DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON – Di saat partainya baru saja babak belur menelan kekalahan bersejarah di pemilihan sela (midterm), Presiden Amerika Serikat Donald Trump malah asyik mengurus interior. Takut desain interior serba emas kebanggaannya diutak-atik oleh presiden selanjutnya, Trump nekat menandatangani proklamasi yang menetapkan Ruang Oval Trump dan Ruang Kabinet sebagai monumen nasional yang wajib dilestarikan.

Duduk manis di balik Meja Resolute pada Kamis waktu setempat, Trump seolah lebih peduli pada proyek renovasinya ketimbang nasib politik partainya.

“Saya akan menandatangani dokumen yang akan menjadikannya landmark sepanjang masa,” koar Trump kepada wartawan dari dalam Ruang Oval yang kini berlapis emas tersebut.

Bukan Trump namanya kalau tidak melontarkan pernyataan pedas. Ia menegaskan proklamasi ini adalah tameng mutlak agar ruangan di Sayap Barat (West Wing) itu tidak dirombak sembarangan di masa depan.

“(Agar tidak) disentuh oleh siapa pun, dihancurkan, dirobohkan oleh orang-orang bodoh, untuk membangun sesuatu dengan bentuk yang sedikit berbeda,” tegasnya seperti yang dilansir The Guardian.

“Saya hanya berpikir sangat penting bahwa tidak ada seorang pun yang diizinkan datang dan merobohkannya serta mencoba melakukan sesuatu dengannya,” lanjutnya.

Baca juga :  Makin Otoriter! Kesal Diberitakan Miring, Trump Usir CNN dan Politico dari Gedung Putih

Saking protektifnya terhadap desain tersebut, Trump bahkan melarang keras adanya pembaruan sekecil apa pun, termasuk mengganti kaca.

“Sesekali mereka akan melihat dan berkata, oh, mungkin yang akan kita lakukan adalah memasang kaca yang sedikit lebih baik atau semacamnya, dan saya katakan tidak, Anda tidak akan melakukan apa-apa. Kita akan membiarkannya seperti ini,” ujarnya ngegas.

Ia bahkan melempar ancaman bernada candaan namun tajam, “Jika ada yang memutuskan untuk datang dan mulai merobohkan tembok, Anda akan menelepon saya di mana pun saya berada, dan saya akan kembali ke sini dan saya akan memastikan hal itu tidak akan pernah terjadi.”

Proyek Ratusan Miliar Hingga Ejekan ‘Cheesecake Factory’ Obama

Sejak kembali ke Gedung Putih, Trump memang keranjingan proyek ‘kecantikan’ infrastruktur. Tak tanggung-tanggung, ia memerintahkan pembongkaran Sayap Timur (East Wing) demi membangun ballroom raksasa senilai USD 600 juta (sekitar Rp 9,5 triliun), hingga menyemen landasan helikopter permanen dari granit di Halaman Selatan.

Baca juga :  Bos Pentagon Hegseth ‘Dikuliti’ di Senat AS! Klaim Menang Lawan Iran Dibilang Ngibul

Trump membela diri bahwa aksi ketuk palunya ini murni karena eksterior Gedung Putih sudah bobrok dimakan usia. Ia menunjuk jendela retak, batu bata rusak, dan ornamen yang hancur sebagai alasan dirinya menyewa pekerja terampil untuk merenovasi.

“Ketika Anda melihat dinding itu satu tahun yang lalu, kerusakannya sangat parah akibat pemakaian bertahun-tahun,” dalihnya, seraya menambahkan bahwa kondisi pilar-pilar eksterior sebelumnya dalam “kondisi yang mengerikan”.

Ironisnya, tepat di sebelah dokumen proklamasi yang ia tanda tangani, tergeletak sebuah topi bisbol merah bertuliskan “Veto”. Topi ini menjadi simbol ancaman kasarnya untuk menjegal rancangan undang-undang dari Kongres yang kini dikuasai oleh kubu Demokrat. Partai Demokrat baru saja merebut sejumlah negara bagian basis Republik seperti Texas, Kansas, Carolina Selatan, dan Iowa.

Gaya desain Ruang Oval Trump yang super mewah dan menyilaukan mata ini rupanya tak lepas dari nyinyiran. Mantan Presiden AS, Barack Obama, belum lama ini melontarkan ejekan telak.

Obama bergurau bahwa, “Dia membuat Gedung Putih tampak seperti Saddam Hussein membuka Cheesecake Factory. Semuanya serba emas.” Ejekan ini sampai bikin panas telinga kabinet Trump, di mana Menteri Keuangan Scott Bessent meresponsnya dengan sengaja makan malam di restoran Cheesecake
Factory(ankdot untuk sesuatu yang norak).

Baca juga :  Ketua FIFA Gianni Infantino Dipanggil Kongres AS, Hubungan dengan Trump Diselidiki

Kalah Pemilu, Malah Nyalahin Biden Soal Lumut

Manuver Trump mengalihkan isu kekalahan partainya juga terlihat beberapa hari sebelum pemilu sela. Alih-alih kampanye substansial, ia malah menggelar jumpa pers untuk pamer proyek renovasi kolam pantul Lincoln Memorial senilai USD 14 juta. Lucunya, ia justru menyalahkan Joe Biden atas lumut yang menggenangi kolam tersebut.

“Ini terjadi di era Biden … Dengar, ini bukan hal yang mudah. Lumutnya sangat brutal. Mudah terbentuk. Yang Anda lihat hanyalah kotoran dan sampah dan kertas dan semuanya selama bertahun-tahun,” gerutu Trump, Senin lalu.

Dua hari kemudian, saat badai kekalahan partainya makin jelas terlihat, Trump malah santai memimpin tur media melihat lokasi konstruksi Ballroom Gedung Putih yang sedang dibangun. Sambil mengagumi proyek mahalnya, ia berucap santai, “Seluruh hal ini adalah sebuah keajaiban.”