BOGOTA, DIKSIMERDEKA.COM – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyiapkan bantuan keamanan senilai US$1 miliar atau sekitar Rp17,8 triliun untuk Kolombia. Bantuan jumbo tersebut digelontorkan tak lama setelah Abelardo De La Espriella resmi dilantik sebagai Presiden Kolombia yang baru. Dengan kurs US$1 = Rp17.801, paket bantuan keamanan AS itu setara dengan Rp17,8 Triliun

Dilansir The Guardian, De La Espriella, yang dikenal sebagai sekutu Trump, langsung memasang sikap keras dalam pidato perdananya. Presiden berusia 48 tahun itu berjanji melakukan perubahan besar terhadap arah kebijakan Kolombia, terutama dalam menghadapi kelompok bersenjata dan jaringan perdagangan narkoba.

“Saya datang untuk menutup babak panjang pengunduran diri nasional dan, bersama rakyat, memulai transformasi paling mendalam terhadap takdir kita,” kata De La Espriella dalam pidato setelah pengambilan sumpah di Pangkalan Militer Batalion Pichincha, Cali, Jumat( 7/8/2026)..

Ia juga mengirim pesan tegas kepada kelompok kriminal dan jaringan narkoterorisme.

“Sudah waktunya mengembalikan ketertiban, kewenangan dan kebebasan,” ujarnya.

Trump Siapkan Duit Rp17,8 Triliun

Dukungan Washington terhadap pemerintahan baru Kolombia tidak berhenti pada ucapan selamat.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan pemerintah Amerika bersama Kongres berniat mengucurkan US$1 miliar atau sekitar Rp17,8 triliun dalam bentuk bantuan keamanan.

Paket tersebut ditujukan untuk membantu pemerintahan De La Espriella mencapai sejumlah tujuan keamanan yang dianggap menjadi kepentingan bersama kedua negara.

Baca juga :  Trump Beri Iran Waktu 10 Hari untuk Deal Nuklir, Armada Perang AS Bergerak

“Aspek utama dari kemitraan yang diperbarui ini adalah bantuan US$1 miliar,” demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS.

Besarnya bantuan tersebut menunjukkan semakin eratnya hubungan pemerintahan Trump dengan pemerintahan baru Kolombia.

De La Espriella sebelumnya mendapat dukungan Trump menjelang putaran kedua pemilihan presiden Kolombia.

Gebuk Kelompok Bersenjata

Dalam pidato perdananya, De La Espriella tak banyak berbasa-basi mengenai kelompok bersenjata.

Ia mengatakan era perundingan dengan kelompok-kelompok bersenjata telah habis. Menurutnya, kelompok kriminal dan jaringan narkoterorisme kini hanya memiliki dua pilihan.

“Menyerah kepada supremasi hukum atau menghadapi respons tegas negara Kolombia dan pasukan keamanannya,” tegasnya.

De La Espriella juga berjanji mempercepat pemberantasan tanaman ilegal yang menjadi bahan baku kokain.

Ia bahkan berencana menggunakan herbisida dari udara untuk menghancurkan tanaman koka. Menurutnya, bahan yang digunakan akan dipilih dengan mempertimbangkan keamanan manusia dan lingkungan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah baru untuk memberantas produksi narkoba hingga ke sumbernya.

Kolombia Gabung Program Trump

De La Espriella juga mengumumkan bahwa salah satu tindakan awal pemerintahannya adalah bergabung dengan Shield of the Americas, program yang didirikan Trump.

Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintahan baru Kolombia ingin mempererat kerja sama keamanan dengan Washington.

Hubungan De La Espriella dan Trump memang sudah terjalin sejak masa kampanye. Trump memberikan dukungan kepada De La Espriella menjelang pemilihan putaran kedua.

