BI Optimis 2023 Ekonomi Bertumbuh Meski Terancam Krisis Global
DIKSIMERDEKA.COM, BADUNG, BALI – Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Republik Indonesia, Dody Budi Waluyo mengatakan optimistis ekonomi Indonesia akan bertumbuh pada tahun 2023, kendati situasi Global cenderung belum stabil dan adanya prediksi ancaman krisis pada tahun depan.
Hal ini ia ungkapkan saat ditemui pada acara Flagship Diseminasi Laporan Nusantara Serta Launching Buku Manufaktur dan Pariwisata : Inovasi Untuk Stabilisasi dan Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan, di Nusa Dua, Jumat (18/11/2022).
Menurutnya, prediksi tahun 2023 akan terjadi krisis berangkat dari asumsi bahwa perang antara Rusia-Ukraina belum akan berhenti sehingga dampaknya pun tetap berlangsung dan masalahnya nampak akan lebih berat.
“Masalah pertama (Dari perang) yaitu distorsi dari suplai barang itu jelas akan mempengaruhi kesedian barang secara global, kemudian gangguan pada pangan karena ekspor dari Ukraina dan Rusia dibatasi, termasuk energi,” terangnya.
Menurut Dody, semua masalah tersebut akan mengakibatkan terjadinya peningkatan harga barang dan akan direspon dengan kenaikan suku bunga yang lebih tinggi oleh negara dan pada giliranya terjadi perlambatan ekonomi.
“Disamping itu dampaknya akan ada di sektor keuangan. Sektor keuangan juga pasti akan terpengaruh oleh korporasi debitur yang mungkin akan terganggu dari sisi pembayarannya,” ungkapnya.
Kendati demikian, melalui kebijakan sinergitas dan koordinasi oleh lintas otoritas dari moneter, fiskal, sektor rill, menurutnya Indonesia dapat terus menjaga momentum pemulihan ekonomi paska Pandemi Covid-19.
“Kita baru saja dapat merilis angka pertumbuhan yang cukup signifikan bahkan di luar ekspektasi pasar. Kita juga melihat angka inflasi kita kendati tinggi kita berharap bertahap turun. Kita juga melihat dari sisi eksport Kita masih juga surplus,” ujarnya.
Disamping itu, jika nanti ekspor Indonesia melemah akibat resesi global tahun 2023, menurutnya sudah ada beberapa sektor yang bisa menggantikan, seperti permintaan domestik, konsumsi dan investasi.
“Ditengah ekspor yang melambat, dukungan permintaan domestik, konsumsi dan investasi menjadi penting di tengah ekspor melambat jadi ada yang bisa menggantikan,” katanya.

Tinggalkan Balasan