DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Praktik titip menitip siswa di sekolah berkategori unggulan dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) merupakan wujud dari kastanisasi dunia pendidikan. Jika praktik ini tetap dipertahankan akses pendidikan terhadap siswa yang tidak memiliki privilege dan kemampuan ekonomi rendah akan terhambat.

Hal ini diungkapkan oleh pengamat pendidikan Gede Agus Siswadi saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (16/06/20223). Menurut Siswadi kastanisasi pendidikan adalah upaya menggolongkan sekolah dengan kategori unggul, baik sekali, baik bahkan tidak baik.

“Sehingga istilah ini juga yang akan melabeli sekolah itu bermutu dan atau yang kurang bermutu. Atas dasar logika tersebutlah sekolah cenderung mirip seperti market yang menawarkan barang dagangannya yakni sekolah unggulan kepada calon pembelinya seperti orangtua dan calon anak didik,” terang Siswadi.

Baca juga :  14 Sekolah 4.080 Siswa/i, PPDB SMP Negeri di Kota Denpasar Resmi Dimulai

Sehingga menurutnya kondisi tersebut membuat para orang tua tidak terlalu peduli dengan pengembangan potensi anak sebagai hal pertama dan utama dalam pendidikan anaknya. Melainkan mengedepankan rasa gengsi apabila dikatakan anaknya disekolahkan pada sekolah kurang bermutu. Maka praktik titip menitip siswa pun akan dilakukan.

Baca juga :  Cegah Maladministrasi di PPDB, Ombudmans Bali Minta Verifikator Cek Keaslian Dokumen

Lebih jauh, Siswadi mengatakan semasih sekolah-sekolah dilakukan pemeringkatan, maka kastanisasi pendidikan itu akan tetap ada. Bentuk-bentuk akreditasi sekolah-sekolah yang akan melabeli sekolah itu terakreditasi A, B, C dan lain sebagainya yang justru akan melanggengkan persaingan antar sekolah.

“Kalau memang akreditasi itu dibutuhkan untuk melihat kualitas pendidikan serta evaluasi berkelanjutan dengan melihat presentasi lembaga pendidikan yang terakreditasi, sepertinya cukup dengan memberikan label bahwa sekolah terakreditasi dan tidak terakreditasi, bukan dengan terakreditasi A, B, C,” terangnya.

Terlebih lagi proses akreditasinya masih banyak yang menyediakan data-data fiktif yang dikumpulkan hanya untuk melengkapi data dan penilaian akreditasi.

Baca juga :  Mengapa Program Satu Keluarga Satu Sarjana Dapat Tingkatkan APK di Bali

Menurutnya jika kastanisasi pendidikan yang berujung pada adanya praktik titip menitip siswa di sekolah-sekolah favorite tetap berlangsung dampak yang paling nampak ialah terbaginya masyarakat dalam kelas-kelas sosial.

“Anak yang kurang mampu hanya bisa menjangkau sekolah yang biasa, sedangkan anak yang memiliki privilege dengan perekonomian menengah ke atas, akan lebih mudah untuk mengakses pendidikan yang dianggap memiliki kualitas baik, karena cenderung mahalnya biaya pendidikan dari sekolah yang dianggap bermutu tersebut,” terangnya.