DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA- Dunia sedang menyaksikan ironi besar: perang yang bukan milik mereka, tapi dampaknya menghantam mereka lebih keras dari peluru.

Para pemimpin negara sekutu Amerika Serikat kini berada di posisi serba salah. Di satu sisi, mereka menolak ikut dalam serangan AS-Israel ke Iran. Di sisi lain, mereka harus menghadapi kemarahan Donald Trump serta tekanan rakyatnya sendiri yang muak dengan perang.

Situasinya berubah cepat. Dulu, para pemimpin dunia berlomba mendekati Trump. Sekarang? Mereka mulai berani melawan.

Tekanan bukan hanya soal politik luar negeri. Ini soal dapur rakyat. Harga energi melonjak. Ekonomi goyah. Kursi kekuasaan ikut terancam.

Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan sudah memberi sinyal bahaya. Pertumbuhan ekonomi global diprediksi melambat ke 2,5 persen tahun ini turun tajam dari 3,4 persen sebelumnya.

Bagi negara-negara yang bergantung pada minyak dan gas Timur Tengah, ini bukan sekadar angka. Ini ancaman nyata.

Inggris misalnya. Proyeksi pertumbuhan ekonominya dipangkas jadi hanya 0,8 persen di 2026. Pemerintahan Keir Starmer pun terancam goyah karena gagal memenuhi janji menghidupkan ekonomi.

Di Jepang, tekanan datang dari arah yang sama. Biaya logistik melonjak, harga naik, dan kenaikan upah yang sempat diharapkan mulai terancam kandas.

Baca juga :  Tanker Minyak Tertahan Di Selat Hormuz,Ribuan Awak Kapal Minta Dipulangkan : “Kami Sudah di Batas Mental”

Semua ini terjadi bahkan sebelum perang benar-benar meluas.


Retak di Tubuh Sekutu

Trump bukan hanya memicu konflik militer. Ia juga memperlebar jarak dengan sekutu lama.

Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni\ yang selama ini dikenal dekat secara ideologis dengan Trump—akhirnya angkat suara.

Serangan Trump terhadap Paus disebutnya “tidak dapat diterima.”

Sementara Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, terang-terangan mengaku kesal.

“Saya muak rakyat Inggris harus membayar energi lebih mahal karena ulah Trump.” katanya seperti dilansir CNN.

Kalimat itu bukan sekadar kritik. Itu sinyal retaknya hubungan yang dulu tampak solid.

Trump pun tak tinggal diam. Ia menyerang balik Meloni dengan nada pedas. “Saya kaget padanya. Saya kira dia punya keberanian. Saya salah.” ujar Trump.

Ia bahkan menuduh Meloni tak peduli jika Iran memiliki senjata nuklir.

Gaya komunikasi seperti ini keras, frontal, tanpa filter justru mempercepat jarak antara Washington dan sekutunya.


Dilema: Ikut Perang atau Jatuh di Dalam Negeri

Masalahnya sederhana tapi brutal bagi Sekutu AS ikut perang sama dengan bunuh diri politik.

Baca juga :  Mantan Bos CIA Minta Trump Dilengserkan: ‘Amandemen ke-25 Dibuat untuk Dia’

Rakyat di negara-negara sekutu mayoritas menilai perang AS-Iran- Israel sebagai langkah yang bodoh, berisiko, dan melanggar hukum internasional.

Artinya, para pemimpin tak punya ruang politik untuk mendukung Trump.

Namun menolak pun ada harga yang harus dibayar.

Hubungan dengan AS terancam retak. NATO goyah. Jaminan keamanan dipertanyakan.

Trump sendiri memandang NATO bukan sebagai aliansi pertahanan, melainkan alat untuk kepentingannya.

Ia juga terang-terangan tidak suka sekutu yang “menumpang perlindungan” NATO tapi menolak ikut berperang.


Kanada dan Eropa Mulai Melawan

Efek Trump bahkan mengubah peta politik domestik negara lain.

Di Kanada, sang perdana menteri Mark Carney justru naik ke tampuk kekuasaan dengan platform anti-Trump.

Kemenangannya bukan kebetulan melainkan reaksi terhadap tekanan dan retorika Trump terhadap kedaulatan Kanada.

“Bersatu, kita akan membangun Kanada yang kuat—yang tak bisa diambil siapa pun,” tegas Carney.

Di Eropa, tren serupa mulai terlihat.

Pemimpin populis yang dulu mengidolakan Trump kini mulai menjaga jarak. Kekalahan Viktor Orbán di Hungaria jadi sinyal keras bahwa kedekatan dengan Trump bukan lagi aset politik melainkan beban.

Baca juga :  Kanselir Jerman Friedrich Merz: AS Dipermalukan Iran, Trump Kalah Langkah di Meja Perundingan

Kartu Truf Trump: Ketergantungan Militer

Meski mulai berani melawan, sekutu AS tetap punya kelemahan besar yakni angkatan militer mereka.

Setelah bertahun-tahun memangkas anggaran pertahanan, banyak negara Eropa kini tak punya kapasitas untuk operasi militer besar bahkan jika mereka mau.

Ketika Trump mengkritik NATO karena tak mengirim kapal ke Selat Hormuz, ia sebenarnya menekan titik paling sensitif.

Bukan cuma soal kemauan. Tapi soal kemampuan.

Jika AS benar-benar keluar dari NATO, Eropa harus melakukan rearmament (penguatan militer kembali) besar-besaran yang berarti pemotongan anggaran sosial. Dan itu hampir pasti akan memicu krisis politik baru.


Jalan Buntu Global

Inilah paradoksnya:

Semakin Trump menekan sekutu untuk ikut perang, semakin kecil kemungkinan mereka membantu.

Dan semakin mereka menjauh, semakin besar risiko konflik ini meluas tanpa kendali.

Sekutu Amerika kini terjebak di antara dua pilihan buruk.
ikut perang yang tak populer, atau menghadapi konsekuensi ekonomi dan politik yang tak kalah mematikan.

Satu hal yang pasti ini bukan lagi sekadar konflik Timur Tengah.

Ini sudah jadi ujian besar bagi tatanan global… dan masa depan aliansi Barat.