DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, ANTRABEZ, sebuah grup band yang terdiri dari warga binaan Lapas Kelas II A Kerobokan, Denpasar, menghadirkan karya spesial berjudul “Bali Menyepi”.

Lagu ini lahir dari perenungan tentang keheningan, refleksi diri, serta relasi antara manusia dan semesta yang menjadi makna utama perayaan Nyepi di Bali. Melalui karya tersebut, ANTRABEZ mencoba menangkap momen langka ketika alam kembali “bernapas” tanpa beban ego manusia.

Lirik-lirik yang jujur dan kontemplatif menggambarkan kontras antara dunia yang kerap “tersiksa oleh ego” dan Bali yang kembali menemukan kesunyian sucinya. Nuansa reflektif ini sekaligus mengajak pendengar untuk memaknai kembali arti keheningan sebagai ruang untuk merenung dan menyelaraskan diri.

ANTRABEZ juga mengangkat nilai utama perayaan Nyepi melalui empat prinsip Catur Brata Penyepian yang tersirat dalam lirik lagu, yakni Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelanguan, dan Amati Lelungan. Nilai-nilai tersebut menjadi ajakan untuk sejenak berhenti dari aktivitas duniawi, mengamati diri, serta menyelaraskan kembali hubungan manusia dengan alam semesta.

Baca juga :  Gubernur Koster Rakor bersama FKUB Bahas Nyepi dan Idul Fitri: Tekankan Harmoni dan Toleransi

Menanggapi karya tersebut, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Bali, Decky Nurmansyah, mengapresiasi lahirnya lagu “Bali Menyepi”.

Menurutnya, karya musik itu menunjukkan bahwa kreativitas dapat tumbuh dari proses pembinaan yang memberi ruang bagi warga binaan untuk mengekspresikan diri.

“Harmonisasi lagu, notasi, dan ekspresi dari Bali Menyepi adalah hasil dari sebuah kontemplasi. Karya ini menunjukkan bahwa dari proses pembinaan bisa lahir kreativitas yang sarat nilai spiritual dan kemanusiaan,” ujarnya saat Konfrensi Pers launching karya ANTRABEZ, bertempat di Lapas Kerobokan, Senin (16/03/2026).

Baca juga :  Prajaniti Bali Usulkan Nyepi Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Ia menegaskan bahwa jajaran pemasyarakatan terus berupaya menjalankan pembinaan dengan pendekatan yang tulus dan berorientasi pada masa depan warga binaan. Melalui berbagai ruang kreatif yang dibuka di lembaga pemasyarakatan, warga binaan didorong untuk berkarya sekaligus membangun kembali kehidupan mereka setelah menjalani proses hukum.

“Kami ingin negara hadir untuk mendampingi warga binaan yang sedang menjalani proses pemulihan hidupnya. Kreativitas seperti ini menjadi salah satu jalan untuk membangun kembali masa depan mereka,” kata Decky.

Lebih lanjut, ia menilai lagu “Bali Menyepi” tidak hanya menggambarkan keheningan Nyepi, tetapi juga menyampaikan pesan tentang harmoni dan toleransi kehidupan beragama di Bali. Menurutnya, karya tersebut dapat menjadi pengingat bahwa keberagaman dapat disatukan melalui nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan.

Baca juga :  Nyepi Hening, Idul Fitri Khidmat, Koster: Bali Tunjukan Toleransi Nyata

“Bagi saya, Bali Menyepi adalah refleksi tentang bagaimana kita membangkitkan toleransi kehidupan beragama di Bali, sekaligus mengajak masyarakat merasakan keindahan menjalankan ibadah dengan penuh kedamaian,” ungkapnya.

Decky pun mengajak masyarakat, termasuk media, untuk memberikan dukungan terhadap karya-karya kreatif yang lahir dari proses pembinaan di lembaga pemasyarakatan.

Dukungan tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi warga binaan untuk terus berkarya sekaligus memperkuat upaya rekonstruksi kehidupan mereka di masa depan.

“Kita butuh dukungan dari semua pihak. Ketika ada karya dan hasil yang baik, mari kita apresiasi dan kita dukung agar mereka terus berkarya,” ungkapnya.

Reporter: Agus Pebriana