DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Bali mencatat realisasi investasi pada Januari-Maret 2026 atau triwulan I mencapai Rp13,31 triliun. Angka itu setara 28 persen dari target investasi Bali tahun 2026 sebesar Rp47,93 triliun.

Kepala DPMPTSP Bali I Ketut Sukra Negara mengatakan capaian investasi awal tahun ini menunjukkan tren pertumbuhan positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Kalau kita lihat year to year di triwulan I, angka ini termasuk naik. Mudah-mudahan menjadi tren positif sampai triwulan IV,” kata Sukra Negara, Rabu, (6/05/2026).

Adapun Pemerintah Provinsi Bali pada 2026 menargetkan total investasi sebesar Rp47,93 triliun, meningkat dibanding target 2025 sebesar Rp45 triliun.

Baca juga :  Tingkatkan Pelayanan, DPMPTSP Bali Gelar Konsultasi Publik

Sukra mengatakan dari total realisasi triwulan I, investasi asing masih mendominasi. Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat mencapai Rp9,04 triliun atau 19 persen dari target tahunan, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 11.648 orang.

Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp4,27 triliun atau 9 persen dari target tahunan, dengan serapan tenaga kerja justru sedikit lebih tinggi, yakni 12.053 orang.

Secara keseluruhan, realisasi investasi pada triwulan I berkontribusi pada penyerapan 23.701 tenaga kerja.

Meski PMA nilainya lebih besar hampir dua kali lipat dibanding PMDN, investasi domestik dinilai lebih padat karya karena menyerap tenaga kerja lebih banyak.

Baca juga :  Tingkatkan Pelayanan, DPMPTSP Bali Gelar Konsultasi Publik

Lebih lanjut, Sukra mengatakan berdasarkan sebaran wilayah, investasi masih terkonsentrasi di kawasan Bali selatan atau Sarbagita.

Kabupaten Badung menjadi kontributor terbesar investasi asing dengan realisasi Rp5,99 triliun atau sekitar 25 persen dari target daerah. Sementara untuk PMDN, Badung juga mendominasi dengan nilai Rp2,51 triliun.

Selain Badung, investasi cukup tinggi tercatat di Kabupaten Gianyar dengan PMA Rp1,32 triliun dan PMDN Rp703 miliar, serta Kota Denpasar dengan PMA Rp824 miliar dan PMDN Rp561 miliar.

Sebaliknya, sejumlah daerah di luar Bali selatan masih mencatat realisasi investasi relatif rendah. Kabupaten Klungkung, misalnya, membukukan PMA Rp311 miliar, namun PMDN baru Rp16,2 miliar atau sekitar 1 persen dari target. Capaian serupa juga terlihat di Bangli, Karangasem, dan Jembrana.

Baca juga :  Tingkatkan Pelayanan, DPMPTSP Bali Gelar Konsultasi Publik

Sukra Negara mengakui masih terjadi ketimpangan investasi antarwilayah di Bali. Menurut dia, sebagian besar modal masih masuk ke sektor pariwisata yang terkonsentrasi di wilayah Sarbagita.

“Investasi kita memang masih dominan di wilayah Serbagita, pergerakanya itu hampir 93 persen diwilayah Serbagita. Sementara sisanya 7 persen di lur serbagita seperti di Jembrana. Ini menjadi permasalahan. sehingga langkahnya adalah bagaimana mendorong pemerataan investasi ke kabupaten lain,” ujarnya.

Reporter: Agus Pebriana