JAKARTA, DIKSIMERDEKA.COM – Minat pembayaran digital di kalangan pelaku usaha di Asia Tenggara terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan tertinggi dalam minat merchant untuk menyediakan layanan pembayaran elektronik berbasis kode QR, diikuti Vietnam, Filipina, dan Singapura.

Temuan tersebut diungkap dalam analisis terbaru perusahaan teknologi finansial asal Filipina, PayMongo, yang membandingkan data pencarian Google Trends pada semester pertama 2026 dengan periode yang sama pada 2022 di enam negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Vietnam, Filipina, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Dilansir Asian Banking and F inance,hasil analisis menunjukkan pencarian yang mencerminkan niat pelaku usaha untuk menerima pembayaran digital melonjak 223 persen di Indonesia. Vietnam menyusul dengan kenaikan 175 persen, kemudian Filipina 66 persen, dan Singapura 45 persen.

Peningkatan tersebut mencerminkan semakin banyak pelaku usaha yang mulai beralih dari sistem pembayaran tunai menuju transaksi digital, seiring meningkatnya penggunaan dompet digital dan sistem pembayaran berbasis QR.

Baca juga :  Prabowo Akui MBG Masih Amburadul: 3.000 Dapur Ditutup!

Indonesia Jadi Pemimpin Adopsi Pembayaran Digital

Indonesia mencatat pertumbuhan tertinggi di kawasan, menandakan semakin besarnya minat pelaku usaha untuk menerima pembayaran melalui sistem digital seperti QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).

QRIS yang dikembangkan oleh Bank Indonesia telah menjadi standar nasional pembayaran berbasis QR dan kini digunakan oleh jutaan pelaku usaha, mulai dari pedagang kaki lima hingga jaringan ritel modern.

PayMongo menilai sistem QR nasional seperti QRIS telah menjadi pintu masuk utama bagi merchant untuk memasuki ekosistem pembayaran digital.

“Temuan ini menunjukkan bahwa sistem QR nasional kini menjadi jalur utama bagi pelaku usaha yang ingin beralih ke pembayaran digital,” tulis PayMongo dalam laporannya.

Dompet Digital Semakin Populer

Selain meningkatnya minat terhadap sistem pembayaran digital, pencarian terhadap berbagai layanan dompet digital juga mengalami lonjakan signifikan.

Di Vietnam, pencarian mengenai ZaloPay meningkat 115 persen, menunjukkan semakin besarnya ketertarikan masyarakat maupun pelaku usaha terhadap layanan pembayaran digital lokal.

Baca juga :  Kedaulatan RI Dipertaruhkan! Pesawat Militer AS Bebas Melintas, Pakar UGM Buka Suara

Sementara di Filipina, pencarian terkait sistem pembayaran Maya melonjak sekitar 25 kali lipat dibandingkan tingkat pencarian pada 2022.

Dompet digital GCash juga mencatat kenaikan pencarian sebesar 35 persen, menandakan tingginya adopsi pembayaran non-tunai di negara tersebut.

Di Indonesia sendiri, pencarian terhadap layanan Dana for Business meningkat 35 persen, memperlihatkan semakin banyak pelaku usaha yang mencari solusi pembayaran digital khusus untuk kebutuhan bisnis.

Tren Digitalisasi UMKM Terus Menguat

Pertumbuhan minat terhadap pembayaran digital dinilai menjadi indikator percepatan transformasi digital di sektor usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dengan sistem pembayaran digital, pelaku usaha dapat menerima transaksi secara lebih cepat, mengurangi penggunaan uang tunai, sekaligus mempermudah pencatatan keuangan.

Perkembangan tersebut juga didorong meningkatnya penetrasi smartphone, akses internet yang semakin luas, serta kebiasaan konsumen yang kini lebih memilih metode pembayaran tanpa uang tunai.

Di berbagai negara Asia Tenggara, pemerintah dan bank sentral juga aktif mengembangkan infrastruktur pembayaran digital agar transaksi lintas sektor menjadi lebih mudah, aman, dan efisien.

Baca juga :  Perdagangan RI-Kazakhstan Tembus Rp4 Triliun, Airlangga Bertemu PM Bektenov

Data Berdasarkan Google Trends

Analisis PayMongo menggunakan data bulanan Google Trends sepanjang Juli 2021 hingga Juli 2026.

Perusahaan kemudian membandingkan rata-rata minat pencarian bulanan selama periode Januari hingga Juni 2026 dengan enam bulan pertama tahun 2022 untuk melihat perkembangan adopsi pembayaran digital.

Google Trends sendiri mengukur tingkat minat relatif pada skala 0 hingga 100, bukan jumlah pencarian sebenarnya. Karena itu, data tersebut dapat digunakan untuk membandingkan perubahan minat dari waktu ke waktu dalam satu negara, tetapi tidak dapat dibandingkan secara langsung antarnegara berdasarkan volume pencarian absolut.

Meski demikian, hasil analisis tersebut memperlihatkan tren yang konsisten bahwa pelaku usaha di Asia Tenggara semakin siap mengadopsi pembayaran digital. Dengan semakin luasnya penggunaan sistem QR nasional dan dompet digital, kawasan ini diperkirakan akan terus menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan transaksi digital tercepat di dunia.