Kanselir Jerman Friedrich Merz: AS Dipermalukan Iran, Trump Kalah Langkah di Meja Perundingan
DIKSIMERDEKA.COM BERLIN-Amerika Serikat negara adidaya yang biasa mendikte dunia kali ini justru disebut “dipermalukan”.Bukan oleh kekuatan militer, tapi oleh permainan strategi Iran di meja perundingan.Dan nama Donald Trump ikut terseret dalam sorotan tajam itu.
Merz Ngegas: AS Dipermalukan Iran!
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, melontarkan pernyataan keras yang mengguncang diplomasi global. Ia menyebut Amerika Serikat sedang “dipermalukan” oleh kepemimpinan Iran dalam proses negosiasi yang mandek.
Menurut Merz, tim Presiden Donald Trump terlihat kalah langkah di meja perundingan. Iran dinilai piawai bahkan terlalu lihai dalam memainkan taktik negosiasi tanpa benar-benar bernegosiasi.
“Iran sangat terampil, atau lebih tepatnya, sangat terampil untuk tidak bernegosiasi,” sindir Merz di hadapan mahasiswa di Jerman, Senin (27/4/2026) seperti yang dilansir Media Inggris The Guardian.
Perundingan Buntu, Trump Klaim ‘Punya Semua Kartu’
Situasi makin panas setelah AS membatalkan pertemuan lanjutan dengan delegasi Iran di Islamabad. Sebelumnya, perundingan yang dipimpin Wakil Presiden AS juga berakhir tanpa hasil.
Di sisi lain, Trump justru mencoba menampilkan optimisme.
“Kami punya semua kartu,” katanya dalam wawancara media.
Namun, pernyataan itu terasa kontras dengan realita di lapangan. Alih-alih maju, negosiasi justru jalan di tempat—bahkan mundur.
Iran Mainkan ‘Kartu Hormuz’, Dunia Ikut Tegang
Di tengah kebuntuan, Iran melontarkan proposal baru: membuka Selat Hormuz lebih dulu, sementara isu nuklir, rudal, dan sanksi ditunda.
Langkah ini dianggap kontroversial.
Pasalnya, Iran bahkan berencana mengenakan biaya bagi kapal yang melintas—sesuatu yang langsung ditolak dunia internasional karena tak punya dasar hukum.
Bagi banyak pihak, strategi ini bukan solusi—melainkan manuver untuk mengulur waktu.
Blokade Balas Blokade, Ekonomi Iran Tercekik
Setelah negosiasi gagal, AS membalas dengan blokade terhadap jalur pelabuhan Iran. Dampaknya brutal:
- Ekonomi Iran diprediksi menyusut 6,1%
- Inflasi menembus hampir 70%
- Harga pangan dan kesehatan melonjak tajam
Namun, tekanan ini ternyata belum cukup untuk memaksa Iran menyerah.
“Iran sedang bertarung secara eksistensial. Mereka siap membayar harga lebih mahal,” ungkap analis Ali Vaez.
Iran Gandeng Rusia, Trump Dikejar Waktu
Di tengah tekanan, Menteri Luar Negeri Iran bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk mencari dukungan.
Rusia bahkan berjanji membantu demi kepentingan Iran dan stabilitas kawasan.
Sementara itu, Trump justru berada dalam tekanan lain:
- Harga BBM domestik
- Inflasi dalam negeri
- Agenda diplomatik dengan China
- Ancaman krisis bahan bakar global jelang Piala Dunia
Semua itu membuat posisi AS tidak sekuat yang terlihat.
Deal Hormuz: Kemenangan atau Ilusi?
Jika Trump menerima tawaran Iran membuka Selat Hormuz, ia bisa mengklaim kemenangan.
Namun risikonya besar: Iran tetap menyimpan cadangan uranium tinggi—cukup untuk membuat senjata nuklir.
Artinya, konflik belum selesai. Hanya berubah bentuk.
Ancaman Baru: Israel Siap Bertindak
Ketegangan makin melebar. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengisyaratkan kemungkinan aksi militer baru terhadap Hizbullah di Lebanon.
Rudal dan drone masih menjadi ancaman serius, katanya.
Siapa Sebenarnya Mengendalikan Permainan?
Di atas kertas, Amerika masih terlihat kuat.
Namun di lapangan, Iran justru memainkan ritme permainan.
Apakah ini sekadar strategi sementara?
Atau tanda bahwa peta kekuatan global mulai bergeser?
Satu hal pasti:
Dunia sedang menyaksikan duel strategi—bukan sekadar perang senjata.

Tinggalkan Balasan