MEXICO CITY, DIKSIMERDEKA.COM – Penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mencegah kecurangan ujian justru memicu krisis besar di Universitas Otonom Nasional Meksiko (UNAM). Ribuan calon mahasiswa kini berada dalam ketidakpastian setelah universitas membatalkan ribuan hasil ujian masuk akibat dugaan kecurangan massal.

Kasus ini bermula ketika UNAM, untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, menggelar ujian masuk secara daring pada tahun 2026. Kebijakan tersebut diambil agar calon mahasiswa dari berbagai daerah tidak perlu lagi datang ke Mexico City untuk mengikuti seleksi.

Namun, langkah yang semula bertujuan memperluas akses pendidikan justru berujung kontroversi.

Salah satu peserta, Daniel Fernando García Velázquez, mengaku telah mengikuti ujian masuk sebanyak empat kali.

Pada tiga percobaan sebelumnya, ia harus menempuh perjalanan sekitar 400 kilometer dari Veracruz menuju Mexico City karena ujian hanya dilaksanakan secara tatap muka.

Tahun ini, ujian digelar secara online sehingga ia tetap datang ke ibu kota Meksiko meski tidak lagi diwajibkan.

Usahanya membuahkan hasil. Daniel meraih 94 dari 120 poin, nilai yang seharusnya cukup untuk diterima di Program Studi Komunikasi dan Jurnalistik di Fakultas Studi Tinggi Aragón, UNAM.

Baca juga :  Luhut: Digitalisasi Bansos Berbasis AI Berpotensi Hemat Rp2.000 Triliun

Namun hingga kini ia belum mengetahui apakah benar-benar dapat mengikuti perkuliahan yang dijadwalkan dimulai 10 Agustus, karena proses penerimaan mahasiswa baru masih dibekukan.

Ribuan Ujian Dianulir

UNAM membatalkan sekitar 3.000 hasil ujian dari total lebih dari 150.000 peserta setelah menemukan pola nilai yang tidak biasa.

dilansir CNN,universitas mencurigai sebagian peserta menggunakan teknologi AI untuk menjawab soal atau memperoleh bocoran pertanyaan sebelum ujian berlangsung.

Akibatnya, seluruh peserta, termasuk mereka yang tidak diduga berbuat curang, harus menunggu hasil penyelidikan sebelum dinyatakan resmi diterima.

Kontroversi semakin besar karena sebagian calon mahasiswa justru menyalahkan sistem pengawasan berbasis AI yang sebelumnya diklaim mampu mencegah segala bentuk kecurangan.

AI Jadi Sorotan

Saat memutuskan ujian dilakukan secara daring, UNAM menggunakan sistem pengawasan berbasis kecerdasan buatan yang diklaim mampu merekam setiap perilaku peserta selama ujian.

Sistem tersebut dirancang untuk membantu pengawas manusia mendeteksi aktivitas mencurigakan.

Namun hasil yang muncul justru mengejutkan.

Menurut Alma Maldonado, anggota komisi teknis yang ditugaskan menyelidiki kasus tersebut, jumlah peserta yang memperoleh nilai sempurna meningkat drastis.

“Jumlah peserta yang mendapatkan nilai sempurna meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya kepada CNN.

Ia juga mengungkapkan adanya lonjakan peserta yang hanya mampu menjawab satu atau dua soal dengan benar, sehingga semakin memperkuat dugaan adanya pola kecurangan.

Baca juga :  Program Kampus Merdeka Siapkan Mahasiswa yang Mampu Hadapi Tantangan Perubahan Global

Di media sosial, khususnya TikTok, bermunculan video yang memperlihatkan cara mengelabui sistem pengawasan ujian daring.

Software Jawab Soal

Peserta lain, Daniel Flores Miranda, mengaku pernah ditawari sebuah program komputer yang diklaim mampu menjawab seluruh soal ujian secara otomatis.

Program tersebut dijual seharga 2.500 peso Meksiko atau sekitar 150 dolar Amerika Serikat.

Miranda mengatakan dirinya menolak menggunakan program tersebut.

Namun, ia mengetahui ada sejumlah peserta lain yang memanfaatkannya dan berhasil memperoleh nilai kelulusan.

Presiden Meksiko Ikut Turun Tangan

Besarnya kontroversi membuat persoalan ini sampai ke tingkat pemerintahan.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, yang juga merupakan alumnus Fakultas Fisika UNAM, menyarankan agar universitas bekerja sama dengan kantor Jaksa Agung untuk mengusut tuntas dugaan kecurangan tersebut.

UNAM sendiri memiliki posisi sangat penting di Meksiko.

Universitas yang berdiri sejak abad ke-16 itu menjadi simbol pendidikan tinggi negeri sekaligus salah satu jalur mobilitas sosial bagi masyarakat karena biaya kuliah swasta di negara tersebut relatif mahal.

Baca juga :  Meta Akui AI Sempat Bobol Sistem Perusahaan Lain, Dunia Siber Dibuat Geger

Setiap tahun lebih dari 100 ribu orang mengikuti seleksi masuk, sementara sekitar 80 hingga 90 persen di antaranya gagal memperoleh kursi.

Semua Peserta Lulus Akan Ujian Ulang

Sebagai langkah penyelesaian, UNAM memutuskan seluruh peserta yang memperoleh nilai di atas ambang kelulusan tahun ini maupun dalam lima tahun terakhir harus mengikuti ujian kontrol secara tatap muka.

Jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 58 ribu peserta.

Hingga kini universitas belum mengumumkan jadwal maupun lokasi ujian ulang tersebut.

Rektor UNAM Leonardo Lomelí mengajak seluruh calon mahasiswa menjunjung tinggi integritas akademik.

“Kecurangan bukan hanya merugikan institusi, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. Praktik seperti ini harus diberantas,” tegasnya.

Kasus ini menjadi salah satu contoh bagaimana pemanfaatan teknologi AI dalam dunia pendidikan menghadirkan tantangan baru. Di satu sisi AI diharapkan mampu memperkuat pengawasan, tetapi di sisi lain perkembangan teknologi juga membuka peluang lahirnya metode kecurangan yang semakin canggih, sehingga perguruan tinggi dituntut terus memperbarui sistem keamanan ujian tanpa mengorbankan keadilan bagi peserta yang jujur.