Peneliti Ungkap Cara Sederhana Tingkatkan Daya Ingat, Cukup Ubah Jam Makan
Makan dalam jendela waktu tertentu atau time-restricted eating tidak hanya membantu menurunkan berat badan, tetapi juga berpotensi meningkatkan fungsi otak. Penelitian terbaru menunjukkan pola makan ini dapat membantu memperbaiki daya ingat, meningkatkan perhatian, dan mengurangi kesalahan saat menjalankan aktivitas sehari-hari.
MARYLAND, DIKSIMERDEKA.COM – Pola makan dengan membatasi waktu makan dalam rentang jam tertentu (time-restricted eating) kembali menunjukkan manfaat kesehatan. Kali ini, penelitian terbaru menemukan kebiasaan tersebut berpotensi meningkatkan fungsi kognitif, terutama kemampuan mengingat dan memusatkan perhatian.
Peneliti utama Kristina Shapses mengatakan manfaat yang ditemukan memang masih tergolong moderat. Namun, peserta penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan mengingat informasi yang dibutuhkan dalam aktivitas sehari-hari, sekaligus mengalami lebih sedikit kesalahan yang berkaitan dengan memori, perhatian, dan kemampuan memecahkan masalah.
Dilansir oleh The Guardian,temuan tersebut dipaparkan dalam Nutrition 2026, pertemuan tahunan American Society for Nutrition yang berlangsung di Maryland, Amerika Serikat.
Waktu Makan Ternyata Sama Pentingnya
Tim peneliti kini berupaya mengungkap mengapa waktu makan tampaknya memiliki peran yang sama pentingnya dengan jenis makanan yang dikonsumsi.
Mereka menduga manfaat tersebut muncul dari interaksi yang kompleks antara ritme sirkadian atau jam biologis tubuh, proses metabolisme, serta tingkat peradangan dalam tubuh.
Di banyak negara, termasuk Inggris dan Amerika Serikat, masyarakat umumnya menghabiskan waktu sekitar 14 jam setiap hari untuk makan. Artinya, tubuh hanya memiliki waktu sekitar 10 jam untuk berpuasa pada malam hari.
Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa memperpanjang durasi puasa malam dapat memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar.
Makan Sebelum Pukul 19.00 Lebih Baik
Sebuah tinjauan ilmiah yang dipublikasikan pada Januari lalu menemukan bahwa kebiasaan menyelesaikan makan sebelum pukul 19.00 berkaitan dengan penurunan berat badan yang lebih baik.
Selain itu, peserta penelitian juga mengalami penurunan indeks massa tubuh (BMI), lingkar pinggang yang lebih kecil, tekanan darah yang lebih terkontrol, serta perbaikan berbagai indikator kesehatan metabolik.
Hasil tersebut memperkuat dugaan bahwa pola makan tidak hanya ditentukan oleh jumlah kalori, tetapi juga oleh kapan makanan dikonsumsi.
Berpotensi Menjaga Kesehatan Otak
Profesor Wendy Hall, Kepala Ilmu Gizi di King’s College London, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menilai pembatasan waktu makan merupakan pendekatan yang menjanjikan untuk menjaga kesehatan otak, khususnya pada orang dewasa paruh baya hingga lanjut usia yang mengalami kelebihan berat badan.
Menurut Hall, menghindari makan dalam porsi besar pada malam hari dapat membantu mengendalikan kadar gula darah, memperbaiki fungsi pembuluh darah, sekaligus mengurangi peradangan yang selama ini diketahui berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa hasil penelitian tersebut masih bersifat awal.
Karena itu, diperlukan publikasi ilmiah yang telah melalui proses peer review agar para peneliti dapat memastikan apakah manfaat yang ditemukan benar-benar memiliki dampak klinis yang signifikan dan dapat diterapkan secara luas dalam praktik kesehatan masyarakat.
angan Cuma Hitung Kalori, Peneliti Ungkap Waktu Makan Ternyata Berpengaruh pada Daya Ingat
Temuan penelitian ini memperkuat anggapan bahwa kesehatan otak tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi, tetapi juga kapan seseorang makan. Para peneliti menilai tubuh memiliki jam biologis yang mengatur berbagai fungsi penting, termasuk metabolisme, produksi hormon, hingga proses perbaikan sel.
Ketika seseorang terus makan hingga larut malam, ritme alami tubuh diduga menjadi terganggu. Akibatnya, kadar gula darah, proses metabolisme, dan respons peradangan dalam tubuh dapat berubah, yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi fungsi otak.
Sebaliknya, memberikan waktu puasa yang lebih panjang pada malam hari diyakini memberi kesempatan bagi tubuh untuk menjalankan proses pemulihan secara optimal. Kondisi tersebut diduga membantu otak bekerja lebih efisien saat menyimpan dan mengingat informasi, sekaligus meningkatkan konsentrasi dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Meski hasil penelitian ini dinilai menjanjikan, para ilmuwan mengingatkan bahwa time-restricted eating bukanlah solusi instan untuk meningkatkan daya ingat. Pola makan ini tetap harus dibarengi dengan konsumsi makanan bergizi seimbang, tidur yang cukup, aktivitas fisik secara rutin, serta pengelolaan stres yang baik agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.
Para peneliti juga menegaskan bahwa penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui durasi waktu makan yang paling efektif, kelompok usia yang memperoleh manfaat terbesar, serta apakah pola makan ini dapat membantu mencegah penurunan fungsi kognitif atau penyakit neurodegeneratif seperti demensia dan Alzheimer pada masa mendatang.
Dengan semakin banyaknya bukti ilmiah yang bermunculan, para ahli kini mulai melihat waktu makan sebagai salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan tubuh dan otak, bukan sekadar pelengkap dari pola makan sehat. Temuan ini sekaligus membuka peluang lahirnya rekomendasi nutrisi yang tidak hanya berfokus pada jenis makanan, tetapi juga pada waktu terbaik untuk mengonsumsinya.

Tinggalkan Balasan