Baca juga :  Harga BBM AS Tembus Rekor Tertinggi Sejak 2022, Efek Gejolak Selat Hormuz

Kemenangan De La Espriella sekaligus memperkuat tren pergeseran politik ke kanan yang terjadi di sejumlah negara Amerika Latin.

Perubahan tersebut terjadi ketika sejumlah negara menghadapi persoalan ekonomi dan meningkatnya kriminalitas. Situasi itu membuat sebagian pemilih tertarik kepada kandidat sayap kanan yang menawarkan kebijakan keamanan lebih keras dan agenda nasionalisme.

Negara Mau Dipangkas 40 Persen

Tak hanya urusan keamanan, De La Espriella juga membawa agenda besar di bidang ekonomi.

Ia berjanji melakukan langkah-langkah penghematan untuk mengembalikan kepercayaan terhadap perekonomian Kolombia.

Salah satu gagasannya adalah memangkas ukuran negara hingga 40 persen.

Selain itu, sektor minyak dan gas akan kembali didorong sebagai salah satu mesin ekonomi Kolombia.

Namun, sejumlah analis menilai tidak semua agenda tersebut bisa langsung diwujudkan. Sebagian kebijakan dapat dilakukan melalui keputusan presiden, tetapi banyak proposal lainnya membutuhkan dukungan Kongres.

Masalahnya, parlemen Kolombia terpecah sehingga pemerintah harus melakukan negosiasi politik untuk mendapatkan dukungan.

Akibatnya, sejumlah agenda kampanye De La Espriella berpotensi mengalami perubahan atau pengurangan dalam proses pembahasan di Kongres.

Oposisi Mulai Bergerak

Sementara De La Espriella merayakan kemenangan politiknya, kubu oposisi mulai menunjukkan perlawanan.

Kandidat kiri Ivan Cepeda, yang merupakan sekutu mantan Presiden Gustavo Petro, kalah tipis dalam putaran kedua. Petro sendiri disebut belum mengakui kemenangan De La Espriella.

Baca juga :  RUU Pertahanan AS Rp20.601 Triliun Lolos Tipis, Kongres Ribut Gara-Gara Israel

Cepeda bahkan memimpin aksi massa di Barranquilla pada Jumat pagi.

Dalam aksi tersebut, ia menyerukan agar oposisi mempertahankan demokrasi dan menempuh jalur pembangkangan sipil secara damai.

Cepeda menuding pemerintahan baru harus diawasi secara ketat agar perubahan politik ke kanan tidak mengancam demokrasi.

Tamu Penting Hadiri Pelantikan

Pelantikan De La Espriella juga dihadiri sejumlah tokoh internasional.

Sebelum pelantikan, ia melakukan pertemuan bilateral dengan Raja Spanyol serta para pemimpin Argentina, Ekuador, Chile, Paraguay dan Panama.

Presiden Kolombia yang baru itu juga menerima kunjungan Gianni Infantino, Presiden FIFA yang tengah menghadapi sorotan.

Sementara dari Washington, AS mengirim delegasi yang dipimpin Pelaksana Tugas Jaksa Agung Todd Blanche.

Kehadiran delegasi AS sekaligus menjadi sinyal kuat mengenai pentingnya hubungan Washington-Bogota di bawah pemerintahan baru.

Dengan paket bantuan keamanan senilai Rp17,8 triliun, janji perang terhadap kartel narkoba, rencana memangkas birokrasi hingga 40 persen serta agenda menghidupkan kembali sektor minyak dan gas, De La Espriella kini menghadapi pekerjaan besar.

Presiden baru Kolombia itu dituntut membuktikan bahwa janji perubahan yang disampaikan dengan nada keras saat kampanye dan pelantikan benar-benar mampu mengubah kondisi ekonomi serta keamanan negara.

Di sisi lain, dukungan besar dari Trump membuat arah pemerintahan baru Kolombia semakin jelas: lebih keras terhadap narkoba, lebih ramping dalam birokrasi, dan semakin dekat dengan Washington.