DIKSIMERDEKA.COM, TEL AVIV – Drama politik di Israel makin panas. Hasil sementara dari jajak pendapat (exit poll) usai pemungutan suara menunjukkan belum ada pihak yang keluar sebagai pemenang mutlak dalam Pemilu Israel. Baik kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun blok oposisi yang ingin melengserkannya, sama-sama gagal menembus angka keramat 61 kursi mayoritas di parlemen (Knesset).

Berdasarkan laporan dari Saluran 11, 12, dan 13 pada Selasa (24/10/2026) malam waktu setempat, kedua kubu bersaing sangat ketat. Namun, pada Rabu (25/10/2026) pagi, setelah lebih dari 2 juta suara dihitung, blok Netanyahu sedikit unggul dengan proyeksi 53 hingga 57 kursi, sementara kubu oposisi pimpinan Gadi Eisenkot melorot ke angka 47 kursi.

Meski unggul tipis, partai Likud milik Netanyahu (diproyeksi 27-28 kursi) dan partai Yashar milik Eisenkot (21 kursi) sama-sama masih kelimpungan mencari jalan untuk membentuk pemerintahan koalisi.

Baca juga :  AS–Israel Akui Rencanakan Serangan Berbulan-bulan, Bahrain Konfirmasi Pangkalan Armada Kelima AS Diserang

Yang menarik, partai-partai keturunan Arab di Israel (Joint List dan Ra’am) diprediksi mencetak rekor dengan meraup gabungan 16 hingga 19 kursi. Tingginya perolehan kursi ini menjadikan mereka sebagai “kartu truf” penentu arah koalisi. Masalahnya, hampir seluruh pemimpin oposisi—kecuali Yair Golan dari Partai Demokrat—ogah berkoalisi dengan kubu Arab, membuat situasi politik Israel makin ruwet.

Tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu kali ini menembus angka 77,7 persen, naik 7,1 persen dibandingkan pemilu 2022. Nasib partai-partai gurem sayap kanan, seperti Partai Rakyat Israel dan Partai Cadangan-Ekonomi, diprediksi gagal menembus ambang batas parlemen 3,25 persen, yang otomatis makin menyulitkan langkah Netanyahu mencari kawan koalisi.

Oposisi Teriak Menang, Cium Gelagat Curang

Meski hasil suara masih menggantung, Gadi Eisenkot dan para pimpinan oposisi langsung tancap gas mendeklarasikan kemenangan. Mereka mengklaim rakyat Israel telah menghukum Netanyahu akibat kegagalannya mencegah tragedi serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 silam.

Baca juga :  Proposal Damai Ditolak, Trump Ngamuk Siap Rebut Uranium Iran

“Jika ini hasil akhirnya, ini adalah kemenangan bagi mayoritas kelompok Zionis nasionalis Israel. Saya akan segera bertindak mengimplementasikan keputusan rakyat, mengganti pemerintahan Netanyahu, dan membentuk pemerintahan Zionis yang berkomitmen pada wajib militer sesegera mungkin,” tegas Eisenkot.

Bahkan, Eisenkot yang merupakan mantan Panglima Militer ini memberi peringatan keras kepada Netanyahu agar tidak menjadikan isu keamanan nasional sebagai alat politik demi mengamankan kekuasaannya. Ia mewanti-wanti para petinggi militer dan intelijen Israel untuk tidak menuruti perintah serangan yang hanya bermotif politik dari Netanyahu yang kini berstatus demisioner.

“Perdana menteri sekarang hanyalah penjabat sementara. Berdirilah tegak melawan setiap upaya yang menantang Anda. Kalian punya dukungan penuh dari saya. Netanyahu, jangan berani-berani pakai isu keamanan demi tujuan politik,” kecam Eisenkot tajam.

Baca juga :  Trump Mendadak Hentikan Serangan ke Iran, Militer AS Sebut Stok Senjata Mulai Menipis

Senada dengan Eisenkot, pentolan oposisi Yair Lapid juga menyebut kubu penguasa telah hancur lebur. “Jangan sampai ada yang membingungkan Anda: Blok Netanyahu telah menderita kekalahan telak. Ini adalah kehancuran total, dan publik telah menyuruh mereka pulang,” serunya.

Di kubu pemerintah, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir memperingatkan sekutunya agar tidak tergiur tawaran koalisi persatuan dengan Eisenkot, dan menyebutnya sebagai “kesalahan besar”.

Jika kebuntuan ini tak kunjung terurai dan lobi-lobi koalisi gagal, bukan tidak mungkin warga Israel harus kembali ke bilik suara untuk menggelar pemilu ulang. Nasib Netanyahu, Perdana Menteri terlama dalam sejarah Israel, kini benar-benar berada di ujung tanduk.