Poltekkes Kemenkes Denpasar Cetak Agen Perubahan untuk Tekan Risiko Penyakit Tidak Menular pada Remaja
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Rendahnya literasi remaja terhadap informasi nilai gizi pada kemasan pangan dinilai menjadi salah satu tantangan dalam upaya menekan risiko penyakit tidak menular (PTM) sejak usia dini. Menyikapi kondisi tersebut, Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Denpasar mengembangkan program LENTERA (Peningkatan Literasi Remaja tentang Label Pangan) untuk membentuk agen perubahan yang mampu mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya memilih pangan sehat.
Program yang digelar dalam ajang National Health Community Service Championship (NHCS-C) 2026 itu menyasar remaja yang aktif di berbagai komunitas, seperti Putra Putri Sekolah Ajeg Bali, Teruna Bagus Teruni Jegeg SMAN 2 Denpasar, serta Jegeg Bagus Gizi Poltekkes Kemenkes Denpasar.
Ketua tim pelaksana, Ni Putu Agustina Kumala Dewi, mengatakan perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama meningkatnya konsumsi makanan olahan dan siap saji, menuntut remaja memiliki kemampuan memahami informasi gizi yang tercantum pada kemasan produk.

Berdasarkan data yang dihimpun tim, sebanyak 64,9 persen remaja masih memiliki tingkat pengetahuan yang rendah mengenai label pangan. Sementara itu, 50,6 persen responden juga belum terbiasa membaca informasi nilai gizi sebelum membeli atau mengonsumsi produk pangan.
“Melalui program LENTERA, kami ingin meningkatkan kemampuan remaja dalam memahami label pangan sehingga mereka mampu mengambil keputusan yang lebih sehat sekaligus menjadi agen edukasi di lingkungan sekitarnya,” kata Agustina.
Program tersebut tidak hanya memberikan materi mengenai label pangan, tetapi juga mengajak peserta melakukan praktik langsung membaca informasi nilai gizi, menghitung kandungan zat gizi berdasarkan porsi saji, hingga memahami batas konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) untuk mencegah risiko penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.
“Kami tidak hanya memberikan ceramah, tetapi juga mengajak peserta membandingkan dua produk sejenis, menghitung kandungan zat gizinya, serta memahami cara membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak agar terhindar dari risiko PTM sejak usia remaja,” ujar Agustina.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti pelatihan. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 79,44 pada pre-test menjadi 89,44 pada post-test. Persentase peserta yang memperoleh nilai sempurna juga naik dari 16,67 persen menjadi 38,89 persen, sementara tidak ada lagi peserta yang memperoleh nilai di bawah 80.
Selain meningkatkan literasi gizi, program LENTERA juga mendukung implementasi Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 tentang Pencantuman Label Gizi dan Pesan Kesehatan pada Pangan Olahan Siap Saji. Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan sistem klasifikasi Nutri-Level sebagai panduan memilih produk pangan yang lebih sehat.
Program ini diproyeksikan tidak berhenti pada pelatihan semata. Seluruh peserta telah menyusun rencana tindak lanjut dan berkomitmen menyebarluaskan edukasi mengenai label pangan kepada teman sebaya melalui berbagai kegiatan di sekolah maupun komunitas.
Melalui pendekatan tersebut, Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Denpasar berharap lahir semakin banyak agen perubahan yang mampu meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya remaja, untuk membiasakan pola konsumsi yang lebih sehat sehingga dapat menekan risiko penyakit tidak menular di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan