70.239 Balita Terserang ISPA Akibat Karhutla, Puan Desak Pengobatan Gratis
DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA– Bencana kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) makin mengganas dan memakan korban jiwa dari kalangan paling rentan. Lebih dari 70 ribu balita kini harus berjuang menghirup udara gara-gara tercekik Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Situasi darurat ini membuat Ketua DPR RI, Puan Maharani, turun gunung menyentil keras lambannya gerak pemerintah.
Data dari Kementerian Kesehatan per 17 Oktober 2026 benar-benar mengerikan. Dari total 311.363 kasus ISPA di tujuh provinsi terdampak, sebanyak 70.239 kasus menyerang anak di bawah lima tahun (balita). Menanggapi rapor merah ini, Puan mendesak perlindungan anak dijadikan komitmen nasional yang tak bisa ditawar-tawar lagi.
“Bagi orang tua, anak yang mengalami gangguan kesehatan, termasuk masalah pernafasan menghadirkan kecemasan yang sangat dekat dan mendesak,” tegas Puan Maharani dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).
Puan meminta pemerintah tidak cuma sibuk memadamkan api, tapi juga menjamin keselamatan nyawa anak-anak yang terkurung kepungan asap.
“Pemerintah perlu menjawab keadaan tersebut dengan keputusan yang memberi kepastian bahwa keselamatan anak mendapat perhatian penuh dan dukungan tersedia selama dibutuhkan. Setiap orang tua ingin melihat anaknya bisa menjalankan aktivitas dengan nyaman, tidur dengan tenang, dan kembali bermain. Harapan yang sederhana ini perlu menjadi perhatian utama kita dalam menentukan langkah penanganan,” imbuhnya.
Awas Ancaman “Lost Generation”, Puan Minta Pengobatan Digratiskan!
Lebih jauh, Puan menyoroti ancaman masa depan yang lebih gelap: Lost Generation atau hilangnya potensi generasi penerus akibat stunting dan penurunan kecerdasan. Berdasarkan laporan Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI), sejarah kelam Karhutla 1997 membuktikan anak yang terpapar asap tumbuh 3,3 cm lebih pendek di usia 17 tahun, dan memicu 15.600 kematian bayi.
“Kita ketahui bersama, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan dalam bencana. Mereka juga tidak berdaya tanpa bantuan orang dewasa sehingga membutuhkan pertolongan saat mengalami krisis kesehatan,” kata Puan memperingatkan.
Mantan Menko PMK ini menegaskan bahwa intervensi kesehatan mutlak dilakukan. Ia menuntut pemerintah segera menyediakan peralatan medis dan menggratiskan seluruh biaya pengobatan tanpa birokrasi berbelit.
“Penyediaan peralatan medis yang memadai bagi masyarakat terdampak Karhutla adalah sebuah keniscayaan. Jangan sampai para korban Karhutla ini menanggung beban ganda. Pastikan layanan BPJS bagi masyarakat terdampak tidak ada hambatan,” tukas cucu Bung Karno tersebut.
Puan juga mendesak agar pemerintah mengedukasi warga dengan informasi yang jernih, bukan sekadar janji manis. “Informasi harus membantu keluarga memahami keadaan serta pilihan pertolongan, dengan tetap menjaga harapan dan menghindari kesimpulan tentang masa depan anak yang belum didukung pemeriksaan.”
Selain balita, kabut asap juga telah mencekik 49.634 kelompok lanjut usia (lansia). Bencana ini mengepung 65 kabupaten/kota di Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
“Pemerintah juga perlu memberi pendampingan dan bantuan kepada para orang tua yang anaknya sakit akibat paparan kabut asap. Kemudian dukungan untuk tenaga kesehatan, serta petugas dan relawan yang terus membantu penanganan Karhutla,” tutup Puan.

Tinggalkan Balasan