Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Akademisi IPB Bongkar Faktanya
DIKSIMERDEKA.COM BOGOR-Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diklaim tembus 5,61 persen malah memantik tanda tanya besar di publik.
Sebab di tengah klaim “tertinggi dalam 13 tahun terakhir” versi Badan Pusat Statistik (BPS), banyak rakyat justru merasa hidup makin berat.
Harga kebutuhan pokok masih bikin megap-megap, lapangan kerja belum stabil, sementara daya beli masyarakat belum benar-benar pulih.

Akademisi IPB University, Irfan Syauqi Beik, ikut angkat suara soal polemik ini.
Menurutnya, perdebatan soal pertumbuhan ekonomi tidak bisa cuma dilihat dari angka Produk Domestik Bruto (PDB).
“Ini bukan persoalan permainan kata, tetapi memiliki makna filosofis yang mendalam pada konteks pembangunan ekonomi,” ujar Irfan dilansir laman resmi IPB news.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB itu menjelaskan ada tiga model pertumbuhan ekonomi.
Pertama, pertumbuhan klasik yang hanya mengejar kenaikan angka PDB. Masalahnya, model ini sering membuat kekayaan cuma berputar di kelompok elite.
“Top satu persen populasi yang paling banyak menikmati kue ekonomi yang ada,” katanya.
Akibatnya, ekonomi memang tampak tumbuh di atas kertas, tapi jurang kaya-miskin justru makin lebar.
Irfan bahkan menyebut kondisi ini seperti membangun gedung pencakar langit di atas pondasi rapuh.
Yang kedua adalah growth with equity atau pertumbuhan dengan pemerataan.
Di model ini pemerintah mulai masuk lewat bansos, subsidi, hingga pajak progresif agar daya beli masyarakat tetap hidup.
Namun menurut Irfan, rakyat miskin di model ini tetap hanya dijadikan objek penerima bantuan.
“Begitu masuk sisi penawaran, maka yang tetap menguasai adalah para pemegang modal,” terangnya.
Nah, konsep ketiga inilah yang disebut paling ideal: growth through equity alias pertumbuhan melalui pemerataan.
Dalam model ini, pemerataan bukan efek samping pertumbuhan, tapi justru menjadi mesin utamanya.
UMKM, usaha kecil, zakat, wakaf, pendidikan, hingga akses pembiayaan masyarakat harus menjadi fondasi utama ekonomi nasional.
“Pertumbuhan melalui pemerataan akan menciptakan keadilan dan inklusivitas ekonomi,” tegas Irfan.
Ia mengingatkan UMKM jangan cuma dijadikan pelengkap ekonomi nasional.
Kalau ekonomi hanya ditopang konglomerat besar, rakyat kecil cuma kebagian remah-remah pertumbuhan.
Irfan juga menyinggung program strategis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kampung Nelayan Merah Putih.
Menurutnya, program itu bisa jadi mesin pemerataan ekonomi kalau benar-benar melibatkan pelaku usaha kecil.
Namun jika dikuasai kelompok besar, ketimpangan justru bakal makin menjadi-jadi.
“Kalau tidak, maka ketidakmerataan akan semakin besar, dan kelompok kayalah yang akan menikmati kue terbesarnya,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan