Menakar Efek Ekor Jas Jokowi di Bali
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Rencana Presiden RI 2014-2024 Joko Widodo melakukan safari ke berbagai daerah di Indonesia, menarik perhatian Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Wayan Suyasa. Mantan politikus Partai Golkar itu, berharap Bali jadi salah satu list daerah yang dikunjungi Jokowi.
Bukan tanpa sebab, mantan presiden tersebut dinilai masih memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Suyasa mengungkapkan kedatangan Jokowi dapat mendongkrak elektabilitas partai berlogo gajah tersebut di Pulau Dewata, terlebih Jokowi secara terang-terangan telah memakai baju dan topi berlogo PSI.
“Kami berharap ada Jokowi effect. Pengaruh beliau masih sangat besar dan masih dikehendaki masyarakat. Kehadiran beliau tentu akan memberikan dampak positif bagi perjuangan PSI di Bali,” ungkapnya, Selasa (30/6/2026).

Saat Pemilu 2024, PSI berhasil memperoleh 60.722 suara pada pemilihan DPR RI. Sementara pada pemilihan DPRD Bali, PSI memperoleh 52.217 suara. Hasil perolehan suara tersebut hanya membuat PSI memperoleh satu kursi di DPRD Provinsi Bali, namun belum berhasil memperoleh kursi di DPR RI.
Kehadiran Jokowi di Bali diharapkan mengerek elektabilitas partai. Terlebih pada Pemilu 2029, PSI memasang target cukup ambisius di Bali yaitu mampu memperoleh 25-30 kursi di seluruh DPRD kab/kota, membentuk fraksi di DPRD Provinsi, dan mencuri minimal satu kursi DPR RI.
Pengamat politik Teddy Chrisprimanata Putra menilai fenomena efek ekor jas Jokowi masih ada, meski katanya pengaruhnya tidak lagi besar seperti saat menjabat sebagai presiden.
“Efek ekor jas masih ada, tapi Intensitas yang tidak lagi sama seperti saat dirinya masih menjabat sebagai presiden,” terangnya.
Hal ini, kata dia, dapat dilihat dari hasil survei Indikator Politik Indonesia pada 2023 yang menunjukkan sekitar 23,9 persen pemilih memilih PDI Perjuangan karena menyukai Joko Widodo. Artinya Jokowi punya daya tarik yang kuat dalam konteks elektoral.
“Tetapi hari ini jelas berbeda. Jokowi bukan lagi presiden, bukan lagi figur yang ikut berkontestasi, sehingga secara otomatis efek yang bisa diberikan Jokowi di Bali tidak lagi sebesar dulu saat Pemilu 2019,” ujarnya.
Teddy yang juga akademisi Ilmu Politik Universitas Veteran Jakarta ini menambahkan, meski waktu menuju kontestasi politik masih cukup panjang, Jokowi tetap memiliki pengaruh di berbagai lapisan karena pengalaman satu dekade memimpin Indonesia.
Lebih lanjut, Teddy mengatakan dukungan figur nasional memang terbukti memiliki efek pengungkit dalam beberapa pemilu terakhir di Bali, termasuk pada 2019 dan 2024.
Pada dua periode pemilu tersebut, figur nasional seperti Jokowi maupun Prabowo Subianto dinilai turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan suara partai-partai yang berafiliasi.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa figur nasional tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan mesin partai dan kekuatan elit lokal di daerah.
Melihat hasil Pemilu 2024, ia menilai masih terlihat adanya pengaruh figur Jokowi dalam preferensi politik masyarakat Bali, meski dampaknya tidak dominan.
“Karena itu, PSI perlu bekerja lebih keras agar tetap relevan menuju kontestasi politik 2029 dan 2031, terutama dengan memanfaatkan kedekatan simbolik dengan Jokowi,” terangnya
Hal senada disampaikan Pengamat Politik I Nyoman Subanda. Dosen Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) itu menilai pengaruh politik Jokowi di tengah masyarakat masih kuat.
Sehingga tambahnya, partai politik atau kandidat yang diidentikan merepresentasikan Jokowi akan mendapatkan efek ekor jas.
“Jokowi itu saat ini kalau kita lihat nampaknya masih mempunyai pengaruh yang luar biasa baik dalam pemerintahan maupun dalam masyarakat itu harus diakui. Walaupun masih pro dan kontra dan masih banyak yang mencaci maki. Ini menunjukan bahwa beliau masih memiliki pengaruh,” ungkapnya.
Ia menilai, apabila Jokowi melakukan safari politik ke Bali bersama PSI, langkah tersebut berpotensi meningkatkan elektabilitas partai berlambang gajah tersebut. Selain itu, kehadiran Jokowi juga diyakini mampu menjadi suntikan semangat bagi jajaran pengurus DPW PSI Bali yang baru dilantik pada Januari 2026.
“Safari politik Jokowi ke Bali akan menjadi energi baru bagi pengurus PSI yang baru dilantik. Ini sekaligus menunjukkan bahwa kedekatan Jokowi dengan PSI bukan sekadar klaim, tetapi memang diwujudkan melalui dukungan secara langsung,” katanya.
Meski demikian, Subanda menilai efek elektoral yang ditimbulkan tetap memiliki batas. Menurutnya, kehadiran Jokowi memang berpotensi meningkatkan perolehan suara PSI di Bali, namun belum cukup kuat untuk menggeser dominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) yang selama ini masih menjadi kekuatan politik utama di Pulau Dewata.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan