DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA-Upaya damai di Timur Tengah terancam runtuh. Saat Pakistan mencoba menjembatani Iran dan Amerika, bom Israel justru menghantam target sipilmembuat peluang negosiasi makin tipis.

Dilansir dari The Guardianl Israel melancarkan serangan ke berbagai target di Iran,termasuk fasilitas sipil.Dua pabrik baja terbesar dihantam. Situs nuklir sipil ikut diserang. Bahkan dua universitas dilaporkan terkena dampak.

Langkah ini dinilai sebagai pukulan langsung terhadap peluang diplomasi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai serangan tersebut bertentangan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menjanjikan jeda serangan untuk membuka ruang dialog.

Di tengah situasi ini, Pakistan mencoba memainkan diplomasi berisiko tinggi.Dengan posisi relatif netral dan hubungan baik dengan Iran serta Amerika, Islamabad berusaha menjadi tuan rumah perundingan.

Baca juga :  Israel Ngamuk Lagi! Netanyahu Tegaskan Tak Ada Gencatan Senjata di Lebanon

Namun tantangannya besar.

Kepercayaan hampir tidak ada. Posisi kedua pihak sangat jauh.

Dan satu faktor kunci yang dikhawatirkan menjadi pengganggu: Israel.

Pejabat Pakistan menilai serangan terhadap target non-militer justru berpotensi menggagalkan negosiasi sejak awal.

Seorang mantan duta besar Pakistan untuk AS, Maleeha Lodhi, bahkan menyebut masalah utama ada pada ketidakpercayaan terhadap Washington.

“Bagian tersulit adalah mempercayai kata-kata Trump. Dia bukan pemain yang rasional. Dia sangat tidak bisa diprediksi,” ujarnya.

Sementara itu, Trump tetap bersikeras bahwa Iran ingin kesepakatan.

Namun Teheran membalas dengan nada sinis.

“Ia bernegosiasi dengan dirinya sendiri,” kata pihak Iran.

Bagi Iran, yang dibutuhkan bukan sekadar gencatan senjata.Mereka menginginkan jaminan bahwa perang benar-benar berakhir—dan tidak akan ada serangan lagi dari AS maupun Israel.

Baca juga :  Iran Bantah Deal Hormuz, Israel Siap Gempur Lebanon

Salah satu opsi yang muncul adalah Iran tetap menguasai Selat Hormuz.

Namun ide ini langsung ditolak oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Menariknya, Trump justru membuka kemungkinan pengelolaan bersama selat tersebut.

Di sinilah konflik kepentingan mulai terlihat.

Pakistan sendiri mencoba menjembatani perbedaan itu.Perdana Menteri Shehbaz Sharif bahkan telah berbicara langsung dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Negara-negara seperti Turki, Mesir, dan Arab Saudi juga ikut dilibatkan dalam pembicaraan di Islamabad.

Blok baru dunia Muslim mulai terbentuk.

Namun realitas di lapangan tetap keras.

Arab Saudi, yang menjadi target serangan Iran, secara diam-diam disebut masih ingin serangan terhadap Iran terus berlanjut.

Di sisi lain, Amerika justru memperkuat militernya.

Baca juga :  AS Kirim Utusan ke Pakistan, Iran Justru Bantah Negosiasi Damai

Pentagon dilaporkan mempertimbangkan pengiriman tambahan 10.000 tentara, di luar 7.000 pasukan yang sudah bergerak ke Timur Tengah.

Sinyalnya jelas: opsi militer belum ditutup.

Wakil Presiden AS JD Vance memberi gambaran situasi sebenarnya.

“Presiden akan terus melanjutkan ini sedikit lebih lama untuk memastikan bahwa ketika kita pergi, kita tidak perlu kembali lagi dalam waktu yang sangat lama,” ujarnya.

Artinya, perang belum akan selesai dalam waktu dekat.

Bagi Pakistan, situasi ini sangat berbahaya.

Dengan perjanjian pertahanan bersama Arab Saudi, Islamabad berpotensi terseret langsung ke konflik.

Padahal negara itu berbatasan langsung dengan Iran dan memiliki populasi Syiah besar.

Jika perang meluas, dampaknya bukan hanya regional—tetapi bisa menjadi konflik besar dunia.