Rupiah Nyaris Rp17.700, Daya Beli Kelas Menengah Terpuruk
DIKSIMERDEKA.COM JOGJAKARTA-Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali ngos-ngosan. Pada perdagangan Senin (19/5) pagi, mata uang Garuda diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.590 hingga Rp17.710 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tekanan yang dalam beberapa pekan terakhir bikin publik makin waswas terhadap kondisi ekonomi nasional.
Yang paling terasa terpukul? Kelas menengah. Kelompok yang selama ini hidup pas-pasan dalam kategori “cukup”, tetapi belum punya bantalan finansial kuat, kini mulai menghadapi ancaman nyata. Pelemahan rupiah bukan lagi sekadar angka di pasar keuangan, melainkan mulai menggerus daya beli, nilai tabungan, investasi, hingga rasa aman ekonomi masyarakat.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Arie Sujito,menilai tekanan rupiah langsung menghantam kehidupan sosial ekonomi masyarakat, terutama kelas menengah perkotaan. Kenaikan harga kebutuhan hidup membuat banyak keluarga harus putar otak menyusun ulang pengeluaran rumah tangga.

Menurut Arie, masyarakat kini mulai mengencangkan ikat pinggang. Belanja kebutuhan sekunder perlahan dikurangi demi menjaga kestabilan ekonomi keluarga. Situasi ini juga memunculkan rasa tidak aman karena nilai cadangan ekonomi masyarakat terus tergerus.
Arie mengungkapkan tekanan ekonomi global makin memperbesar kerentanan ekonomi Indonesia. Konflik geopolitik internasional, termasuk perang Iran-Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya, ikut memicu kenaikan harga minyak dunia dan biaya kebutuhan di dalam negeri.
Menurutnya, negara kini menghadapi tantangan berat untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan subsidi bagi masyarakat. Kelompok kelas menengah dan masyarakat bawah disebut menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya.
“Kalau negara tidak memiliki kemampuan mengatasi secara cepat, dampaknya akan beruntun,” ungkapnya, Selasa (19/5).
Arie mengingatkan, tekanan ekonomi yang terus berlarut bisa melebar menjadi persoalan sosial. Ketika masyarakat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan primer, dampaknya tidak lagi sekadar urusan dapur rumah tangga.
“Kalau sudah masuk ke kebutuhan primer itu akan punya dampak secara sosial,” jelasnya.
Ia menilai kerentanan sosial akan makin besar bila fondasi ekonomi nasional tidak cukup kuat menghadapi tekanan global berkepanjangan.
Meski pemerintah sudah menjalankan berbagai program perlindungan sosial, Arie menilai langkah tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan di lapangan. Ia melihat ada jurang antara kebijakan pemerintah dengan kenyataan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
“Terjadi diskoneksi antara upaya-upaya program yang dilakukan itu dengan krisis yang terjadi,” tuturnya.
Arie juga menyoroti makin mengecilnya kapasitas fiskal negara dan daerah. Penurunan transfer fiskal dari pusat membuat banyak daerah mulai megap-megap membiayai pembangunan dan pelayanan publik.
Dampaknya mulai terasa di sektor pendidikan yang harus menghadapi pemangkasan anggaran dan keterbatasan pembiayaan. Dalam kondisi seperti ini, berbagai institusi dipaksa bertahan di tengah tekanan ekonomi yang makin berat.
Lebih jauh, Arie mengingatkan krisis ekonomi yang dibiarkan tanpa solusi berpotensi berkembang menjadi krisis sosial bahkan politik. Tekanan yang menghantam kelas menengah disebut bisa memicu efek domino terhadap kelompok masyarakat bawah yang daya tahannya lebih rapuh.
Ia meminta pemerintah segera menyiapkan langkah strategis dan kebijakan darurat agar dampak krisis tidak meluas.
“Apabila tekanan ekonomi terus menumpuk tanpa solusi yang jelas, kondisi ini dikhawatirkan memengaruhi stabilitas sosial dan kepercayaan masyarakat terhadap negara,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan