CARACAS, DIKSIMERDEKA.COM – Tangis belum berhenti menggema di Venezuela. Sebelas hari setelah dua gempa dahsyat mengguncang negara Amerika Selatan itu, ribuan keluarga korban Gempa Venezuela masih bertahan di antara puing-puing bangunan yang runtuh, berharap menemukan orang-orang tercinta, meski sering kali yang ditemukan hanyalah jasad yang sudah tak lagi dikenali.

Jumlah korban tewas akibat gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 magnitudo yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2026 kini telah melampaui 3.000 orang. Angka tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah karena ribuan bangunan ambruk dan banyak korban diyakini masih tertimbun reruntuhan.

Di tengah duka nasional, Presiden sementara Venezuela Delcy Rodríguez membela respons pemerintah terhadap bencana yang menjadi salah satu gempa paling mematikan dalam sejarah Amerika Latin.

Berbicara dalam upacara Hari Kemerdekaan Venezuela, Rodríguez menepis anggapan bahwa kemarahan masyarakat akan berubah menjadi kerusuhan sosial.

“Tidak akan ada kerusuhan sosial di negara ini. Yang kami miliki adalah solidaritas sosial yang sangat kuat,” tegas Rodríguez dilansir oleh CNN.

Ia mengatakan pemerintah telah mengerahkan ribuan personel penyelamat, aparat negara, dan relawan untuk mengevakuasi korban serta mencari mereka yang masih mungkin selamat.

Baca juga :  Lebih dari 42.000 Rumah Warga Rusak Sepanjang Tahun 2020

La Guaira Jadi Wilayah Paling Hancur

Wilayah pesisir La Guaira, yang berada di utara ibu kota Caracas, menjadi kawasan yang mengalami kerusakan paling parah.

Puluhan gedung bertingkat runtuh hanya dalam hitungan detik. Ribuan warga kehilangan rumah, sementara jalan-jalan berubah menjadi lautan beton dan besi yang berserakan.

Meski tim penyelamat internasional mulai mengakhiri operasi pencarian korban selamat, keluarga korban masih bertahan di lokasi bencana. Mereka menggali reruntuhan dengan tangan kosong, berharap dapat membawa pulang jasad anggota keluarga untuk dimakamkan secara layak.

Kisah Haru José Antonio Toledo

Di balik ribuan angka korban, tersimpan kisah pilu keluarga Rosa López.

Menantunya yang berusia 25 tahun, José Antonio Toledo, bekerja sebagai petugas keamanan ketika gempa menghancurkan gedung tempatnya bertugas.

Beberapa hari kemudian jasad Toledo akhirnya ditemukan.

Namun penderitaan keluarga belum berakhir.

Jenazah sempat dibawa ke rumah sakit, tetapi ditolak karena kamar jenazah sudah penuh. Tubuh Toledo kemudian dipindahkan ke fasilitas lain hingga akhirnya diletakkan di sebuah area parkir terbuka bersama puluhan korban lainnya.

Baca juga :  Hujan Intensitas Sedang Sampai Lebat Masih Terjadi Di Luwu Utara

Berhari-hari keluarga mencari keberadaannya.

Seorang dokter forensik akhirnya membantu mereka menemukan jasad Toledo pada Sabtu lalu.

Namun masalah baru muncul. Keluarga tidak memiliki uang sebesar 450 dolar AS untuk membayar biaya pemakaman.

Menjelang tengah malam, secercah harapan datang.

Pemerintah kota menawarkan satu petak makam gratis dengan syarat jenazah harus segera dimakamkan.

Tanpa banyak pilihan, Rosa López bersama putrinya berjalan menanjak menuju pemakaman pada tengah malam untuk menguburkan Toledo.

“Dia adalah orang yang luar biasa, anak muda yang selalu senang membantu orang lain,” ujar López dengan suara bergetar.

Mereka bersyukur masih bisa menyelamatkan Toledo dari pemakaman massal yang kini mulai menghantui ribuan keluarga lain di Venezuela.

Jenazah Sulit Dikenali

Petugas forensik Joel Mirabal mengaku telah bekerja tanpa henti selama tujuh hari terakhir.

Menurutnya, proses identifikasi jenazah menjadi tantangan terbesar karena kondisi tubuh korban mengalami kerusakan sangat parah.

Dalam sekitar 60 hingga 70 persen kasus, identitas korban hanya dapat dipastikan melalui keluarga atau tetangga yang mengenali tato, bekas luka, maupun pakaian yang dikenakan.

“Mereka bahkan tidak terlihat 10 persen seperti ketika masih hidup,” kata Mirabal.

Jenazah yang belum berhasil dikenali kini disimpan di pelabuhan La Guaira menggunakan kontainer pendingin yang disumbangkan sejumlah perusahaan swasta.

Baca juga :  Upaya Menghadapi Bencana Alam, Sekda Dewa Indra Tekankan Pejabat Terkait Untuk Lakukan Contigency Plan

Namun kapasitas penyimpanan terus menipis.

Ancaman Kuburan Massal

Mirabal memperingatkan bahwa kuburan massal kemungkinan tidak dapat dihindari.

Jumlah korban terus bertambah, sementara banyak jasad masih terkubur di bawah lapisan beton yang sangat tebal.

Ia memperkirakan proses evakuasi korban bisa berlangsung hingga tiga bulan ke depan.

Sementara itu, kemarahan warga terhadap lambatnya penanganan pemerintah masih terus bermunculan. Banyak keluarga merasa bantuan datang terlambat sebelum akhirnya tim penyelamat internasional berdatangan ke lokasi bencana.

Di tengah kehilangan yang belum berakhir, Venezuela kini menghadapi ujian terbesar: bukan hanya menghitung korban jiwa, tetapi juga mengembalikan harapan jutaan warganya yang hidupnya berubah hanya dalam hitungan detik akibat gempa paling mematikan yang pernah melanda negara tersebut dalam beberapa dekade terakhir.