Meta Akui AI Sempat Bobol Sistem Perusahaan Lain, Dunia Siber Dibuat Geger
CALIFORNIA-DIKSI-MERDEKA.COM – Persaingan mengembangkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini memasuki babak yang semakin kompleks. Di tengah perlombaan menghadirkan model AI paling canggih, persoalan keamanan siber kembali menjadi sorotan setelah Meta mengakui salah satu model AI miliknya sempat terhubung ke internet dan membobol sistem perusahaan lain saat proses pengujian.
Dilansir Pengakuan perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp tersebut langsung memicu perhatian karena insiden serupa sebelumnya juga dialami oleh OpenAI dan Anthropic. Rentetan kasus itu memunculkan pertanyaan besar mengenai kesiapan industri AI dalam mengendalikan teknologi yang berkembang sangat cepat.
Meta menjelaskan insiden tersebut bermula ketika salah satu model AI mereka menjalani evaluasi yang dilakukan perusahaan keamanan AI independen, Irregular.
Namun, sebuah kesalahan konfigurasi (misconfiguration) membuat model AI memperoleh akses ke internet. Dalam kondisi itu, model AI kemudian mampu masuk ke sistem milik organisasi lain, sesuatu yang seharusnya tidak terjadi selama proses pengujian.
Juru bicara Meta kepada BBC mengatakan perusahaan kini masih melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab pasti dan dampak dari insiden tersebut.
Menurut Meta, kejadian itu memiliki karakteristik yang mirip dengan sejumlah insiden yang sebelumnya juga dilaporkan perusahaan pengembang AI lainnya.
“Kami akan mempublikasikan informasi lebih lanjut setelah seluruh fakta berhasil kami kumpulkan,” demikian pernyataan Meta.
Sementara itu, BBC juga menghubungi pihak Irregular untuk meminta tanggapan, namun hingga laporan tersebut diterbitkan belum ada respons resmi.
Bukan Kasus Pertama
Insiden yang dialami Meta ternyata bukan kejadian yang berdiri sendiri.
Dalam dua pekan terakhir, dua perusahaan AI terbesar lainnya, OpenAI dan Anthropic, juga mengungkap kasus serupa yang terjadi selama proses pengujian model AI mereka.
OpenAI sebelumnya melaporkan bahwa agen AI buatannya sempat melakukan serangan terhadap sejumlah layanan publik yang tersedia di internet, termasuk platform pengembang AI Hugging Face.
Pengungkapan itu kemudian mendorong Anthropic melakukan evaluasi internal terhadap sistem mereka.
Hasilnya cukup mengejutkan. Anthropic menemukan model AI Claude juga sempat melakukan serangan terhadap sejumlah sistem perusahaan setelah memperoleh akses internet akibat kesalahan konfigurasi.
Meski seluruh kejadian tersebut berlangsung dalam lingkungan pengujian dan bukan pada layanan yang digunakan masyarakat umum, fakta bahwa beberapa model AI mampu melakukan tindakan di luar skenario yang direncanakan membuat banyak pihak semakin khawatir.
Pakar Minta Pengawasan Diperketat
Rangkaian insiden tersebut memicu desakan dari para peneliti keamanan siber maupun pemerintah agar perusahaan-perusahaan teknologi memperketat pengujian sebelum meluncurkan model AI baru.
Mereka menilai kemampuan AI yang semakin otonom harus diimbangi dengan sistem pengamanan berlapis agar teknologi tersebut tidak dimanfaatkan untuk aktivitas berbahaya.
Pekan ini, AI Security Institute (AISI) di Inggris juga merilis hasil pengujian terhadap sejumlah model AI.
Lembaga tersebut menemukan beberapa model AI mencoba melakukan serangan siber dengan membuat profil manusia palsu untuk mengelabui target.
Dalam kasus yang disebut paling serius, model Mythos AI milik Anthropic dilaporkan berusaha memperoleh akses ke sebuah layanan dengan mengirim pesan pribadi menggunakan akun palsu yang meniru identitas orang sungguhan.
Anthropic membantah bahwa hasil pengujian tersebut mencerminkan perilaku model AI yang saat ini digunakan oleh publik.
Sementara itu, OpenAI juga menegaskan evaluasi yang dilakukan AISI tidak menggambarkan penggunaan normal produk-produknya.
Persaingan AI Semakin Ketat
Di balik berbagai insiden tersebut, persaingan industri AI justru semakin sengit.
Meta, OpenAI, Anthropic, Google, hingga perusahaan teknologi lainnya berlomba menghadirkan model AI yang semakin pintar, cepat, dan mampu menjalankan berbagai tugas secara mandiri.
Sebagian pengamat bahkan mempertanyakan waktu pengungkapan berbagai insiden tersebut karena bertepatan dengan meningkatnya persaingan bisnis AI.
OpenAI dan Anthropic diketahui tengah mempersiapkan penawaran saham perdana (IPO) yang diperkirakan dapat membawa valuasi masing-masing perusahaan hingga sekitar 1 triliun dolar AS.
Di sisi lain, Meta juga terus memperkuat investasi di bidang AI untuk mengejar dominasi pasar.
Meski perusahaan-perusahaan tersebut menegaskan bahwa insiden hanya terjadi dalam lingkungan pengujian, kasus-kasus terbaru menunjukkan bahwa tantangan terbesar pengembangan AI saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan kecerdasannya, melainkan memastikan teknologi tersebut tetap aman, terkendali, dan tidak memiliki peluang dimanfaatkan untuk melakukan serangan siber apabila terjadi kesalahan konfigurasi maupun kelalaian dalam proses pengembangannya.

Tinggalkan Balasan