KATMANDHU DIKSIMERDEKA.COM Tragedi mematikan kembali mengoyak kawasan pegunungan Himalaya pekan ini. Pemerintah setempat mencatat angka kematian akibat banjir bandang di perbatasan Nepal dan Tibet melonjak gila-gilaan menembus 469 jiwa, sementara lebih dari 1.300 orang masih lenyap tak berbekas tersapu arus ganas.

Parahnya lagi, di tengah kondisi kritis yang mempertaruhkan ribuan nyawa ini, otoritas Tiongkok justru mengerem dan menyetop total operasi penyelamatan di pusat bencana Tibet. Keputusan kontroversial ini terpaksa diambil lantaran sebuah danau raksasa mendadak terbentuk dari timbunan material longsor dan kini mengancam akan pecah berantakan.

Tiongkok Pelit Informasi, Ancaman Danau Maut Mengintai

Kantor berita corong pemerintah Tiongkok, CCTV, pada hari Jumat melaporkan bahwa danau yang tercipta dari tumpukan puing-puing raksasa tersebut sudah mulai meluap ganas ke arah rute tim penyelamat. Publik internasional patut menyoroti transparansi rezim Beijing dalam insiden ini. Di bawah kendali informasi yang super ketat, media pemerintah hanya menyajikan laporan singkat yang memoles citra operasi SAR dan cuma mau mengakui tiga korban tewas di wilayahnya. Padahal, media Tiongkok sendiri keceplosan menyebut setidaknya 558 orang masih hilang di perbatasan Tibet, dengan 260 di antaranya merupakan Warga Negara Asing (WNA).

Baca juga :  BMKG Minta Masyarakat Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem Hingga Maret-April Mendatang

Selanjutnya, peringatan bahaya tingkat tinggi terus menyala. Kantor berita Xinhua melaporkan pada Kamis larut malam bahwa volume air danau maut tersebut diprediksi akan terus meroket akibat guyuran hujan deras dan mencapai puncaknya pada Selasa depan. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan “risiko jebol yang dapat mengirimkan air banjir ke hilir dan berpotensi menyebabkan kerusakan lebih lanjut di daerah-daerah termasuk Pelabuhan Gyirong dan tempat lain di bagian hilir.” Hingga Jumat kemarin, Tiongkok mengklaim telah mengangkut keluar 499 warganya dan 555 WNA dari zona merah tersebut.

Ratusan Turis Asing Lenyap Tanpa Jejak

Beralih ke wilayah Nepal, situasinya tak kalah bikin merinding. Kepolisian dan otoritas pariwisata Nepal merilis data mengerikan: dari 826 orang yang berstatus hilang di wilayah mereka, lebih dari 500 di antaranya adalah turis asing. Tragedi ini langsung memukul berbagai negara. Rinciannya mencakup 177 warga India, 90 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, hingga 25 warga Kanada yang kini raib ditelan bencana hidrometeorologi tersebut.

Baca juga :  Cuaca Ekstrim, PLN Bali Sigap Atasi Gangguan

Misi Hidup Mati Militer Nepal di Terowongan Trishuli

Di saat evakuasi di sisi Tiongkok mandek, militer Nepal justru nekat menembus bahaya. Pasukan elite bersenjata memutar baling-baling helikopter mereka pada Jumat untuk mengevakuasi sekitar 100 orang yang terjebak hidup-hidup di dalam kegelapan terowongan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Trishuli 3A yang hancur dihantam banjir.

Juru bicara Angkatan Darat Nepal, Raja Ram Basnet, membeberkan secara blak-blakan betapa gilanya medan operasi mereka kali ini.

Baca juga :  Waspada ! Potensi Cuaca Ekstrem Sepekan ke Depan

“Fokus kami adalah pencarian dan penyelamatan orang-orang… beberapa orang terjebak di terowongan proyek pembangkit listrik Trishuli 3A,” tegas Basnet memaparkan realitas lapangan. “Dua helikopter telah dikerahkan tetapi ini sangat menantang karena bahkan sangat sulit untuk menemukan titik masuk terowongan. Upaya bantuan juga sedang berlangsung untuk memberikan para korban yang diselamatkan apa yang mereka butuhkan.”

Beruntungnya, Kantor Perdana Menteri Nepal memastikan bahwa prajurit militer telah berhasil menarik keluar 350 pekerja dan warga lokal dari terowongan maut tersebut di tengah kondisi lapangan yang sangat berisiko. Namun, kabar duka terus mengalir deras. Tim SAR lapangan melaporkan penemuan tumpukan jenazah yang terseret ratusan mil jauhnya dari titik nol (epicenter) bencana hingga mendarat di distrik Chitwan, Nepal, dekat perbatasan Tibet. Sementara itu, puluhan korban yang selamat dengan luka parah langsung diterbangkan ke Kathmandu demi mendapatkan penanganan medis tingkat lanjut.