Skandal Memalukan Militer AS: 8 Awak Kapal Induk USS Lincoln Bunuh Diri
DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON – Borok kelam di balik misi militer Amerika Serikat kembali terbongkar ke publik. Sebanyak delapan Awak USS Lincoln Bunuh Diri di tengah masa penugasan yang kelewat batas dan kondisi armada yang memprihatinkan. Bukannya dievaluasi, krisis mental para pelaut ini justru sempat ditepis mentah-mentah oleh petinggi pertahanan AS sebagai berita bohong.
Fakta mengejutkan ini akhirnya diakui langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Angkatan Laut AS, Hung Cao. Dalam surat balasannya kepada Senator AS Kirsten Gillibrand pada Selasa waktu setempat, Cao mengonfirmasi rentetan insiden tragis di kapal induk raksasa USS Abraham Lincoln tersebut.
“Sejak awal penugasan Lincoln, total ada delapan percobaan bunuh diri di seluruh grup tempur,” tulis Cao mewakili Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, menjawab cecaran Gillibrand soal bobroknya kualitas hidup para pelaut seperti dalam laporan The Guardian, Kamis(24/9/2026).
“Jumlah ini termasuk kru Lincoln dan pelaut dari sayap udara kapal induk, staf grup tempur dan skuadron perusak, kapal perusak pengawal, dan semua skuadron penerbangan yang diangkut,” rinci Cao dalam suratnya.
CNN menjadi media pertama yang membongkar isi surat balasan tersebut. Diketahui, kru kapal USS Lincoln akhirnya baru bisa bersandar pada 1 September lalu di sebuah kota resor di Thailand setelah terombang-ambing di lautan selama 286 hari. Jadwal pulang mereka yang seharusnya jatuh pada bulan Mei terpaksa molor panjang akibat perang yang tak kunjung usai.
Krisis mental ini bukan isapan jempol. Pada Agustus lalu, dua surat kabar militer telah membongkar depresi parah yang dialami para pelaut, termasuk keputusasaan yang memicu aksi nekat melompat dari atas kapal ke laut lepas.
Cao membeberkan, pada Maret lalu, upaya seorang pelaut yang hendak terjun ke laut berhasil digagalkan rekan-rekannya. Namun pada Agustus, seorang pelaut benar-benar nekat melompat. Beruntung, nyawanya masih tertolong. Pelaut itu diselamatkan, mendapat perawatan medis, sebelum akhirnya “dipindahkan dari kapal untuk perawatan lanjutan”, ungkap Cao.
Logistik Dipangkas, Fasilitas Berjamur, Pejabat Saling Tuding
Penderitaan kru tak berhenti di urusan mental dan tekanan tugas. Laporan MS Now pada Agustus lalu menyoroti hal yang tak kalah memprihatinkan: kamar mandi kapal yang berjamur hingga menipisnya stok pasokan dasar seperti makanan dan sabun.
Cao dalam suratnya secara tak langsung mengamini krisis logistik tersebut. Ia mengakui pilihan menu makanan utama terpaksa dipangkas sementara dari dua menjadi hanya satu pilihan. Dalihnya, langkah itu “diterapkan untuk mengoptimalkan ketahanan dan memastikan waktu siaga yang berkelanjutan di pos penugasan”. Meski begitu, ia bersikeras mengklaim bahwa kru tetap disajikan empat kali makan bergizi seimbang setiap harinya, kendati mengakui adanya keterlambatan dalam pengisian ulang pasokan.
Sikap defensif dan terkesan tutup mata justru ditunjukkan oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Saat moral prajuritnya berada di titik nadir akibat kelelahan luar biasa, Hegseth pada Agustus lalu malah menuding media massa “benar-benar memutarbalikkan” situasi.
“Kami memastikan setiap kapal, setiap kru, setiap kapten memiliki segala yang bisa kami berikan setiap saat,” kilahnya angkuh di hadapan wartawan kala itu.
Sikap arogan inilah yang menyulut amarah kubu Demokrat. Senator Kirsten Gillibrand langsung menguliti habis kepedulian pemerintahan saat ini melalui pernyataan tajamnya yang dirilis Rabu.
“Apa yang ditepis oleh Trump dan Menteri Hegseth sebagai ‘berita palsu’ ternyata merupakan kondisi yang serius dan memburuk bagi para anggota militer kita,” semprot Gillibrand kepada The Guardian.
Ia menambahkan dengan nada geram, “Pasukan kita dan keluarga mereka berkorban sangat besar setiap hari, namun presiden mengabaikan mereka dengan rasa tidak hormat yang terang-terangan. Bahwa pemerintahan ini bisa menemukan uang pembayar pajak yang tak ada habisnya untuk bom, ruang pesta, dan para miliarder, namun tidak bisa mengurus anggota militer kita, adalah sesuatu yang sama sekali tidak bisa diterima.”
Di tengah hujan kritik pedas ini, seorang pejabat Angkatan Laut AS hanya bisa memberikan pernyataan normatif sebagai pembelaan akhir. “Angkatan Laut dan Menteri Angkatan Laut sangat berkomitmen pada kesehatan, kesejahteraan, dan moral pelaut,” tandas pejabat tersebut kepada The Guardian pada hari Rabu.

Tinggalkan Balasan