Babak Baru Perang Dagang AS Kanada: Trump Jegal Impor Rp17,9 Triliun, Tetangga Makin Panas
DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON DC Hubungan Amerika Serikat dan Kanada yang belakangan panas dingin kini dipastikan makin mendidih. Pada Selasa dini hari, Washington nekat mengeksekusi palu godam dengan memblokir produk impor asal Kanada senilai nyaris Rp17,96 triliun ($1 miliar). Dalam perang dagang AS Kanada ini, produk-produk yang diharamkan masuk ke pasar Paman Sam ini membidik sektor minuman beralkohol, produk susu, hingga sepeda motor.
Secara nominal, angka Rp17,96 triliun mungkin hanya riak kecil jika dibandingkan dengan total raksasa perdagangan dua arah tahunan kedua negara yang menembus Rp15.811,84 triliun ($880 miliar). Namun, di panggung politik internasional, langkah ini menjadi genderang perang dagang AS Kanada yang makin keras ditabuh Donald Trump pada masa jabatan keduanya.
“Larangan impor ini tentu tidak akan membantu meredakan ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada,” tegas pengacara perdagangan Patrick Childress, mitra di firma hukum Holland + Knight yang juga mantan pejabat perdagangan AS.
Aksi Balas Dendam Bertarif Selangit
Akar dari kekacauan terbaru ini sejatinya sudah disemai sejak musim panas lalu. Trump, dengan dalih Kanada mendiskriminasi produsen susu, otomotif, dan minuman beralkohol AS, menggali kembali undang-undang era Depresi Hebat untuk memaksakan tarif 50 persen terhadap sekitar Rp359,36 triliun ($20 miliar) produk impor Kanada.
Kanada tentu tak tinggal diam dan langsung memberikan pukulan balasan lewat tarif 15 persen, 25 persen, hingga 50 persen, membalas impor AS setimpal dengan nilai kerugiannya. Tak terima dibalas, Trump menjatuhkan vonis blokir terhadap daftar produk Kanada yang efektif berlaku mulai Selasa pukul 12.01 waktu setempat.
Menurut Childress, dampak ekonomi pemblokiran ini mungkin minimal karena produk-produk di daftar hitam itu sejatinya sudah lebih dulu dihantam tarif selangit. “Untuk banyak dari barang-barang ini, tarif 50 persen tersebut sudah bertindak sebagai larangan de facto dengan membuat impor dari Kanada ke Amerika Serikat menjadi tidak ekonomis,” paparnya.
Data yang dihitung oleh Jacob Jensen, Direktur Kebijakan Perdagangan di lembaga pemikir haluan kanan-tengah American Action Forum, merinci bahwa larangan tersebut akan memukul impor Kanada senilai Rp17,37 triliun ($967 juta) berdasarkan angka tahun 2025. Dari jumlah fantastis itu, 87 persennya adalah minuman beralkohol. Langkah ini diambil AS sebagai aksi balas dendam setelah beberapa provinsi di Kanada merespons provokasi Trump dengan menurunkan paksa minuman keras asal AS dari rak toko mereka.
Sektor lain yang kena hantam adalah produk olahan susu, termasuk whey. Perseteruan ini merupakan buntut panjang dari upaya Kanada melindungi industri susunya lewat tarif selangit begitu impor menembus batas kuota.
Selain itu, sepeda motor ikut masuk keranjang hukuman. Bombardier Recreational Products (BRP) di Quebec mengonfirmasi bahwa motor roda tiga andalan mereka, Can-Am Spyder dan Canyon, akan dilarang masuk AS. Meski begitu, pihak BRP menyebut pukulan telak ini kemungkinan baru terasa tahun depan lantaran produksi dan pengiriman musim ini sudah mayoritas rampung.
“Ini menandai eskalasi lain dalam perang dagang yang dapat memicu pembalasan lebih lanjut di pihak Kanada,” analisis Jensen. Ia memprediksi eksportir Kanada dan importir AS yang terdampak akan sangat termotivasi untuk menekan pejabat perdagangan di kedua belah pihak demi mencari “resolusi dari seluruh cobaan ini.”
Menyandera USMCA dan Lelucon ‘Negara Bagian Ke-51’
Lebih dari sekadar urusan bea cukai, kebuntuan ini menyandera Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA). Ironisnya, pakta perdagangan yang pernah dibanggakan Trump di periode pertamanya sebagai “perjanjian perdagangan paling modern, mutakhir, dan seimbang dalam sejarah negara kita” itu kini justru dirusaknya sendiri lewat serangkaian tarif.
Fokus amarah Trump memang tertuju ke Kanada. Ia secara terang-terangan berambisi menarik sektor manufaktur Kanada agar bedol desa pindah ke selatan. Publik Kanada makin dibuat naik pitam ketika Trump berulang kali melontarkan lelucon provokatif yang menyarankan agar negara tetangganya itu menjadi negara bagian AS ke-51.
Menghadapi arogansi tersebut, Perdana Menteri Kanada Mark Carney memilih tidak menunduk. Naik ke tampuk kekuasaan tahun lalu dengan janji melawan Trump, Carney tidak hanya membalas tarif dagang. Ia mulai menginisiasi langkah radikal untuk melepaskan ketergantungan negerinya pada AS, pasar yang tahun lalu menelan lebih dari 70 persen total ekspor Kanada.
“Sekarang ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan akses ke pasar Amerika Serikat,” tegas Carney awal bulan ini. Sebagai langkah perlawanan strategis, Carney bahkan mulai membuka tangan menyambut prospek Kanada untuk menjadi negara anggota asosiasi pertama di Uni Eropa.

Tinggalkan Balasan