DIKSIMERDEKA.COM, SEATTLE– Harapan besar publik Amerika Serikat untuk melihat tim kesayangannya melangkah jauh di Piala Dunia 2026 harus berakhir dengan cara yang menyakitkan. Bermain di hadapan puluhan ribu pendukung sendiri di Lumen Field, Seattle, Selasa (7/7/2026) waktu setempat, AS justru takluk 1-4 dari Belgia pada babak 16 besar.

Stadion yang semula bergemuruh oleh nyanyian suporter berubah sunyi ketika Belgia menunjukkan kelasnya. Charles De Ketelaere menjadi mimpi buruk bagi tuan rumah lewat dua golnya. Hans Vanaken memperbesar keunggulan setelah memanfaatkan blunder fatal kiper Matt Freese, sebelum Romelu Lukaku menutup pesta gol Belgia pada masa injury time.

Satu-satunya gol Amerika Serikat dicetak Malik Tillman melalui tendangan bebas yang sempat membangkitkan harapan. Namun, harapan itu hanya bertahan selama 52 detik sebelum Belgia kembali memimpin dan mengendalikan pertandingan.

Hasil ini membuat Amerika Serikat kembali tersingkir di babak 16 besar untuk keempat kalinya dalam lima edisi Piala Dunia terakhir. Satu-satunya pengecualian terjadi pada 2018 ketika mereka bahkan gagal lolos ke putaran final.

Belgia Menang Efektif Meski Kalah Penguasaan Bola

Kekalahan Amerika Serikat terasa semakin pahit jika melihat statistik pertandingan. Tuan rumah sebenarnya menguasai jalannya laga dengan 57 persen penguasaan bola, sedangkan Belgia hanya 43 persen.

Baca juga :  Spanyol vs Arab Saudi 4-0: Lamine Yamal Comeback, Oyarzabal Cetak Brace

Namun dominasi tersebut tidak mampu diterjemahkan menjadi ancaman berarti.

Belgia tampil jauh lebih efektif dengan melepaskan 15 tembakan, lebih dari dua kali lipat dibanding Amerika Serikat yang hanya menghasilkan enam percobaan. Dari jumlah itu, tujuh tembakan Belgia mengarah tepat ke gawang, sementara Amerika Serikat hanya mampu mencatat dua tembakan tepat sasaran.

Amerika Serikat memang unggul dalam distribusi bola dengan 476 operan dan akurasi operan mencapai 89 persen. Belgia hanya membukukan 390 operan dengan akurasi 83 persen.

Namun, efektivitas serangan balik dan penyelesaian akhir membuat Belgia mampu menghukum hampir setiap kesalahan yang dilakukan tuan rumah.

Belgia juga memperoleh lima tendangan sudut, sedangkan Amerika Serikat hanya mendapat tiga sepak pojok. Dari sisi disiplin, Belgia melakukan sembilan pelanggaran tanpa menerima kartu kuning. Sebaliknya, Amerika Serikat mencatat 10 pelanggaran dan menerima dua kartu kuning.

Statistik tersebut menggambarkan perbedaan mencolok antara kedua tim. Amerika Serikat lebih banyak menguasai bola, tetapi Belgia jauh lebih tajam, efisien, dan klinis dalam memanfaatkan peluang.

Belgia Menghukum Setiap Kesalahan

Sejak menit-menit awal, Belgia langsung mengambil inisiatif serangan. Timothy Castagne hampir membuka keunggulan ketika tendangan kerasnya memaksa Matt Freese melakukan penyelamatan gemilang.

Gol pertama akhirnya lahir pada menit kesembilan. Berawal dari pergerakan Leandro Trossard di sisi kiri, bola diteruskan Nicolas Raskin kepada Charles De Ketelaere yang lolos di antara Tim Ream dan Antonee Robinson sebelum menaklukkan Freese.

Baca juga :  Prancis vs Senegal 3-1: Mbappe Pecahkan Rekor Bersejarah

Amerika Serikat sempat menemukan momentum setelah jeda pendinginan. Malik Tillman menyamakan kedudukan lewat tendangan bebas yang berubah arah setelah membentur pagar hidup Belgia.

Namun euforia itu hanya berlangsung kurang dari satu menit.

Belgia kembali menyerang melalui Trossard. Umpan silangnya kembali disambut De Ketelaere yang lolos dari kawalan bek Amerika Serikat untuk mencetak gol keduanya dan mengembalikan keunggulan Belgia.

Memasuki babak kedua, Amerika Serikat mencoba bangkit dengan memasukkan Gio Reyna. Namun perubahan itu tidak banyak mengubah jalannya pertandingan.

Petaka datang ketika Matt Freese melakukan kesalahan fatal. Kiper Amerika Serikat itu gagal membuang bola dengan sempurna setelah keluar dari sarangnya. Bola justru jatuh ke kaki Hans Vanaken yang tanpa kesulitan mengirim tendangan dari jarak jauh ke gawang yang kosong.

Romelu Lukaku kemudian melengkapi kemenangan Belgia lewat gol pada masa tambahan waktu setelah kembali memanfaatkan kesalahan lini belakang Amerika Serikat.

Pochettino Akui Belgia Lebih Baik

Pelatih Amerika Serikat Mauricio Pochettino tidak mencari alasan atas kekalahan telak tersebut.

“Sejak awal kami tidak pernah benar-benar masuk ke dalam permainan. Bahkan ketika berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1, kami langsung kembali kebobolan. Itu sangat berat,” kata Pochettino.

Baca juga :  84 Juta Warga AS Nonton Piala Dunia 2026, Fox Raup Investasi Rp8,66 Triliun

Ia mengakui Belgia tampil jauh lebih baik sepanjang pertandingan.

“Hari ini memang bukan hari kami. Kami tidak menunjukkan kualitas yang biasanya dimiliki tim ini. Mereka memang lebih baik dan pantas menang,” ujarnya.

Mimpi yang Harus Ditunda

Sebelum pertandingan, optimisme menyelimuti kubu Amerika Serikat. Folarin Balogun kembali bermain setelah hukuman kartunya dikurangi, sementara kemenangan heroik atas Bosnia dan Herzegovina di babak 32 besar membuat publik percaya tim tuan rumah mampu menciptakan sejarah.

Namun kenyataan di lapangan berkata lain.

Christian Pulisic tampil di bawah performa terbaiknya dan berkali-kali kehilangan bola. Sergiño Dest kesulitan meredam serangan Belgia hingga akhirnya ditarik keluar pada babak pertama. Balogun yang diharapkan menjadi pembeda juga gagal menciptakan ancaman berarti.

Di sisi lain, Belgia tampil tenang, efisien, dan tanpa ampun. Mereka tidak membutuhkan banyak penguasaan bola untuk mencetak empat gol dan memastikan satu tempat di babak perempat final.

Bagi Amerika Serikat, perjalanan yang sempat dipenuhi harapan akhirnya berakhir dengan kekecewaan di depan publik sendiri. Sementara bagi Belgia, kemenangan telak ini menjadi peringatan bahwa mereka masih menjadi salah satu kandidat kuat untuk melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026.