Brasil vs Jepang 2-1: Bangkit dari Mimpi Buruk, Martinelli Kirim Selecao ke Perempat Final Piala Dunia 2026
DIKSIMERDEKA.COM – MIAMI – Brasil nyaris tersungkur di depan Jepang. Selama 45 menit pertama, Selecao dibuat tak berkutik oleh permainan cepat dan disiplin Samurai Biru di laga Brasil vs Jepang. Namun, tim lima kali juara dunia itu sekali lagi menunjukkan mental juara. Bangkit pada babak kedua, Brasil membalikkan keadaan menjadi kemenangan dramatis 2-1 lewat gol Gabriel Martinelli di masa injury time untuk memastikan tiket ke perempat final Piala Dunia 2026.
Gol penentu Martinelli pada menit ke-95 memecah kebuntuan sekaligus menghancurkan mimpi Jepang mencatat sejarah lolos ke delapan besar Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Di sisi lain, kemenangan ini kembali memperlihatkan sentuhan dingin Carlo Ancelotti. Ketika timnya berada di ujung tanduk, pelatih asal Italia itu berhasil membaca permainan dan mengubah jalannya laga hanya lewat pergantian strategi di babak kedua.
Sejak peluit awal berbunyi, Jepang tampil tanpa rasa gentar. Tim asuhan Hajime Moriyasu justru mendominasi tempo permainan dengan pressing tinggi, transisi cepat, dan organisasi pertahanan yang membuat para pemain Brasil frustrasi.
Vinicius Junior yang biasanya menjadi ancaman utama nyaris tak berkutik. Takehiro Tomiyasu bersama Ritsu Doan bergantian menutup ruang geraknya di sisi kanan pertahanan Jepang.
Kesabaran Samurai Biru akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-29.
Berawal dari kesalahan Danilo saat membangun serangan, Kaishu Sano merebut bola, melewati Casemiro yang terlambat menutup ruang, sebelum melepaskan tembakan mendatar dari luar kotak penalti. Bola meluncur deras ke pojok gawang tanpa mampu dihentikan Alisson Becker.
Gol tersebut membuat stadion seketika bergemuruh. Jepang unggul 1-0, sementara Brasil terlihat kehilangan arah.
Hingga turun minum, Selecao hanya mampu menguasai bola tanpa menciptakan peluang berbahaya. Ancaman eliminasi dini mulai membayangi tim yang tak pernah absen di putaran final Piala Dunia itu.
Namun, semua berubah setelah jeda.
Ancelotti memasukkan Endrick dan mengubah formasi menjadi 4-2-3-1. Pergantian itu langsung menghidupkan permainan Brasil. Serangan demi serangan mulai mengalir dari kedua sayap, sementara umpan silang terus menghujani pertahanan Jepang.
Tekanan tanpa henti akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-56.
Gabriel Magalhães mengirim umpan chip akurat ke kotak penalti. Casemiro menyambutnya dengan sundulan keras yang gagal diantisipasi Zion Suzuki. Skor berubah menjadi 1-1 dan momentum sepenuhnya berpindah ke kubu Brasil.
Gol penyama kedudukan itu membuat permainan Jepang perlahan menurun. Tim Samurai Biru yang begitu agresif pada babak pertama mulai lebih banyak bertahan menghadapi gelombang serangan Selecao.
Vinicius Junior nyaris membawa Brasil berbalik unggul, tetapi penyelamatan gemilang Suzuki membuat Jepang tetap bertahan.
Brasil Dominan, Statistik Berbicara
Dominasi Brasil pada babak kedua tercermin jelas dalam statistik pertandingan.
Selecao melepaskan 20 tembakan, tujuh di antaranya tepat sasaran. Jepang hanya mampu menciptakan lima percobaan dengan dua mengarah ke gawang.
Brasil juga menguasai 60 persen penguasaan bola, mencatat 679 operan dengan akurasi mencapai 92 persen. Sebaliknya, Jepang hanya menghasilkan 300 operan dengan akurasi 86 persen.
Keunggulan Brasil semakin terlihat melalui enam tendangan sudut, sementara Jepang hanya memperoleh dua. Angka-angka tersebut menggambarkan bagaimana tekanan tanpa henti Selecao terus memaksa lini belakang Jepang bekerja ekstra keras sepanjang babak kedua.
Moriyasu mencoba mengubah keadaan dengan mengganti kedua wing-back untuk meredam gempuran Brasil. Pergantian itu sempat memperlambat ritme lawan, tetapi tidak mampu menghilangkan dominasi tim Samba.
Ketika pertandingan tampak akan memasuki babak tambahan waktu, petaka menghampiri Jepang.
Memasuki menit ke-95, Ao Tanaka kehilangan bola di depan kotak penalti sendiri. Bruno Guimaraes tidak terburu-buru menembak. Gelandang Newcastle United itu memilih mengirim umpan matang ke sisi kiri kepada Gabriel Martinelli.
Winger Arsenal tersebut menyambut bola dengan tenang sebelum melepaskan sepakan yang bersarang ke gawang Jepang.
Gol!
Seluruh bangku cadangan Brasil langsung berhamburan ke lapangan. Martinelli dikerubungi rekan-rekannya, sementara para pemain Jepang terduduk lesu karena kemenangan yang sudah di depan mata sirna hanya beberapa detik sebelum peluit panjang berbunyi.
Bagi Jepang, kekalahan ini terasa sangat menyakitkan. Samurai Biru kembali gagal melewati babak 16 besar Piala Dunia, meski kali ini mereka memperlihatkan permainan yang berani dan berkualitas saat menghadapi salah satu favorit juara.
Sebaliknya, Brasil kembali menunjukkan karakter khas tim juara. Meski beberapa kali tampil di bawah performa terbaik sepanjang turnamen, Selecao selalu menemukan cara untuk keluar dari tekanan.
Kini, Brasil melaju ke perempat final dan akan menghadapi pemenang duel Pantai Gading kontra Norwegia.
Namun, Ancelotti tetap memiliki pekerjaan rumah. Penampilan buruk pada babak pertama menjadi peringatan bahwa Brasil tidak bisa terus mengandalkan kebangkitan dramatis jika ingin mewujudkan ambisi membawa pulang gelar Piala Dunia keenam. Dengan kualitas skuad dan pengalaman sang pelatih, Selecao kembali mengirim pesan tegas kepada para pesaing: mereka belum habis dan masih menjadi kandidat kuat juara Piala Dunia 2026.

Tinggalkan Balasan