Siapa Mojtaba Khamenei? Putra Ali Khamenei yang Kini Memimpin Iran
DIKSIMERDEKA.COM, TEHERAN– Iran resmi memiliki pemimpin tertinggi baru. Mojtaba Khamenei, putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei, dipilih sebagai penerus kepemimpinan Republik Islam Iran. Keputusan tersebut diumumkan oleh lembaga ulama yang bertugas menentukan pemimpin tertinggi negara itu.
Dalam pengumuman yang dirilis Minggu waktu setempat, lembaga ulama Iran menyatakan Mojtaba Khamenei terpilih melalui pemungutan suara yang disebut sebagai “suara yang menentukan.”
Lembaga tersebut juga menyerukan rakyat Iran untuk bersatu mendukung kepemimpinan baru di tengah situasi negara yang sedang menghadapi perang besar.
“Majelis menyerukan seluruh rakyat Iran, khususnya para elite dan intelektual di kalangan seminari dan universitas, untuk memberikan kesetiaan kepada kepemimpinan baru dan menjaga persatuan nasional pada saat yang sangat krusial bagi Iran,” demikian pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran.
Didukung Sekutu Iran
Penunjukan Mojtaba Khamenei langsung disambut oleh kelompok Houthi di Yaman yang dikenal sebagai sekutu dekat Iran.
Dalam pernyataannya di Telegram, kelompok tersebut menyampaikan ucapan selamat kepada Iran.
“Kami mengucapkan selamat kepada Republik Islam Iran, kepemimpinannya, dan rakyatnya atas terpilihnya Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam pada momen yang penting ini,” tulis kelompok Houthi.
Mereka juga menyebut pemilihan tersebut sebagai “kemenangan baru bagi Revolusi Islam dan pukulan telak bagi musuh-musuh Republik Islam.”
Trump: Tidak Akan Bertahan Lama
Namun di sisi lain, penunjukan Mojtaba berpotensi memperbesar konflik dengan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump sebelumnya sudah menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei adalah kandidat yang kemungkinan besar menggantikan ayahnya, namun Washington menilai pilihan tersebut tidak bisa diterima.
Trump bahkan memperingatkan bahwa pemimpin baru Iran tidak akan bertahan lama jika tidak mendapat persetujuan Amerika.
“Pemimpin tertinggi Iran berikutnya tidak akan bertahan lama jika tidak mendapat persetujuan dari kami,” kata Trump sebelumnya.
Militer Israel juga memberikan ancaman keras. Dalam unggahan berbahasa Persia di media sosial X, militer Israel menyatakan akan mengejar siapa pun penerus Ali Khamenei dan siapa pun yang berupaya menunjuk penggantinya.
Pertama Kali Kekuasaan Turun ke Anak
Pengangkatan Mojtaba Khamenei juga mencatat sejarah baru di Iran. Untuk pertama kalinya sejak Revolusi Islam 1979, posisi pemimpin tertinggi berpindah langsung dari ayah kepada anak.
Perkembangan ini memicu perdebatan di dalam negeri Iran mengenai kemungkinan munculnya sistem kepemimpinan dinasti di negara yang dahulu berdiri untuk menggulingkan monarki.
Ayatollah Ali Khamenei, yang memimpin Iran selama 37 tahun, tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada 28 Februari, hari pertama perang Iran dengan kedua negara tersebut.
Militer Iran Langsung Setia
Setelah pengumuman tersebut, elite politik dan militer Iran bergerak cepat menyatakan dukungan.
Media pemerintah Iran melaporkan pimpinan angkatan bersenjata negara itu telah menyatakan kesetiaan kepada Mojtaba Khamenei. Ketua parlemen Iran juga memuji keputusan tersebut dan menyebut mengikuti kepemimpinan Mojtaba sebagai “kewajiban agama dan nasional.”
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga menegaskan siap mengikuti kepemimpinan pemimpin baru Iran.
Kepala keamanan Iran mengatakan Mojtaba Khamenei mampu memimpin negara melewati masa yang sangat sensitif saat ini.
Sosok Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei berusia 56 tahun dan dikenal sebagai sosok yang sangat berpengaruh di lingkaran kekuasaan Iran meski jarang tampil di publik.
Ia lahir pada 1969 di Mashhad, kota di timur laut Iran. Mojtaba menempuh pendidikan teologi di kota Qom dan dilaporkan ikut terlibat dalam tahap akhir perang Iran–Irak.
Berbeda dengan banyak tokoh politik Iran, Mojtaba tidak pernah menduduki jabatan pemerintahan atau jabatan politik melalui pemilu. Namun ia dikenal memiliki pengaruh besar di kantor ayahnya dan menjalin hubungan dekat dengan ulama konservatif serta Garda Revolusi Iran (IRGC).
Namanya sempat mencuat saat pemilu presiden Iran 2009 yang kontroversial, ketika kelompok reformis menuduhnya ikut mendukung tindakan keras aparat terhadap demonstrasi besar-besaran.
Konflik Timur Tengah Makin Memanas
Sementara itu, konflik di Timur Tengah terus meningkat. Iran bahkan mengancam akan menyerang fasilitas minyak di negara-negara tetangga jika serangan Israel terhadap instalasi energi Iran terus berlanjut.
“Jika kalian bisa menoleransi harga minyak di atas 200 dolar per barel, lanjutkan permainan ini,” kata juru bicara IRGC.
Serangan balasan Iran juga dilaporkan menghantam sejumlah negara Teluk. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait melaporkan adanya serangan drone dan proyektil.
Arab Saudi menyatakan berhasil menjatuhkan 15 drone, sementara serangan di Bahrain menyebabkan kerusakan pada instalasi penyulingan air laut.
Di kota Al-Kharj di Arab Saudi, sebuah proyektil dilaporkan jatuh di kawasan permukiman dan menewaskan dua orang serta melukai 12 lainnya, menurut laporan pertahanan sipil Saudi.
Ketegangan ini memicu kekhawatiran bahwa perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel akan berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas dan mengguncang ekonomi dunia.

Tinggalkan Balasan