Panama vs Kroasia 0-1: Budimir Jadi Pahlawan, Modric Rayakan 200 Caps dengan Kemenangan
DIKSIMERDEKA.COM TORONTO – Saat peluit panjang berbunyi, Luka Modric mendapat sambutan bak pahlawan nasional. Bukan hanya karena Kroasia menang 1-0 atas Panama, tetapi karena malam itu sang gelandang legendaris resmi mencatatkan 200 penampilan internasional. Dalam duel Panama vs Kroasia yang berlangsung ketat, gol Ante Budimir menjadi pembeda sekaligus menjaga peluang Vatreni melaju ke babak gugur Piala Dunia 2026.
Kroasia menang 1-0 atas Panama dalam laga Grup L, sekaligus menjaga peluang mereka melaju ke babak gugur.Kemenangan ini terasa sangat penting bagi pasukan Zlatko Dalic setelah sebelumnya tumbang 2-4 dari Inggris pada laga pembuka. Sementara bagi Panama, kekalahan kedua secara beruntun membuat mereka dipastikan tersingkir dari turnamen.
Sorotan utama pertandingan tertuju kepada Luka Modric. Gelandang berusia 40 tahun itu mencatat penampilan ke-200 bersama tim nasional Kroasia, menjadikannya pemain keempat dalam sejarah sepak bola putra yang mencapai angka tersebut setelah Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Bader Al-Mutawa dari Kuwait.

Didukung ribuan suporter Kroasia yang memadati stadion, Modric tampil tenang mengatur ritme permainan meski menghadapi Panama yang memilih bertahan total sepanjang pertandingan.
Panama datang dengan pendekatan yang sudah menjadi ciri khas mereka dalam beberapa tahun terakhir. Tim asuhan Thomas Christiansen menumpuk pemain di area pertahanan dengan formasi 5-4-1, menunggu kesempatan melancarkan serangan balik cepat.
Strategi tersebut sempat membuat Kroasia frustrasi. Sepanjang babak pertama, Vatreni kesulitan menemukan celah untuk membongkar rapatnya lini belakang Panama.
Peluang terbaik justru dimiliki Panama pada menit ke-23. Amir Murillo mengirim umpan silang akurat yang disambut sundulan keras Jose Luis Rodriguez. Beruntung bagi Kroasia, Dominik Livakovic melakukan penyelamatan luar biasa dengan menepis bola yang sempat membentur mistar gawang.
Babak pertama berjalan ketat dan minim peluang bersih. Kroasia lebih banyak menguasai bola, tetapi kesulitan mengubah dominasi tersebut menjadi ancaman nyata di depan gawang Orlando Mosquera.
Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-54. Berawal dari pergerakan Josip Stanisic di sisi kanan, bek Kroasia itu menerima umpan terobosan Marco Pasalic sebelum melepaskan umpan silang mendatar ke tiang jauh.
Ante Budimir yang baru masuk pada awal babak kedua berhasil menyambar bola dengan sempurna. Striker Osasuna itu menaklukkan Mosquera dan membawa Kroasia unggul 1-0.
Gol tersebut memaksa Panama keluar dari strategi bertahan mereka. Los Canaleros mulai bermain lebih terbuka dan berusaha mengejar ketertinggalan.
Namun perubahan pendekatan itu justru memberi ruang lebih luas bagi Kroasia untuk melakukan serangan balik. Modric hampir menciptakan gol kedua ketika mengirim umpan matang kepada Pasalic. Sayangnya peluang tersebut masih mampu digagalkan Mosquera.
Secara statistik, Kroasia memang lebih dominan dalam mengontrol permainan. Vatreni mencatat 58 persen penguasaan bola dibanding 42 persen milik Panama. Mereka juga membukukan 493 operan dengan akurasi 83 persen, unggul atas Panama yang mencatat 327 operan dengan akurasi 82 persen.
Menariknya, Panama justru lebih unggul dalam jumlah tembakan. Wakil Concacaf itu melepaskan delapan tembakan, sementara Kroasia hanya menghasilkan enam percobaan. Meski demikian, kedua tim sama-sama mencatat tiga tembakan tepat sasaran.
Panama juga unggul dalam situasi bola mati dengan menghasilkan tujuh tendangan sudut, berbanding hanya dua milik Kroasia. Namun efektivitas menjadi pembeda utama dalam pertandingan ini. Kroasia mampu memanfaatkan salah satu peluang terbaik mereka menjadi gol kemenangan melalui Budimir.
Di sisi lain, Livakovic kembali menunjukkan kualitasnya sebagai penyelamat Kroasia. Kiper Fenerbahce itu beberapa kali melakukan intervensi penting untuk menjaga keunggulan timnya hingga peluit panjang berbunyi.
Bagi Panama, hasil ini mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia 2026. Meski tampil disiplin dan penuh semangat, mereka kembali gagal mencetak gol setelah juga mandul pada pertandingan sebelumnya.
Sementara itu, Kroasia kini mengalihkan fokus ke laga terakhir Grup L melawan Inggris. Kemenangan menjadi target utama jika mereka ingin memastikan tempat di fase gugur.
Pada akhirnya, malam itu bukan hanya tentang gol Budimir yang menyelamatkan Kroasia. Malam itu juga menjadi penghormatan bagi Luka Modric, sang maestro yang telah mengabdi lebih dari dua dekade untuk negaranya. Dengan 200 caps dan peluang lolos yang masih terbuka, kisah Modric bersama Kroasia tampaknya masih belum selesai.

Tinggalkan Balasan