Gangguan Tak Terduga di US Open: Aroma Ganja Bikin Sabalenka Hentikan Laga, Alcaraz Lolos Babak Keempat
NEW YORK DIKSIMERDEKA.COM – Bukan New York namanya jika tanpa kejutan. Namun, kejutan di lapangan tenis US Open kali ini bukan datang dari pukulan forehand mematikan, melainkan dari udara. Juara bertahan dua kali, Aryna Sabalenka, sampai harus menghentikan pertandingannya sejenak karena tak tahan dengan aroma ganja yang menyengat di area lapangan.
Insiden unik dan mengganggu ini terjadi saat petenis Belarusia itu menghadapi ujian berat dari Kamilla Rakhimova. Beruntung, konsentrasi Sabalenka tak sepenuhnya buyar, dan ia berhasil menyegel tiket ke babak keempat dengan kemenangan meyakinkan 6-3, 6-4.
Di awal set, saat memimpin 3-0, Sabalenka yang tersenyum kecut menghampiri wasit kursi, Eva Asderaki-Moore. Ia melontarkan keluhan langsung: “Seseorang sedang mengisap ganja, bisa tolong… karena baunya sangat menyengat.”
Seusai pertandingan, dengan nada bercanda namun sarat kritik, Sabalenka menceritakan kembali interaksinya dengan sang wasit. Ia menyadari bahwa di New York, penggunaan ganja memang legal dan aromanya kerap tercium di sekitar area turnamen maupun penjuru kota.
“Saya berkata, teman-teman, kalian bisa melakukan apa saja, kalian bisa mengisap apa saja, kalian bisa bersantai sesuka kalian, tapi tolong, jangan lakukan itu di sekitar lapangan tenis. Agak sulit menghadapi bau itu saat Anda mencoba bersaing memberikan yang terbaik,” ungkap Sabalenka seperti yang dilansir The Guardian Sabtu (5/9/2026).
Awalnya, ia mengira asap itu berasal dari penonton di tribun jarak dekat. Namun, hembusan angin kencang membuat sumber bau menjadi misteri. Yang pasti, Sabalenka menyebut ini adalah aroma ganja paling pekat yang pernah ia cium selama bertahun-tahun berkompetisi di New York.
“Sangat menyengat, ya. Juga, karena saat itu agak berangin. Saya tidak tahu apakah itu, seperti, datang dari penonton atau dari luar karena angin meniupnya ke dalam stadion. Saya tidak tahu. Saya hanya berharap mereka akan sedikit lebih sadar akan hal semacam itu,” tegasnya.
Di luar drama aroma menyengat itu, Sabalenka membuktikan mentalitas juaranya. Ia menembus babak 16 besar tanpa kehilangan satu set pun. Servisnya mematikan: 10 ace meluncur tanpa satu pun break point yang harus dihadapinya.
H2: Tensi Panas di Ruang Ganti dan Laju Sempurna Carlos Alcaraz
Tekanan di pundak Sabalenka sejatinya tak main-main. Ia datang ke New York dengan rekam jejak performa yang berliku. Sejak menjuarai Indian Wells dan Miami secara beruntun Maret lalu, ia tak pernah lagi menapakkan kaki di partai final. Tahta nomor 1 dunia yang telah ia genggam selama 97 pekan juga terancam lepas, kecuali jika ia mampu mencetak hattrick juara US Open beruntun dan petenis nomor 2 dunia, Elena Rybakina, tersingkir sebelum semifinal.
Beban berat itu tampaknya membuat Sabalenka sedikit sensitif di luar lapangan. Usai kemenangan dominan atas Polina Iatcenko di babak kedua, ia sempat terlibat cekcok panas dengan seorang jurnalis. Sabalenka meradang ketika rutinitas pra-turnamennya disebut sebagai “pesta dan bersenang-senang”.
Jawaban tajam dan menohok pun meluncur dari mulut Sabalenka: “Kalian ini seperti lelucon. ‘Pesta, bersenang-senang …’ seperti, mengapa Anda mengatakan itu? Mengapa Anda berpikir seperti itu? Pertanyaan macam apa itu? Hanya karena saya memposting, seperti, beberapa aktivitas dengan merek, dan Anda pikir saya berpesta, bukan berlatih?”
Tensi wawancara itu baru berakhir saat Sabalenka memberi peringatan keras kepada sang jurnalis: “Pikirkan sebelum Anda berbicara.”
Ujian sesungguhnya menanti Sabalenka di babak keempat. Ia akan ditantang jagoan tuan rumah, Taylor Townsend, yang baru saja menyingkirkan unggulan ke-15 Diana Shnaider dengan skor 6-2, 6-7 (3), 6-3.
Sementara itu, di sektor putra, nama-nama besar terus melaju. Kampiun US Open 2021, Daniil Medvedev, menunjukkan ketajamannya dengan menundukkan unggulan ke-29, Arthur Rinderknetch, tiga set langsung 6-4, 6-4, 6-4.
Namun, sorotan utama tetap tertuju pada Carlos Alcaraz. Sang juara bertahan asal Spanyol ini terus membangun kepercayaan diri usai absen empat setengah bulan karena cedera pergelangan tangan. Alcaraz sukses membungkam petenis Tiongkok, Wu Yibing, dengan skor 6-3, 6-4, 6-1.
Sempat melalui momen-momen krusial dan ketat di dua set awal, Alcaraz menunjukkan kelasnya. Kemampuannya memecahkan masalah di lapangan membuktikan bahwa ia tetaplah ancaman nyata meski baru kembali dari cedera.
Di babak selanjutnya, Alcaraz sudah ditunggu unggulan ke-20 asal Amerika Serikat, Tommy Paul.
“Sejujurnya, saya lebih baik dari yang saya kira,” aku Alcaraz optimistis. “Secara fisik, saya pikir saya akan merasa buruk setelah pertandingan pertama, tetapi saya pulih dengan sangat baik. Saya melakukan hal-hal hebat di luar lapangan agar berada dalam kondisi yang baik, dan saat ini saya pikir level saya bagus. Saya sudah mendapatkan ritme kompetisi. Setiap kali saya melangkah ke lapangan, saya memberikan segalanya.” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan