Tangis Salah Pecah! Mesir Lolos ke 16 Besar, Pelatih Dedikasikan Kemenangan untuk Palestina
DALLAS, DIKSIMERDEKA.COM – Peluit panjang belum lama berbunyi ketika Mohamed Salah berlutut di tengah lapangan. Kedua tangannya menutupi wajah, air mata mengalir tanpa bisa dibendung. Di sekelilingnya, rekan-rekan setim berlari sambil berteriak, sebagian menjatuhkan diri ke rumput, sebagian lagi memeluk satu sama lain. Malam di Dallas berubah menjadi pesta rakyat Mesir. Setelah menunggu hampir satu abad, The Pharaohs akhirnya memenangi laga fase gugur Piala Dunia, menyingkirkan Australia lewat drama adu penalti yang menguras emosi.
Pahlawan kemenangan datang dari kaki Hossam Abdelmaguid. Bek berusia 25 tahun itu berjalan pelan menuju titik putih pada penendang kelima. Napasnya terlihat berat. Ia menghentikan langkah sejenak, menipu Mat Ryan yang lebih dulu menjatuhkan badan ke kiri, lalu dengan dingin mengarahkan bola ke sisi berlawanan. Begitu bola bersarang di gawang, stadion seketika meledak.
Abdelmaguid langsung melepas kausnya sambil berlari ke sudut lapangan. Salah berlari memeluknya dengan mata yang masih basah. Pelatih Hossam Hassan tak mampu menyembunyikan emosinya. Sang legenda Mesir ikut menangis di pinggir lapangan.
Bagi Mesir, ini bukan sekadar kemenangan. Ini adalah sejarah.
Untuk pertama kalinya sejak tampil di Piala Dunia 1934, Mesir akhirnya berhasil memenangi pertandingan fase gugur. Kala itu mereka langsung tersingkir dari Hungaria. Kini, 92 tahun kemudian, generasi Salah berhasil memutus kutukan panjang tersebut.
“Hati dan jiwa saya bersama rakyat Palestina. Saya persembahkan kemenangan ini untuk mereka dan seluruh bangsa Arab. Tuhan memberi kami kemenangan karena doa orang-orang baik,” ujar Hossam Hassan usai pertandingan.
Salah Menang, Australia Menyesal
Ironisnya, Australia sebenarnya sudah merasa memiliki keuntungan sebelum adu penalti dimulai.
Pelatih mereka menarik keluar Patrick Beach, kiper yang tampil gemilang sepanjang pertandingan, lalu memasukkan Mat Ryan khusus menghadapi adu penalti. Keputusan berani itu diharapkan menjadi senjata rahasia.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Ryan sama sekali tidak mampu membaca arah tendangan para pemain Mesir. Bahkan penalti Panenka dari Mohamed Salah membuat kiper veteran itu hanya bisa terpaku melihat bola melambung pelan ke tengah gawang.
Sementara itu, Australia kehilangan momentum ketika Harry Souttar dan talenta muda Lucas Herrington gagal menuntaskan tugas mereka.
Strategi yang disusun berjam-jam runtuh hanya dalam hitungan menit.
Duel Sarat Tekanan
Sejak awal pertandingan, kedua tim tampil hati-hati. Tak ada yang ingin menjadi tim pertama yang melakukan kesalahan.
Mesir mencuri keunggulan lebih dulu pada menit ke-13 melalui Emam Ashour. Berawal dari skema tendangan bebas yang cerdas, Karim Hafez mengirim bola kembali ke depan gawang dan Ashour muncul tanpa kawalan untuk menanduk bola masuk.
Gol itu membuat ribuan pendukung Mesir bergemuruh.
Namun Australia menolak menyerah.
Sepuluh menit setelah babak kedua dimulai, Aiden O’Neill mengirim tendangan bebas berbahaya. Bola justru mengenai kepala Mohamed Hany sebelum berbelok ke gawang sendiri. Skor berubah menjadi 1-1 dan pertandingan kembali hidup.
Dari sana, duel berubah menjadi pertarungan fisik dan mental.
Mesir beberapa kali mencoba mencari gol kemenangan setelah Hossam Hassan memasukkan Trezeguet dan mengubah formasi menjadi tiga bek. Peluang terbaik datang melalui tandukan Rami Rabia, tetapi Patrick Beach melakukan penyelamatan refleks yang luar biasa.
Australia juga berusaha menekan, namun kesulitan menciptakan peluang bersih.
Statistik Tak Selalu Menentukan
Jika melihat angka, Australia memang sedikit lebih dominan dalam penguasaan bola. Mereka mencatat 52 persen penguasaan bola, sementara Mesir menguasai 48 persen.
Namun efektivitas berbicara lain.
Mesir menghasilkan 12 tembakan, dengan 5 mengarah tepat ke gawang. Australia melepaskan 10 percobaan, tetapi hanya 3 yang benar-benar menguji penjaga gawang.
Akurasi operan kedua tim juga nyaris seimbang. Australia membukukan sekitar 87 persen akurasi umpan, sedangkan Mesir mencapai 84 persen.
Laga berlangsung keras. Total 28 pelanggaran terjadi sepanjang pertandingan. Australia menerima tiga kartu kuning, sementara Mesir memperoleh dua kartu kuning.
Yang paling menentukan tentu saja adu penalti. Di situlah mental Mesir berbicara.
Drama Sebelum Kick-off
Kemenangan bersejarah ini terasa semakin manis karena sehari sebelumnya skuad Mesir sempat diterpa insiden yang menyita perhatian.
Direktur tim Ibrahim Hassan, saudara kembar pelatih Hossam Hassan, terlibat adu mulut dengan seorang polisi Dallas di hotel tim. Insiden bermula ketika petugas mencegah seorang pemain berfoto dengan anak kecil.
Video yang beredar memperlihatkan keduanya sempat berdiri saling menantang sebelum akhirnya dilerai Trezeguet.
Federasi Sepak Bola Mesir menyebut kejadian itu sebagai kesalahpahaman, tetapi tetap menyayangkan sikap aparat keamanan yang dianggap berlebihan.
Alih-alih mengganggu konsentrasi, insiden tersebut justru menjadi bahan bakar tambahan bagi para pemain Mesir.

Tinggalkan Balasan