DEIR AL-BALAH, DIKSIMERDEKA.COM – Pemakaman Massal Gaza digelar setelah 112 jenazah korban serangan Israel yang tertimbun lebih dari dua tahun berhasil dievakuasi. Puluhan korban merupakan anak-anak.
Ratusan warga Palestina menggelar pemakaman massal di Gaza tengah, Selasa (4/8), untuk mengantarkan 112 jenazah, termasuk 40 anak-anak, yang baru berhasil dievakuasi lebih dari dua tahun setelah mereka tewas dalam salah satu serangan udara Israel paling mematikan pada 2023.

Jenazah para korban sebelumnya terkubur di bawah reruntuhan sebuah blok permukiman di Kota Gaza yang dihancurkan serangan pesawat tempur Israel pada 22 November 2023.

Selama lebih dari dua tahun, proses evakuasi tidak dapat dilakukan karena serangan Israel yang terus berlanjut. Meski gencatan senjata yang dimulai pada Oktober lalu menurunkan intensitas pertempuran, pemboman di Gaza belum sepenuhnya berhenti.

Ratusan pelayat berkumpul di Deir al-Balah mengelilingi lebih dari 100 peti jenazah yang dibungkus bendera Palestina. Setelah melaksanakan salat jenazah, mereka mengusung peti-peti tersebut melewati jalanan yang dipenuhi puing bangunan menuju kompleks pemakaman.

Korban Baru Ditemukan Setelah Dua Tahun

Serangan udara Israel pada November 2023 menewaskan lebih dari 300 orang setelah menghancurkan satu blok permukiman.

Baca juga :  Sadis! Menteri Israel Pamer Video Aktivis Global Sumud Flotilla Diikat dan Dilecehkan

Saat kejadian, warga hanya mampu mengevakuasi sekitar 40 jenazah menggunakan tangan kosong dan peralatan seadanya karena keterbatasan alat berat serta situasi perang yang masih berlangsung.

Baru pada akhir pekan lalu, tim Pertahanan Sipil Gaza kembali menggali lokasi tersebut dan menemukan 112 jenazah, termasuk perempuan dan anak-anak.

Meski demikian, pihak Pertahanan Sipil menyebut 157 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan diduga masih tertimbun reruntuhan bangunan.

Ribuan Korban Masih Terkubur

Gencatan senjata yang diberlakukan sejak Oktober memberi kesempatan bagi tim penyelamat untuk melakukan pencarian di berbagai lokasi yang sebelumnya sulit dijangkau.

Namun, ribuan korban diyakini masih berada di bawah puing-puing bangunan di berbagai wilayah Gaza.

Kepala Departemen Pencatatan Kementerian Kesehatan Gaza, Zaher al-Waheidi, mengatakan sedikitnya 7.400 orang telah dilaporkan keluarga mereka masih tertimbun reruntuhan.

Ia memperkirakan jumlah sebenarnya jauh lebih besar karena banyak serangan yang menewaskan seluruh anggota keluarga sehingga tidak ada lagi kerabat yang dapat melaporkan mereka sebagai korban hilang.

Baca juga :  Israel Klaim Bunuh Panglima Baru Hamas di Gaza

Korban Terus Bertambah

Meski terdapat kesepakatan yang ditujukan untuk memperkuat fase kedua gencatan senjata, serangan udara Israel masih terus terjadi.

Sedikitnya 26 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan Israel sepanjang akhir pekan lalu.

Peristiwa itu terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut kesepakatan terbaru mengenai Gaza sebagai “kesepakatan bersejarah”, yang diharapkan dapat membuka jalan bagi pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza.

Namun, pembicaraan menuju fase kedua gencatan senjata masih mengalami kebuntuan.

Pejabat senior Hamas menyatakan pelucutan senjata hanya dapat dilakukan apabila Israel menarik seluruh pasukannya dari Gaza.

Sementara itu, pemerintah Israel menyebut masih memiliki “kekhawatiran keamanan yang serius” terhadap isi kesepakatan tersebut.

Puluhan Ribu Orang Tewas

Sejak perang meletus pada 7 Oktober 2023, sedikitnya lebih dari 73.000 warga Palestina dilaporkan tewas akibat operasi militer Israel di Gaza, termasuk lebih dari 1.250 korban jiwa sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober.

Baca juga :  Lautan Manusia Antar Ali Khamenei ke Peristirahatan Terakhir, Iran Bersumpah Tak Akan Pernah Menyerah

Perang dipicu oleh serangan yang dipimpin Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang.

Sejak gencatan senjata diberlakukan, lima tentara Israel juga dilaporkan tewas.

Hingga kini, sebagian besar wilayah Jalur Gaza masih hancur akibat perang. Mayoritas dari sekitar 2 juta penduduk terpaksa mengungsi dan hidup di tenda-tenda darurat dengan kondisi kemanusiaan yang semakin memprihatinkan.

Sementara itu, organisasi-organisasi kemanusiaan internasional terus mengingatkan bahwa proses evakuasi korban di Gaza masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan alat berat, kerusakan infrastruktur, hingga risiko serangan yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Banyak keluarga korban juga masih menunggu kepastian nasib anggota keluarganya yang dinyatakan hilang sejak awal perang. Kondisi tersebut membuat upaya pencarian dan identifikasi jenazah berlangsung sangat lambat. Di tengah krisis yang berkepanjangan, lembaga-lembaga kemanusiaan kembali mendesak agar akses bantuan, perlindungan terhadap warga sipil, serta proses pencarian korban dapat dilakukan secara aman dan tanpa hambatan sehingga keluarga yang ditinggalkan memperoleh kepastian atas nasib kerabat mereka.