PETALING JAYA – Ancaman kabut asap kembali menghantui kawasan Asia Tenggara. Musim kemarau yang mengeringkan lahan telah membuat kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia merosot tajam ke level tidak sehat. Kondisi yang makin mencekik ini membuat pemerintah Malaysia tidak bisa tinggal diam dan mendesak negara-negara anggota ASEAN untuk segera memperketat langkah pencegahan.

Dilansir The Strait Times, menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia, Arthur Joseph Kurup, menegaskan bahwa negaranya memegang teguh komitmen regional untuk mewujudkan ASEAN bebas kabut asap pada tahun 2030. Komitmen ini harus diwujudkan melalui implementasi nyata dari Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas (AATHP). Keresahan ini bahkan telah dilayangkan secara resmi melalui pesan kepada Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, pada 21 Agustus lalu.

Ancaman Kemarau dan El Nino

Arthur menyoroti bahwa cuaca kering yang berkepanjangan di kawasan selatan ASEAN telah memicu lonjakan titik api (hotspot). Ia memperingatkan bahwa situasi ini bisa berujung fatal dan makin parah karena fenomena El Nino diperkirakan akan terus menguat dalam beberapa bulan ke depan.

Terkait potensi krisis di depan mata, Arthur memberikan peringatan keras melalui pernyataan resminya:

“Meskipun kebakaran saat ini masih terkendali di dalam batas-batas negara anggota ASEAN masing-masing, risiko kabut asap lintas batas membutuhkan kesiapsiagaan kolektif dan peningkatan kewaspadaan di tingkat regional.”

Ia mendesak seluruh anggota ASEAN untuk turun tangan memantau ketat area-area berisiko tinggi, meningkatkan pengawasan titik api, menindak tegas pembakaran terbuka, dan memastikan armada pemadam kebakaran siap tempur agar api tidak menjalar.

Rapor Merah Kualitas Udara

Gawatnya situasi ini tergambar jelas dari data Sistem Manajemen Indeks Pencemar Udara (API) per 22 Agustus pagi. Tidak ada satupun wilayah di Malaysia yang mencatatkan kualitas udara “Baik”. Mayoritas, yakni 57 wilayah, terjebak di status “Sedang”, sementara 11 wilayah lainnya di Sarawak dan Melaka telah menembus level “Tidak Sehat”.

Berikut adalah rincian standar status kualitas udara (API) yang berlaku:

  • 0-50: Baik (Tidak ada wilayah yang masuk kategori ini)
  • 51-100: Sedang (Mencakup 57 wilayah seperti Kapit, Johan Setia, dan Shah Alam)
  • 101-200: Tidak Sehat (Terburuk di Serian dengan angka 190, disusul Kuching 181, dan Samarahan 177)
  • 201-300: Sangat Tidak Sehat
  • Di atas 300: Berbahaya

Meski kondisi udara sedang genting, Malaysia tetap mengapresiasi langkah proaktif Sekretariat ASEAN sebagai pusat koordinasi sementara. Mereka berharap komitmen yang lebih kuat dari setiap negara anggota bisa menjaga kelestarian lingkungan hidup dari ancaman kabut asap demi generasi mendatang.