Flu Burung H5N1 Masuk Australia, IPB Ingatkan Indonesia Jangan Lengah
DIKSIMERDEKA.COM BOGOR – Flu Burung H5N1 Masuk Australia menjadi perhatian serius setelah otoritas setempat mengonfirmasi kasus kedua pada burung liar di Western Australia. Temuan virus flu burung H5N1 pada burung liar di Australia memicu kewaspadaan tinggi di negara tersebut. Setelah kasus pertama ditemukan di Esperance, Western Australia, otoritas setempat kini mengonfirmasi kasus kedua pada spesies burung liar yang berbeda. Situasi ini memperkuat kekhawatiran bahwa virus mematikan tersebut mulai memasuki ekosistem satwa liar Australia dan berpotensi mengancam industri unggas nasional.
Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, menilai perkembangan tersebut harus menjadi perhatian serius Indonesia. Menurutnya, Indonesia berada di jalur migrasi burung yang terhubung dengan Australia dan memiliki pengalaman panjang menghadapi wabah H5N1.
“Kehati-hatian ini wajar, mengingat Indonesia berada di jalur migrasi burung dari Australia dan pernah mengalami wabah H5N1 yang menimbulkan kerugian di sektor unggas,” ujar Prof. Ronny.
Australia Konfirmasi Kasus Kedua H5N1
Dilansir dari ABC, Kekhawatiran Australia semakin meningkat setelah seekor brown skua dan seekor northern giant petrel yang ditemukan sakit di kawasan pantai terpencil Esperance dinyatakan positif terinfeksi H5N1 berdasarkan hasil pengujian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO).

Menteri Pertanian Australia, Julie Collins, menyatakan pemerintah masih berupaya memastikan apakah virus H5N1 sudah mulai menetap di populasi satwa liar Australia atau masih terbatas pada dua kasus terisolasi tersebut.
“Kami sedang bekerja untuk menentukan apakah flu burung H5 telah menyebar di satwa liar Australia selain dua kasus burung yang terisolasi ini,” kata Collins.
Meski demikian, hingga saat ini belum ditemukan kematian massal satwa liar maupun kasus infeksi pada peternakan unggas komersial. Sistem peternakan unggas Australia juga masih dinyatakan bebas dari wabah H5N1.
Puluhan Laporan Burung Sakit dan Mati
Otoritas veteriner Western Australia mencatat lonjakan laporan dari masyarakat setelah temuan kasus pertama diumumkan.
Kepala Dokter Hewan Western Australia, Michelle Rodan, mengungkapkan sedikitnya 58 laporan burung sakit atau mati masuk ke hotline darurat hanya dalam beberapa hari terakhir. Dari jumlah tersebut, sembilan sampel telah dikumpulkan untuk diuji lebih lanjut.
“Kami menghargai perhatian dan dukungan masyarakat yang melaporkan kasus-kasus ini. Masyarakat merupakan mitra penting yang dapat memperkuat sistem pengawasan kami,” ujar Rodan.
Kawasan Esperance sendiri dikenal sebagai salah satu jalur migrasi utama burung laut dunia. Wilayah tersebut mencakup Kepulauan Recherche dan kawasan lahan basah yang masuk daftar perlindungan internasional RAMSAR serta setiap tahun dikunjungi ratusan spesies burung migran.
Industri Unggas Australia Mulai Siaga
Ancaman H5N1 juga mendorong industri unggas Australia mengambil langkah antisipasi. Salah satu produsen unggas terbesar Australia, Ingham’s, mengumumkan penguncian atau lockdown terhadap seluruh operasionalnya di Western Australia.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk pencegahan dini sambil menunggu hasil investigasi lanjutan mengenai penyebaran virus.
Situasi ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman H5N1 terhadap industri unggas. Australia memproduksi sekitar 1,3 juta ton daging ayam dan enam miliar butir telur setiap tahun dengan nilai ekonomi mencapai AUD 7 miliar.
“Flu burung di Australia memengaruhi ekspor dan kepercayaan internasional. Wabah menyebabkan mitra dagang membatasi ekspor sehingga pemerintah dan industri harus berinvestasi dalam surveilans, karantina, dan latihan simulasi wabah,” jelas Prof. Ronny.
Indonesia Harus Perkuat Biosekuriti
Menurut Prof. Ronny, langkah paling penting bagi Indonesia saat ini adalah meningkatkan pengawasan terhadap burung liar migran dan memperkuat biosekuriti di peternakan unggas.
Ia mengingatkan bahwa virus H5N1 memiliki tingkat kematian sangat tinggi pada unggas, bahkan bisa mencapai 90 hingga 100 persen dalam waktu singkat.
Selain itu, H5N1 juga dapat menginfeksi manusia. Gejalanya mulai dari demam, batuk, sakit tenggorokan, hingga pneumonia berat dan gagal napas. Organisasi kesehatan dunia bahkan mencatat tingkat fatalitas kasus H5N1 pada manusia mendekati 50 persen.
Karena itu, Indonesia perlu meningkatkan koordinasi antara pemerintah, peternak, peneliti, dan masyarakat dalam mendeteksi potensi penyebaran virus sejak dini.
“Indonesia harus memperkuat pengawasan terhadap burung liar di jalur migrasi serta meningkatkan biosekuriti di peternakan unggas, termasuk menjaga sanitasi, mengendalikan lalu lintas unggas, dan menyiapkan dana darurat untuk kompensasi serta pemusnahan unggas jika terjadi wabah,” tegas Prof. Ronny.
Dengan munculnya kasus kedua H5N1 di Australia, ancaman flu burung kini tidak lagi menjadi persoalan lokal semata. Mobilitas satwa liar lintas negara membuat kewaspadaan regional menjadi kunci agar wabah tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar.

Tinggalkan Balasan