DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Dukungan deras mengalir terhadap kebijakan Gubernur Bali Wayan Koster yang melarang penjualan air minum dalam kemasan (AMDK) plastik ukuran di bawah 1 liter. Salah satunya datang dari kelompok mahasiswa.

Setelah sebelumnya didukung BEM Unud. Kali ini dukungan datang dari BEM Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas). Ketua BEM Undiknas IB Bujangga Pidada menyampaikan dukungan sekaligus apresiasinya terhadap kebijakan yang dituangkan dalam Surat Edaran (SE) nomor 9 Tahun 2025 tentang Gerakan Bali Bersih tersebut.

“Kami dari BEM Undiknas menyampaikan apresiasi kepada kebijakan ini untuk menekan jumlah sampah plastik sekali pakai di Bali,” kata Bujangga.

Namun demikian, dirinya juga mengungkapkan bahwa dalam kajian yang dilakukan BEM Undiknas masih ada pro dan kontra di masyarakat Bali sendiri terkait kebijakan tersebut, sedangkan masyarakat luar Bali termasuk pemerintah pusat memberikan dukungan atas terobosan Gubernur Koster tersebut.

Baca juga :  Selalu Menjaga Kearifan Lokal, PPS Kertha Wisesa Daulat Gubernur Koster sebagai Penasehat

“Masih ada dua pandangan yang berkembang di masyarakat dan intinya, selain pembatasan botol plastik dan gelas plastik, juga diharapkan kebijakan untuk bisa menyelesaikan persoalan sampah rumah tangga, hingga memaksimalkan peran Tempat Pengelolaan Sampah 3R (Reduce, Reuse, Recycle) atau TPS3SR,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster mengaku kebijakan pelarangan penjualan AMDK plastik di bawah satu liter merupakan sebuah momentum untuk penanganan sampah yang lebih masif.

Baca juga :  Bali Siap Gelar Event Bola U-20 IYC 2023

“Di desa-desa kita akan lebih masifkan ini , lebih progresif lagi penangannya. Sudah ada role modelnya beberapa desa yang berhasil menangani sendiri sampahnya dengan metode penanganan sampah berbasis sumber. Jadi tinggal direplikasi saja ke desa-desa lain,” tandas Gubernur.

Terkait dengan pro dan kontra di masyarakat Bali khususnya, Gubernur Ksoter mengatakan hal tersebut adalah hal yang biasa dan dalam waktu berjalan akan ada penyesuaian atau perubahan gaya hidup masyarakat.

“Satu hal yang pasti, kalau tidak dilakukan maka ekosistem Bali akan semakin buruk, pariwisata Bali, citra Bali akan semakin buruk pula dan ini bisa jadi kampanye bagi negara -negara saingan kita di industri pariwisata,” jelas Gubernur.

Baca juga :  Gubernur Koster Harap Puri Mengwi Tetap jadi Cikal Bakal Pelestarian Tradisi Bali

“Namun yang saya lihat, ada tren anak-anak muda, adik-adik mahasiswa lebih banyak yang mendukung kebijakan ini,” katanya lagi.

Tidak berhenti pada pelarangan penjualan AMDK dibawah satu liter, Gubernur juga mengaku akan akan mensosialisasikan aturan itu dengan pelaku usaha serta mengundang mereka untuk bertatap muka langsung terkait jalannya SE tersebut.

“ Kita mendorong juga produsen air minum untuk mulai berinovasi dalam hal pengemasan. Seperti penggunaan botol kaca seperti yang telah diterapkan sejumlah produsen lokal,” tuturnya.

Editor: Agus Pebriana