DIKSIMERDEKA.COM SANA’A Pemerintah Yaman yang disokong penuh Arab Saudi akhirnya kehabisan kesabaran. Mereka resmi menabuh genderang perang dan meluncurkan operasi militer besar-besaran demi merebut kembali seluruh wilayah yang kini dikangkangi kelompok pemberontak Houthi. Ironisnya, deklarasi nekat ini muncul tepat ketika milisi sokongan Iran tersebut justru sedang beringas-beringasnya unjuk gigi dan sukses mengepung sebuah kota basis pertahanan pemerintah.

Kepala Dewan Kepresidenan Yaman, Rashad al-Alimi, dengan lantang menyatakan sikapnya pada Minggu (4/10) waktu setempat.

“Saya mengumumkan hari ini dimulainya operasi militer untuk merebut kembali wilayah republik yang tersisa dan memperluas otoritas negara serta lembaga-lembaganya di seluruh wilayah nasional,” tegasnya dilansir AFP.

Ambisi ini jelas bukan perkara gampang dan terdengar sangat muluk. Pasalnya, pemerintah Yaman saat ini kondisinya sedang babak belur usai kehilangan sebagian besar pesisir Laut Merah dan area strategis di sekitar Selat Bab al-Mandab—yang tak lain adalah jalur nadi pelayaran internasional—gara-gara serangan kilat mematikan dari Houthi.

Baca juga :  🚨 Update: Iran Klaim Serang Pangkalan Militer AS di Bahrain

Rute Vital Taiz Dicekik, Houthi Makin Beringas

Kendati disokong persenjataan dan kekuatan militer raksasa Arab Saudi, pemerintah Yaman yang diakui dunia internasional itu masih ngos-ngosan membendung kebangkitan Houthi. Deklarasi perang ini bahkan meledak hanya beberapa jam setelah Houthi mencekik rute suplai vital yang menghubungkan kota Taiz yang terkepung dengan ibu kota sementara pemerintah, Aden, menurut laporan empat sumber keamanan.

Gempuran mematikan Houthi ini pecah setelah berhari-hari terjadi pertempuran sengit di dalam dan sekitar kota.

“Kami mendapat informasi bahwa Houthi telah mengambil alih daerah al-Safiya, di mana mereka memutus jalan utama dan mengambil alih kantor polisi,” ungkap seorang sumber kepolisian di area tersebut.

Tiga sumber dari militer Yaman mengamini jatuhnya wilayah dan rute suplai tersebut ke tangan pemberontak. Lalu lintas lumpuh total, dan Houthi kini mengepung rapat kota Taiz. Suasana di lapangan dikabarkan masih mencekam dengan baku tembak yang terus berlangsung.

Baca juga :  Selat Hormuz Ditutup, Harga BBM Terancam Melonjak: DPR Sebut Beban APBN Bisa Naik Rp10,3 Triliun

Korban jiwa pun bergelimpangan. Berdasarkan laporan sumber dari kedua belah pihak kepada AFP, Minggu, pertempuran brutal di sekitar provinsi barat Taiz ini telah menewaskan lebih dari 70 orang hanya dalam kurun waktu satu hari.

Kubu pemerintah menelan pil pahit dengan 34 tentaranya tewas—20 di antaranya tumbang di perbatasan Taiz dengan wilayah tetangga, Lahj. Sementara itu, sumber militer Houthi mengklaim 39 petempur mereka tewas dalam baku tembak lintas Taiz dan di daerah perbatasan dengan Lahj.

Hingga kini, kota Taiz sendiri masih dikuasai pasukan pemerintah. Namun, kota ini ibarat neraka kecil yang terkepung dari utara, timur, dan barat oleh pasukan Houthi, menjadikannya salah satu garis depan paling berdarah dalam Perang Yaman yang tak kunjung usai.

Serangan Balasan Sengit: Houthi Teror Ladang Minyak Saudi

Makin berani, Houthi tak cuma mengacak-acak Yaman, tapi juga berani meneror sang penyokong utama, Arab Saudi. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, pada Minggu sesumbar bahwa kelompoknya telah menembakkan rentetan rudal balistik dan drone ke fasilitas raksasa energi Saudi, Aramco, di Riyadh dan area Khurais di wilayah timur, yang memicu kebakaran hebat.

Baca juga :  Harga Plastik Naik 100%! UMKM Terancam Gulung Tikar, Pakar UGM Buka Fakta

Menurut klaim Houthi, gempuran mematikan ke fasilitas minyak itu adalah murni aksi balas dendam atas 50 serangan udara dan rudal dari koalisi pimpinan Saudi di Yaman dalam 12 jam terakhir.

Sejauh ini, pihak Arab Saudi masih bungkam dan belum memberikan konfirmasi resmi terkait insiden tersebut.

Namun yang pasti, posisi ekspor minyak Saudi kini makin terjepit dan berada di bawah tekanan hebat, ditambah lagi dengan adanya blokade Iran di Selat Hormuz di Teluk. Sementara itu, televisi corong Houthi, Al-Masirah, melaporkan bahwa serangan udara Saudi pada Minggu di wilayah utara kegubernuran al-Jawf dan Saada telah melukai sedikitnya dua orang.