DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA – Posisi Indonesia di kancah perdagangan bahan baku pakan ternak Asia Tenggara baru saja kecolongan. Vietnam secara mengejutkan berhasil menyalip Malaysia dan Indonesia dalam volume impor bungkil kedelai (soybean meal) asal Argentina. Catatan ini resmi menobatkan Vietnam sebagai importir terbesar bahan baku pakan ternak tersebut dari negara Amerika Selatan itu.

Lonjakan pengiriman gila-gilaan ini bukan tanpa alasan. Dilansir dari media pangan dunia, Nutrinews, Kuatnya ikatan kerja sama perdagangan bilateral, ditambah meledaknya permintaan dari sektor peternakan domestik Vietnam, menjadi bahan bakar utama yang melesatkan posisi mereka ke puncak.

Peternakan Menggila, Kiblat Ekspor Bergeser ke Asia

Dulu, bungkil kedelai asal Argentina biasanya membanjiri pasar Eropa. Namun, peta permainan kini berubah drastis. Perjanjian dagang baru dan pergeseran pola konsumsi dunia memaksa arus ekspor Argentina berbelok arah ke Asia Tenggara.

Baca juga :  69 Bulan Tak Putus! Neraca Perdagangan RI Surplus US$0,95 Miliar di Awal 2026

Vietnam menangkap peluang ini dengan agresif. Mereka menjelma menjadi destinasi kunci seiring meroketnya kebutuhan bungkil kedelai untuk menopang industri peternakan dan pangan mereka yang sedang tumbuh pesat. Indonesia dan Malaysia yang tadinya mendominasi, kini harus rela melihat lampu sein Vietnam dari belakang.

Pundi-Pundi Kedelai Argentina Tembus Rp384 Triliun!

Argentina sendiri memang masih menjadi “raja minyak” di urusan produk kedelai. Pada tahun 2025, komoditas kedelai dan turunannya tetap menjadi tulang punggung ekspor pertanian terbesar negara Tango tersebut.

Baca juga :  ART RI–AS Disorot, UGM Ingatkan Produk Impor Tanpa Halal Bisa Tekan UMKM

Angkanya bikin melongo! Pendapatan dari sektor ini menyentuh angka 21,44 miliar Dolar AS, atau setara dengan Rp384,01 triliun (kurs Rp17.911/USD). Angka raksasa ini meroket 9,2 persen dibanding tahun sebelumnya dan menyumbang nyaris seperempat (24,6 persen) dari total ekspor barang dagangan Argentina.

Jika dibedah berdasarkan nilai cuannya, China masih menjadi pasar paling “rakus” bagi produk kedelai Argentina dengan nilai transaksi mencapai 4,79 miliar Dolar AS (sekitar Rp85,79 triliun). Posisi runner-up dipegang oleh India yang merogoh kocek hingga 3,72 miliar Dolar AS (Rp66,62 triliun).

Baca juga :  Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Global Trump, Kekuasaan Presiden Dibatasi

Nah, di posisi ketiga global inilah Vietnam nangkring dengan nilai transaksi mencapai 1,6 miliar Dolar AS, atau setara Rp28,65 triliun—sebuah angka yang sukses memukul mundur dominasi Indonesia di kawasan ASEAN.

Mundur sedikit ke catatan tahun 2024, taring Argentina di pasar global memang sangat tajam. Negara ini menguasai 48,3 persen dari total ekspor minyak kedelai dunia dan duduk manis di peringkat kedua eksportir bungkil kedelai global (pangsa pasar 21,7 persen), hanya kalah dari tetangganya, Brasil. Pertanyaannya, mampukah sektor peternakan Indonesia kembali mengejar agresivitas Vietnam di masa depan?