NEW YORK DIKSIMERDEKA.COM Saham-saham yang terafiliasi dengan Kecerdasan Buatan (AI) mendadak rontok berjamaah pada perdagangan Senin (14/9/2026) waktu setempat. Pemicunya ngeri-ngeri sedap: para bos besar dari Anthropic, OpenAI, hingga SpaceX rame-rame minta pengembangan AI yang “ugal-ugalan” segera direm. Mereka waswas, teknologi canggih ini bisa segera lepas kendali.

Efek domino langsung terasa di lantai bursa. Saham raksasa desainer semikonduktor Nvidia perusahaan paling berharga sejagat ini langsung nyungsep 3,3 persen saat penutupan pasar di New York. Tak ketinggalan, Advanced Micro Devices (AMD) merosot 4 persen, sementara Micron Technology dan Sandisk amblas sampai 5 persen. Indeks Nasdaq yang sarat teknologi pun harus rela ditutup minus 0,5 persen.

Aksi jual gila-gilaan ini meledak usai Chief Executive Anthropic, Dario Amodei, akhir pekan lalu blak-blakan memohon agar industri AI “memperlambat diri”.

Bantahan Keras Trump: Robot Nggak Bakal Kuasai Dunia!

Tapi, tunggu dulu. Donald Trump langsung bereaksi keras! Sang Presiden AS ini mentah-mentah menepis desakan pengetatan kontrol AI dan malah menyebutnya sebagai “konspirasi sakit”.

Baca juga :  Trump Beri Iran Waktu 10 Hari untuk Deal Nuklir, Armada Perang AS Bergerak

Lewat cuitan di media sosialnya pada Senin, Trump berkoar: “Satu-satunya kontrol atau ‘pagar pembatas’ yang dibutuhkan AI adalah PRESIDEN YANG KUAT DAN CERDAS (IQ Tinggi!), dan AS memiliki itu, berlimpah ruah!” katanya.

Nggak cuma itu, Trump juga mengklaim pemerintahannya sudah berhasil “menghentikan ‘orang-orang’ AI dari melakukan ‘hal-hal’ buruk, atau yang berpotensi buruk, seperti Dario (Anthropic!)”

“Ada konspirasi SAKIT yang sedang terjadi melawan AI dan Pusat Data, dan satu-satunya yang senang dengan hal ini adalah China. SIAPA PUN YANG MEMENANGKAN AI, DIA MENANG!” tulisnya ngegas.

Sikap Trump ini juga dia tunjukkan saat menelepon bos Nvidia, Jensen Huang, yang sedang berada di atas panggung konferensi AI di California. Lewat speaker phone, Trump lantang bicara ke audiens: “Itu hoaks. Robot-robot tidak akan mengambil alih dunia. Itu tidak akan terjadi.”

Di tengah kegaduhan ini, Dewan Keamanan PBB dilaporkan bakal menggelar rapat khusus membahas AI minggu depan seiring makin memuncaknya kekhawatiran global, lapor Agence France-Presse.

“Ngerem” Mendadak, Raksasa Cip Dunia Berdarah-darah

Badai kepanikan ini menyapu bursa global. Saham SoftBank, investor raksasa Jepang yang juga penyokong besar OpenAI, anjlok parah 13 persen. Indeks Kospi Korea Selatan, yang bergantung pada produsen cip penyuplai perusahaan AI, ikut turun 3 persen. TSMC di Taiwan juga kepeleset 1,2 persen.

Baca juga :  Bos Pentagon Hegseth ‘Dikuliti’ di Senat AS! Klaim Menang Lawan Iran Dibilang Ngibul

Di Eropa, nasib ASML—perusahaan manufaktur teknologi paling berharga di benua biru—ikut nahas, sahamnya ambrol 6 persen.

Lucunya, saham-saham yang selama ini posisinya terancam mati kutu oleh AI malah panen durian runtuh. Grup periklanan WPP naik 5 persen di London, begitu juga bisnis analitik Relx yang melonjak 5 persen. Padahal sebelumnya, Relx sempat babak belur gara-gara Anthropic merilis alat data dan otomatisasi baru.

Baca juga :  Hati-hati, ngedit foto Anak Lewat AI , Data Wajah Buah Hati Anda Jadi Taruhan, Ini Kata Pakar Kecerdasan Buatan IPB

Amodei sendiri tegas mengingatkan kalau “membangun terlalu cepat itu ugal-ugalan”. Dia ngeri, segerombolan agen AI ke depan bisa bikin kerugian ratusan miliar dolar dengan “mengambil alih seluruh internet”.

Meski klaimnya didebat beberapa pakar, nyatanya investor sudah kadung ketakutan. Mereka mulai pasang mode mengerem, yang bakal bikin industri AI makin ngos-ngosan mencari dana segar buat investasi infrastruktur bernilai ratusan miliar dolar ke depannya.

Yang bikin makin geger, langkah Amodei ini didukung penuh oleh “suhu-suhu” teknologi lainnya. CEO OpenAI Sam Altman, Bos Google DeepMind Demis Hassabis, sampai bos SpaceX Elon Musk kompak mendukung esai Amodei soal pengereman AI yang berjudul “We Must Pace the Frontier”.

Altman bahkan berjanji bakal mengikuti jejak Amodei untuk memasukkan evaluator pihak ketiga ke dalam perusahaannya demi memastikan praktik keselamatan berjalan ketat.