DIKSIMERDEKA.COM, KYIV — Langit Kyiv kembali membara. Rusia melancarkan salah satu serangan udara terbesar dalam beberapa pekan terakhir dengan rentetan drone, rudal jelajah, dan rudal balistik yang menghantam ibu kota Ukraina pada Kamis (2/7/2026) dini hari. Sedikitnya 13 orang tewas dan 86 lainnya terluka, sementara puluhan bangunan rusak akibat ledakan dan reruntuhan.

Suara ledakan mengguncang berbagai penjuru Kyiv selama berjam-jam. Sistem pertahanan udara Ukraina berusaha mencegat gelombang serangan, namun sejumlah rudal dan puing-puing tetap menghantam kawasan permukiman, hotel, hingga gedung apartemen di pusat kota.

Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengatakan sebuah apartemen mengalami kerusakan parah setelah terkena serangan langsung. Enam lantai pertama bangunan tersebut dilaporkan runtuh.

Di lokasi lain, tim penyelamat bekerja tanpa henti mengevakuasi warga yang masih terjebak di bawah reruntuhan setelah sebagian blok apartemen ambruk akibat ledakan.

Layanan darurat Ukraina menyebut jumlah korban diperkirakan masih bisa bertambah karena proses pencarian terus berlangsung. Dari 86 korban luka, sedikitnya 70 orang harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Baca juga :  Rusia Hujani Kyiv dengan Rudal Hipersonik Oreshnik

Zelensky Sudah Beri Peringatan

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sehari sebelumnya telah memperingatkan masyarakat agar bersiap menghadapi kemungkinan serangan besar dari Rusia.

Saat melakukan kunjungan kerja ke Dublin, Irlandia, Zelensky meminta warga segera menuju tempat perlindungan jika sirene serangan udara berbunyi.

“Saya meminta seluruh rakyat Ukraina untuk lebih berhati-hati, menjaga diri sendiri dan anak-anak, serta memanfaatkan tempat perlindungan. Ini sangat penting,” kata Zelensky.

Peringatan tersebut terbukti. Ribuan warga Kyiv berbondong-bondong mengungsi ke stasiun metro yang selama perang difungsikan sebagai bunker bawah tanah.

Serangan besar ini juga terjadi beberapa pekan setelah Rusia memperingatkan diplomat asing agar meninggalkan Kyiv karena Moskow berencana meningkatkan serangan terhadap apa yang disebut sebagai “pusat-pusat pengambilan keputusan” Ukraina.

Diduga Balasan Serangan Ukraina

Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim serangan tersebut merupakan balasan atas meningkatnya serangan drone jarak jauh Ukraina ke wilayah Rusia.

Moskow menyatakan rudal yang ditembakkan berasal dari udara, darat, dan laut dengan sasaran fasilitas militer serta infrastruktur energi Ukraina.

Baca juga :  Rudal Rusia Hantam Museum Chornobyl di Kyiv, Jejak Bencana Nuklir Ikut Jadi Korban

Namun, otoritas Ukraina menegaskan banyak rudal justru menghantam kawasan sipil.

Serangan terbaru berlangsung ketika Rusia tengah menghadapi tekanan besar akibat serangan drone Ukraina terhadap kilang-kilang minyak di berbagai wilayah.

Sejumlah daerah Rusia dilaporkan mengalami kelangkaan bahan bakar hingga harus menerapkan pembatasan pembelian bensin. Di Crimea yang diduduki Rusia, pemerintah setempat bahkan telah menetapkan status darurat.

Ukraina menegaskan akan terus menggempur fasilitas logistik militer Rusia di Crimea, wilayah yang dianeksasi Moskow pada 2014 dan kini menjadi pusat distribusi pasukan Rusia di Ukraina selatan.

Ukraina: Rusia Tak Berhak Berdalih Balasan

Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiha, yang sedang berada di Jepang, mengecam alasan Rusia yang menyebut serangan ke Kyiv sebagai aksi balasan.

Menurut Sybiha, tidak tepat menyamakan tindakan agresor dengan negara yang mempertahankan diri.

“Dalam perang ini hanya ada satu agresor dan satu negara yang membela diri. Rusia tidak memiliki hak menyerang Ukraina, sementara Ukraina berhak mempertahankan diri dan menyerang target-target militer yang sah di wilayah Rusia,” tegasnya.

Baca juga :  Ledakan Guncang Lviv, Polisi Wanita Tewas Saat Rusia Hujani Ukraina 50 Rudal

Serangan terbaru ini kembali memperlihatkan bahwa perang Rusia-Ukraina masih jauh dari kata usai. Di tengah saling balas serangan yang semakin intens, warga sipil tetap menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Serangan terbaru menunjukkan konflik Rusia-Ukraina terus memasuki fase yang semakin berbahaya. Intensitas penggunaan drone dan rudal jarak jauh meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Di satu sisi, Rusia berupaya melemahkan infrastruktur strategis Ukraina melalui serangan udara besar-besaran. Di sisi lain, Ukraina terus membalas dengan menggempur kilang minyak, pangkalan militer, dan jalur logistik Rusia menggunakan drone jarak jauh. Kondisi tersebut membuat peluang tercapainya gencatan senjata semakin kecil, sementara warga sipil di kedua negara masih harus menghadapi ancaman perang yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Hingga kini, tim penyelamat masih menyisir lokasi-lokasi yang terdampak untuk mencari kemungkinan adanya korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan. Pemerintah Ukraina juga mengimbau warga tetap waspada dan segera menuju tempat perlindungan jika sirene serangan udara kembali berbunyi.