban dalam peristiwa penikaman tersebut dilaporkan mengalami luka serius dan masih menjalani perawatan intensif.

Asisten Kepala Kepolisian Irlandia Utara Ryan Henderson mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan tidak terprovokasi.

“Kami mendesak semua pihak untuk tetap tenang, bertindak secara bertanggung jawab, dan menghindari aktivitas yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain,” ujarnya.

Baca juga :  KBRI Damaskus Pulangkan 102 Pekerja Migran Indonesia dan 2 Bayi dari Suriah

Rumah dan Kendaraan Dibakar

Kerusuhan menyebabkan sejumlah kendaraan dibakar di kawasan Newtownards Road, Shankill Road, dan Newtownabbey.

Sebuah bus Glider dilaporkan dibajak sebelum akhirnya dibakar massa.

Di beberapa lokasi, kelompok perusuh menyerang rumah-rumah yang dihuni keluarga dari kelompok etnis minoritas. Beberapa toko dijarah, sementara sebuah toko milik warga Afrika dilaporkan dibakar.

Api dan asap tebal terlihat membubung di sejumlah titik saat petugas pemadam kebakaran berupaya mengendalikan situasi.

Pemimpin Irlandia Utara Kecam Kekerasan

Menteri Pertama Irlandia Utara, Michelle O’Neill, mengecam keras aksi kekerasan yang terjadi.

“Kelompok pria bertopeng yang membakar rumah-rumah keluarga adalah tindakan pengecut yang menjijikkan. Ini tidak ada hubungannya dengan komunitas. Ini adalah aksi premanisme murni,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh provokasi di media sosial yang berupaya memanfaatkan kasus penikaman untuk memicu ketegangan rasial.

Senada dengan itu, anggota parlemen Sinn Féin untuk Belfast Utara, John Finucane, menyebut kerusuhan tersebut sebagai peristiwa memalukan yang merusak kehidupan masyarakat.

Baca juga :  KBRI Damaskus Pulangkan 102 Pekerja Migran Indonesia dan 2 Bayi dari Suriah

Polisi: Tidak Terkait Terorisme

Kepala Kepolisian Irlandia Utara, Jon Boutcher, menjelaskan bahwa tersangka merupakan warga Sudan yang memperoleh izin tinggal di Inggris pada September 2023.

Menurut polisi, tidak ditemukan indikasi keterlibatan tersangka dengan kelompok ekstremis maupun jaringan terorisme.

“Pada tahap ini kami tidak memiliki informasi yang menunjukkan bahwa insiden ini terkait dengan terorisme,” tegas Boutcher.

Polisi juga memperingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar secara anonim di internet.

Komunitas Imigran Ketakutan

Meningkatnya ketegangan membuat komunitas imigran di Belfast diliputi rasa takut.

Sejumlah pemilik usaha asal Sudan memilih menutup toko lebih awal dan tetap berada di rumah demi alasan keamanan.

Sementara itu, Pusat Islam Belfast memutuskan membatalkan sejumlah kegiatan keagamaan karena khawatir terjadi gangguan keamanan.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengecam serangan penikaman maupun kerusuhan yang menyusul setelahnya.

“Saya sama sekali tidak menoleransi adegan kekerasan yang mengerikan seperti ini di jalan-jalan kita,” katanya.

Media Sosial Jadi Sorotan

Kasus ini semakin meluas setelah video penikaman beredar luas di media sosial.

Baca juga :  KBRI Damaskus Pulangkan 102 Pekerja Migran Indonesia dan 2 Bayi dari Suriah

Tokoh sayap kanan Inggris, Tommy Robinson, membagikan video tersebut dan menyerukan demonstrasi di berbagai kota.

Sementara itu, Elon Musk ikut menjadi sorotan setelah membagikan unggahan terkait lokasi demonstrasi dan menyerukan aksi protes berulang kali.

Para pengamat menilai peristiwa Belfast menunjukkan bagaimana sebuah kasus kriminal dapat berkembang menjadi kerusuhan besar ketika diperkuat oleh narasi politik dan penyebaran informasi di media sosial.

Menurut Direktur Riset organisasi antiekstremisme Hope Not Hate, Joe Mulhall, pola seperti ini sebelumnya telah berulang dalam berbagai kasus di Inggris.

“Peristiwa kriminal kemudian dikaitkan dengan narasi yang menyalahkan migrasi massal sebagai penyebab utama masalah,” ujarnya.

Pengamat keamanan menilai kerusuhan Belfast menunjukkan meningkatnya pengaruh media sosial dalam memobilisasi massa dalam waktu singkat. Penyebaran video, informasi yang belum terverifikasi, dan narasi provokatif dinilai mempercepat eskalasi situasi di lapangan. Aparat keamanan kini berupaya memulihkan ketertiban sekaligus mencegah meluasnya ketegangan sosial yang dapat memicu aksi serupa di wilayah lain di Irlandia Utara maupun Inggris.