Rudal Rusia Hancurkan Pabrik Drone Milik Perusahaan AS di Kyiv
KYIV, DIKSIMERDEKA.COM – Rudal Rusia menghancurkan pabrik drone milik perusahaan Amerika Serikat (AS) di Kyiv, Ibu kota Ukraina, dalam serangan rudal balistik pada Jumat dini hari (31/7) waktu setempat. Insiden ini disebut sebagai pertama kalinya Moskow secara langsung menyerang fasilitas manufaktur yang dimiliki perusahaan AS sejak perang Rusia-Ukraina pecah.
Dilansir The Guardian, pabrik tersebut dimiliki Terminal Autonomy, perusahaan yang terdaftar di Negara Bagian Delaware, Amerika Serikat, sejak 2023.
Menurut sumber yang mengetahui operasional perusahaan itu, Terminal Autonomy memproduksi drone presisi jarak jauh (deep-strike drones) yang dilengkapi sistem pemandu berbasis kecerdasan buatan (AI). Teknologi tersebut dirancang agar tetap mampu mencapai sasaran meski sinyal radio dan komunikasi diganggu sistem jamming milik Rusia.
Dalam teknologi militer, istilah terminal autonomy mengacu pada fase akhir serangan drone bunuh diri ketika sistem AI mengambil alih kendali penuh setelah operator kehilangan koneksi akibat gangguan elektronik.
Melalui situs resminya, Terminal Autonomy menyatakan telah mengembangkan amunisi jelajah (loitering munitions) dan amunisi presisi berbasis AI yang saat ini digunakan secara aktif untuk menyerang sasaran musuh di garis depan.
Hingga kini, pihak perusahaan belum memberikan komentar terkait serangan tersebut. Kementerian Pertahanan Ukraina juga belum merespons permintaan keterangan dari media.
Rusia Sebut Sasar Fasilitas Produksi Drone
Kantor berita pemerintah Rusia, TASS, menjadi media pertama yang melaporkan serangan tersebut pada Minggu (2/8) dengan mengutip Kementerian Pertahanan Rusia.
Dalam laporannya, TASS tidak menyebutkan bahwa fasilitas tersebut dimiliki perusahaan asal Amerika Serikat. Namun media itu menyatakan pabrik tersebut dioperasikan oleh spesialis dari perusahaan gabungan Ukraina-Amerika.
Fasilitas tersebut diketahui memproduksi drone AQ-400 Scythe dan AQ-100 Bayonet, dua jenis drone yang digunakan Ukraina dalam operasi militer.
Meski bangunan pabrik mengalami kerusakan parah, sumber yang mengetahui kondisi perusahaan memastikan tidak ada korban jiwa dalam serangan itu.
Perusahaan AS Tetap Dianggap Target Sah
Mantan pejabat senior intelijen Amerika Serikat sekaligus penulis buku The Fourth Intelligence Revolution, Anthony Vinci, menilai Rusia tidak akan membedakan kepemilikan fasilitas yang memproduksi perlengkapan militer.
“Rusia tidak peduli siapa pemilik fasilitas manufaktur tersebut. Selama memproduksi perlengkapan militer, tempat itu tetap menjadi target. Mereka tidak peduli apakah pemiliknya perusahaan Amerika atau pihak lain,” ujarnya.
Vinci juga mengingatkan bahwa fasilitas produksi senjata Amerika di Ukraina berpotensi menjadi sasaran serangan berikutnya.
Pernyataan itu merujuk pada kebijakan Presiden Donald Trump yang pada awal Juli lalu mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan memberikan lisensi kepada Ukraina untuk memproduksi rudal pertahanan udara Patriot di dalam negeri.
Menurut Vinci, apabila rudal Patriot atau sistem persenjataan buatan Amerika benar-benar diproduksi di Ukraina, fasilitas manufakturnya hampir pasti akan menjadi target militer Rusia.
Persaingan Teknologi Militer Makin Memanas
Serangan terhadap pabrik Terminal Autonomy menunjukkan bahwa perang Rusia-Ukraina kini tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga menyasar rantai produksi teknologi pertahanan.
Drone berbasis AI menjadi salah satu senjata yang paling banyak digunakan kedua belah pihak dalam beberapa tahun terakhir. Selain untuk pengintaian, drone tersebut juga dimanfaatkan dalam serangan presisi terhadap sasaran militer yang berada jauh di belakang garis depan.
Dengan meningkatnya keterlibatan perusahaan-perusahaan teknologi asal Amerika Serikat dalam pengembangan sistem persenjataan Ukraina, analis memperkirakan risiko serangan terhadap fasilitas industri pertahanan akan semakin besar, sekaligus memperluas dimensi konflik antara Rusia dan negara-negara pendukung Kyiv.

Tinggalkan Balasan