Gubernur Koster Beberkan RAPBD 2027, Pertumbuhan Ekonomi Ditargetkan 5,6-6,4 Persen
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster membeberkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Bali 2027. Dalam rancangan tersebut, pemerintah provinsi menargetkan pertumbuhan ekonomi Bali berada pada kisaran 5,6-6,4 persen.
Paparan tersebut disampaikan Koster kepada Anggota DPRD Bali dalam Sidang Paripurna, Senin (7/9/2026).
“Target pertumbuhan ekonomi berkisar 5,6-6,4 persen. Kita maunya mengejar ke angka 6 persen. Tapi dari data empirisnya kiranya agak berat. Mungkin kita bisa mengejar di 5,8 persen,” kata Koster.
Koster mengatakan target makro ekonomi tersebut disusun secara optimistis, tetapi tetap realistis dengan berpijak pada capaian pembangunan hingga semester I 2026.
Hingga triwulan II 2026, Kister mengatakan ekonomi Bali tercatat tumbuh 5,78 persen. Menurut Koster, capaian tersebut menempatkan Bali sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kelima di Indonesia.
Empat provinsi yang berada di atas Bali, kata dia, merupakan daerah yang memiliki sumber daya alam seperti nikel, batu bara, minyak, dan gas.
“Jadi target pertumbuhan ekonomi 5,6-6,4 persen itu bisa dicapai,” ujarnya.
Selain pertumbuhan ekonomi, Pemprov Bali menargetkan tingkat kemiskinan pada 2027 berada di kisaran 2,75-3,40 persen. Sementara tingkat pengangguran terbuka ditargetkan sebesar 1,76-2,25 persen.
Koster mengatakan target tersebut masih realistis mengingat capaian Bali pada 2025. Tingkat kemiskinan Bali pada tahun tersebut tercatat 3,42 persen dan menjadi yang terendah di Indonesia.
“Kalau targetnya 3,40 persen tahun 2027, astungkara bisa dicapai,” katanya.
Sementara tingkat pengangguran terbuka Bali pada 2025 tercatat 1,45 persen. Angka tersebut juga berada di bawah kisaran target 2027.
“Pengangguran Bali ini terendah di Indonesia,” ujar Koster.
Pendapatan Daerah Rp5,7 Triliun
Dari sisi fiskal, pendapatan daerah dalam RAPBD Bali 2027 direncanakan mencapai lebih dari Rp5,7 triliun. Pendapatan tersebut antara lain bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang direncanakan sekitar Rp4,5 triliun.
PAD tersebut meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, serta lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
Sementara pendapatan transfer direncanakan lebih dari Rp1,14 triliun. Angka tersebut merupakan pendapatan transfer dari pemerintah pusat, dana bagi hasil (DBH) dan dana alokasi khusus (DAK). Adapun lain-lain pendapatan yang sah direncanakan meningkat dibandingkan 2026.
Di sisi belanja, Pemprov Bali merencanakan belanja daerah sebesar sekitar Rp6,1 triliun. Belanja tersebut terdiri atas belanja operasi sekitar Rp4,8 triliun yang mencakup belanja pegawai, barang dan jasa, subsidi, serta hibah.
Kemudian belanja modal direncanakan lebih dari Rp337 miliar. Belanja tersebut mencakup belanja modal tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, jaringan dan irigasi, serta aset lainnya.
Selain itu, belanja tidak terduga dialokasikan sebesar Rp150 miliar. Sementara belanja transfer direncanakan sekitar Rp85,5 miliar yang terdiri atas belanja bagi hasil dan bantuan keuangan.
Dengan komposisi tersebut, RAPBD Bali 2027 diproyeksikan mengalami defisit lebih dari Rp475 miliar atau sekitar 8,23 persen.
Koster mengatakan pemerintah telah menyiapkan skema pembiayaan untuk menutup defisit tersebut sekaligus mengelola pembiayaan lainnya.
“Sudah dipikirkan pembiayaan untuk mengatasi defisitnya maupun juga pengelolaan pembiayaan yang lainnya,” ungkap Koster.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan