Tiga Gubernur, Tiga Partai, Satu Kepentingan
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Tiga provinsi, yakni Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) menjalin kerja sama regional di sejumlah bidang. Diawali pertemuan di Kerta Sabha, Denpasar tanggal 3 November 2025, penandatanganan kerja sama yang dilakukan pada 25 November 2026 di Mandalika ini menyampaikan pesan politik yang jauh lebih besar daripada sekadar penandatanganan nota kesepahaman antarpemerintah daerah. Kerja sama tiga kepala daerah dengan latar belakang politik berbeda ini menunjukkan bahwa kepentingan pembangunan dapat melampaui sekat-sekat partai.
Gubernur Bali Wayan Koster merupakan Ketua DPD PDI Perjuangan Bali. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal berasal dari Partai Gerindra, sedangkan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena merupakan Ketua DPD Partai Golkar NTT. Ketiganya datang dari partai politik yang berbeda, namun memiliki visi yang sama, yakni membangun kawasan Bali, NTB, dan NTT melalui kolaborasi regional yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Kesamaan visi tersebut kemudian diwujudkan dalam kerja sama pada sejumlah sektor strategis, mulai dari pengembangan energi bersih, transportasi, pariwisata, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia aparatur. Keempat sektor itu menjadi fondasi penting untuk memperkuat konektivitas kawasan, meningkatkan daya saing ekonomi, serta mempercepat pembangunan yang berkelanjutan.
Kerja sama ini memperlihatkan perubahan paradigma pembangunan daerah. Jika selama ini pemerintah daerah lebih banyak bergerak secara sendiri-sendiri dalam menarik investasi dan mengembangkan potensi wilayah masing-masing, kini pendekatan tersebut mulai bergeser menuju kolaborasi regional. Tantangan pembangunan saat ini tidak lagi mengenal batas administrasi. Perubahan iklim, transisi energi, pembangunan infrastruktur, pengembangan pariwisata, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia hanya dapat diselesaikan melalui sinergi antardaerah.
“Kerjasama regional Bali, NTB, dan NTT dalam bidang energi bersih, transportasi, pariwisata, pelatihan SDM aparatur dengan spirit dan semangat Sunda Kecil dengan pola baru sesuai peraturan yang berlaku saat ini. Kerja sama ini terbanguan dengan semangat yang sama yakni kepentingan bersama dalam memajukan wilayah dengan sinergi dan kolaborasi guna meningkatkan kesejahteraan rakyat, kualitas, dan daya saing secara berkelanjutan menghadapi dinamika nasional dan global,” ujar Gubernur Bali Wayan Koster.

Di sektor energi, misalnya, Bali telah menjadikan transisi menuju energi bersih sebagai salah satu prioritas pembangunan. Di sisi lain, NTB dan NTT memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, mulai dari tenaga surya, angin, hingga panas bumi. Kolaborasi ketiga provinsi membuka peluang terbentuknya ekosistem energi hijau di kawasan timur Indonesia yang saling terintegrasi.
Pada sektor pariwisata dan transportasi, kerja sama tersebut juga menjadi langkah strategis untuk membangun konektivitas kawasan. Bali, Lombok, dan Labuan Bajo tidak lagi diposisikan sebagai destinasi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai satu kesatuan destinasi wisata yang saling melengkapi. Dengan konektivitas yang semakin baik, manfaat ekonomi diharapkan dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat di ketiga provinsi.
Peningkatan kualitas aparatur sipil negara juga menjadi bagian penting dari kerja sama ini. Pemerintahan modern membutuhkan birokrasi yang adaptif, profesional, dan mampu bekerja lintas wilayah. Pertukaran pengalaman, peningkatan kompetensi, dan penguatan kapasitas aparatur menjadi investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Di balik kerja sama tersebut tersimpan pula makna historis yang kuat. Bali, NTB, dan NTT pernah berada dalam satu rumpun wilayah yang dikenal sebagai Sunda Kecil. Hubungan itu kemudian memperoleh landasan hukum melalui Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Kini ketiga wilayah telah berkembang menjadi provinsi yang berdiri sendiri dengan kewenangan dan dasar hukum masing-masing. Namun, semangat kebersamaan sebagai kawasan Sunda Kecil tetap dipelihara melalui pola kerja sama yang menyesuaikan dengan sistem pemerintahan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini. Dengan demikian, yang dibangun bukanlah penyatuan administratif, melainkan penyatuan visi pembangunan.
Keunikan kolaborasi ini juga tercermin dari keberagaman sosial budaya yang dimiliki masing-masing provinsi. Bali merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Hindu. NTB didominasi masyarakat beragama Islam, sedangkan NTT mayoritas beragama Kristen. Perbedaan identitas tersebut justru menjadi modal sosial yang memperkaya kerja sama regional sekaligus menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan dalam membangun masa depan bersama.
Kerja sama Bali, NTB, dan NTT memberikan pesan penting bahwa pembangunan tidak harus dibatasi oleh perbedaan politik, agama, maupun identitas daerah. Justru melalui kolaborasi, ketiga provinsi memiliki peluang memperkuat daya saing kawasan, menarik investasi, mengembangkan ekonomi hijau, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Lebih dari itu, kolaborasi ini memperlihatkan bahwa kepentingan rakyat dapat ditempatkan di atas kepentingan politik jangka pendek. Tiga gubernur dari tiga partai politik berbeda menunjukkan bahwa kompetisi politik tidak harus berakhir pada fragmentasi pembangunan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika diarahkan untuk tujuan yang sama.

Tinggalkan Balasan