Berani Mati! Mark Carney Lawan Trump, Bawa Kanada Merapat ke Uni Eropa & Kobarkan ‘Perang’
DIKSIMERDEKA.COM OTTAWA-Babak baru perseteruan Mark Carney lawan Trump kini resmi meledak di panggung global! Bayangkan jika tetangga sebelah rumah yang super berkuasa terus-terusan merundung Anda, apakah Anda akan menunduk pasrah?
Bagi Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, pilihannya sudah bulat: lawan balik. Mantan bankir ini sukses bikin geger dunia politik internasional usai berani menantang Presiden AS secara terbuka. Bukannya ciut diancam tarif gila-gilaan, Carney justru banting setir membawa Kanada bergandengan tangan dengan Uni Eropa (UE)
Dicibir Trump, Kanada Makin Lengket dengan Eropa
Media Inggris The Guardian melaporkan langkah berani Kanada untuk menjadi anggota asosiasi (associate member) Uni Eropa pertama di dunia mendapat sambutan hangat di Benua Biru. Dalam pidatonya di depan Parlemen Eropa di Strasbourg yang diganjar standing ovation (tepuk tangan berdiri), Carney menyerukan kerja sama tingkat tinggi untuk menjaga kedaulatan negaranya.
Di saat Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen ingin membawa hubungan bilateral ini ke tingkat tertinggi, Donald Trump di seberang samudra justru mencibir ide tersebut sebagai sesuatu yang “menggelikan” dan mengancam akan menghantam Eropa dengan tarif super berat jika rencana itu diteruskan.
“Kanada menyambut baik gagasan ini,” tegas Carney merespons tawaran UE. “Kanada dan Eropa harus mengamankan otonomi strategis kita melalui kerja sama mendalam di berbagai kapabilitas strategis,” tambahnya, merujuk pada sektor mineral kritis, keamanan energi, hingga kecerdasan buatan (AI).
Ketika ditanya oleh wartawan soal gertakan tarif Trump, jawaban Carney sangat tajam dan menohok: “Rakyat Kanada bersatu bahwa tidak ada seorang pun yang akan mendikte bahasa apa yang kami gunakan. Tidak ada yang akan mendikte budaya kami atau dengan siapa kami boleh membuat perjanjian internasional.”
Ogah Tunduk, Pilih Jalur ‘Perang’ Melawan AS
Ketegangan Mark Carney lawan Trump mencapai puncaknya akhir pekan lalu. Berdiri di balik podium beraksen kayu kenari dengan wajah tegang, Carney mengumumkan bahwa perundingan dagang dengan AS—mitra dagang terbesar Kanada—telah resmi kandas.
“Musim semi lalu, saya sudah memperingatkan bahwa Amerika berusaha menghancurkan kita agar mereka bisa menguasai kita,” ucapnya blak-blakan. “Dan saya berjanji: itu tidak akan pernah terjadi. Kami menepati janji tersebut.”
Sebagai balasan atas kebuntuan ini, Trump dengan gaya provokatifnya yang khas, malah menandatangani perintah eksekutif untuk mengganti nama Danau Ontario (danau yang membatasi AS dan Kanada) menjadi “Danau Amerika”.
Seorang reporter yang menyadari nada suram dan agresif dalam pidato tersebut langsung bertanya, apakah Mark Carney sedang bersiap menuju medan perang. Sang Perdana Menteri terdiam sejenak sebelum melontarkan kalimat ikonik:
“Kami diserang. Anda berada dalam kondisi perang ketika Anda diserang. Kami telah diserang.”
Ia menambahkan ketegasannya menolak tunduk: “Kami tidak bisa menerima apa yang mereka tawarkan, dan kami tidak akan memberikan apa yang mereka minta.”
Evolusi Sang Gubernur Bank Menjadi Panglima Perang
Siapa sebenarnya Mark Carney? Bagi orang awam, ia dulunya adalah “dewa” penjaga stabilitas ekonomi. Carney adalah mantan Gubernur Bank of Canada dan Bank of England yang menghabiskan bertahun-tahun kariernya untuk menenangkan gejolak pasar keuangan. Kini, ia justru meminta rakyat Kanada bersiap menghadapi ketidakpastian dan konfrontasi terbuka.
Kolega lamanya tak kaget dengan nyali Carney. Saat berhadapan dengan kubu pro-Brexit di Inggris tahun 2015, Carney juga berani pasang badan memperingatkan risiko ekonomi, yang membuatnya diserang habis-habisan oleh politisi konservatif. Charles Randell, mantan pejabat otoritas keuangan Inggris memujinya sebagai sosok yang “sangat serius, sangat analitis, sangat terdorong,” dan ahli dalam strategi komunikasi massa.
Di dalam negeri, Carney bergerak layaknya pemimpin di masa perang. Ia membuang kebijakan pro-lingkungan pendahulunya, Justin Trudeau, dengan menghapus mandat kendaraan listrik dan pajak karbon, mempercepat proyek pipa minyak raksasa, serta menyuntikkan puluhan miliar dolar untuk anggaran pertahanan. Hasilnya? Rakyat Kanada mendukung penuh, dan tingkat kepuasannya (approval rating) tetap tinggi.
Di hadapan publiknya, Carney sukses membakar semangat nasionalisme lewat penutup pidatonya yang heroik:
“Orang Kanada tidak tunduk pada cuaca – kami berkembang di dalamnya. Kami tidak menunggu untuk melihat ke mana arah angin bertiup. Atau menyerahkan diri pada ombak untuk diombang-ambingkan oleh badai peristiwa. Kami menentukan arah kami sendiri. Kami menciptakan cuaca kami sendiri. Di Kanada, kami adalah tuan di rumah kami sendiri, dari ujung pantai ke ujung pantai lainnya.”
Bagi masyarakat awam, perseteruan ini mungkin terlihat seperti drama tetangga sebelah, tapi dampaknya bagi dunia sangatlah masif. Langkah berani Kanada membuktikan bahwa negara-negara “kekuatan menengah” (middle powers) di seluruh dunia—termasuk Indonesia, Australia, atau Jepang—kini tidak perlu lagi tunduk mutlak pada hegemoni Amerika Serikat. Jika Kanada yang secara geografis dan ekonomi menempel ketat dengan AS berani berontak dan membangun poros baru dengan Eropa, ini akan memicu efek domino. Negara-negara lain akan lebih berani membentuk aliansi-aliansi mandiri demi melindungi ekonomi mereka dari kebijakan negara adidaya yang sewenang-wenang, mengubah total peta kekuatan geopolitik dan perdagangan global di masa depan.

Tinggalkan Balasan