DIKSIMERDEKA.COM BERN-Perundingan AS-Iran Batal setelah eskalasi konflik Israel-Hezbollah kembali memanas di Lebanon selatan. Upaya diplomatik untuk mengimplementasikan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran mendadak terganggu ketika kekerasan kembali pecah di kawasan tersebut.

Upaya diplomatik untuk mengimplementasikan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran mendadak terganggu. Perundingan teknis yang sedianya digelar di Swiss pada Jumat( 19/6/2026) batal terlaksana setelah eskalasi konflik antara Israel dan Hezbollah kembali memanas di Lebanon selatan.

Pembatalan perundingan terjadi ketika Hezbollah menewaskan empat tentara Israel dalam serangan roket, yang kemudian dibalas Israel dengan gelombang serangan udara besar-besaran di Lebanon selatan. Sedikitnya 18 orang dilaporkan tewas dan 33 lainnya terluka akibat serangan tersebut.

Pertemuan antara delegasi Amerika Serikat dan Iran sebelumnya dijadwalkan berlangsung di desa Obbürgen, Swiss. Agenda itu menjadi tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang membuka masa 60 hari untuk merundingkan kesepakatan permanen terkait program nuklir Iran serta pemulihan lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz.

Gedung Putih sebelumnya menyatakan optimistis pembicaraan teknis dapat segera dimulai. Namun Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance, yang memimpin negosiasi untuk pemerintahan Presiden Donald Trump, akhirnya membatalkan perjalanan ke Swiss.

“Logistik negosiasi ini tidak pernah sederhana atau mudah diprediksi. Hingga saat ini, wakil presiden tidak akan berangkat malam ini,” kata juru bicara Gedung Putih pada Kamis malam waktu setempat.

Pembatalan itu terjadi di tengah meningkatnya kekerasan antara Israel dan Hezbollah, yang disebut sebagai yang paling intens sejak gencatan senjata diberlakukan.

Baca juga :  Indonesia Mulai Impor Minyak Nigeria, Hindari Risiko Selat Hormuz

Hezbollah meluncurkan sejumlah rentetan roket ke pasukan Israel di sekitar Kota Nabatieh, Lebanon selatan, pada Kamis malam. Kelompok itu menyatakan serangan dilakukan terhadap pasukan Israel yang berusaha maju menuju perbukitan di sekitar Nabatieh, wilayah yang kembali menjadi titik panas sejak gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan.

Sebagai balasan, Israel menggempur Nabatieh dan sejumlah kota di sekitarnya melalui serangan udara yang diklaim menyasar posisi Hezbollah.

Di tengah ketegangan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengumumkan telah menyetujui nota kesepahaman dengan Amerika Serikat meskipun masih memiliki sejumlah keberatan. Pada saat yang sama, Washington secara resmi mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Namun sebelum pembicaraan dibatalkan, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Teheran masih menunggu bukti implementasi kesepakatan sementara dari pihak Amerika Serikat sebelum melanjutkan putaran negosiasi berikutnya. Iran juga belum memastikan delegasinya akan berangkat ke Jenewa.

Laporan media Al-Mayadeen yang dekat dengan Hezbollah menyebut Iran menunda pengiriman delegasinya ke Swiss karena operasi militer Israel di Lebanon masih terus berlangsung.

Israel sendiri tidak dilibatkan dalam perundingan damai AS-Iran dan mengambil jarak dari kesepakatan tersebut. Meski demikian, negara itu tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon dan melancarkan serangan udara baru pada Jumat dini hari. Israel menuduh Hezbollah melanggar gencatan senjata, tuduhan yang dibantah dan dibalikkan oleh kelompok tersebut.

Baca juga :  Kemlu RI Bantah Berita Kunjungan "Pejabat Senior" ke Israel

Pada Jumat, Hezbollah mengklaim telah menghancurkan tiga tank Israel di Lebanon selatan dan menyatakan pertempuran masih berlangsung. Hingga kini, militer Israel belum mengonfirmasi klaim tersebut.

Konflik terbaru ini merupakan bagian dari perang yang meluas di Timur Tengah sejak Maret lalu. Hezbollah menyatakan keterlibatannya dalam perang sebagai balasan atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran akibat operasi yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Invasi Israel ke Lebanon selatan serta kampanye pemboman yang menyusul telah menewaskan lebih dari 3.900 orang di Lebanon. Sementara itu, Hezbollah mengklaim telah menewaskan sedikitnya 32 tentara Israel dan tiga warga sipil Israel.

Pada Kamis, Israel mengumumkan pembentukan “zona keamanan” di Lebanon selatan yang mencakup ratusan mil persegi wilayah Lebanon. Pemerintah Lebanon menuntut penarikan penuh pasukan Israel, sebuah syarat yang menurut Iran juga tercantum dalam nota kesepahaman dengan Amerika Serikat.

Dokumen tersebut menyerukan “pengakhiran permanen” perang di Lebanon serta menjamin “integritas wilayah dan kedaulatan” negara itu. Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan menginginkan gencatan senjata total di seluruh front konflik.

Namun Israel sejauh ini bersikeras tidak akan menarik pasukannya dari Lebanon selatan. Sikap tersebut memicu kritik terbuka dari Trump dan Vance.

“Apa yang membuat presiden beberapa kali frustrasi adalah ketika kita tampak berada di ambang terobosan besar dalam perjanjian ini, tiba-tiba terjadi ledakan besar di kawasan permukiman sipil di Beirut dan banyak orang yang tidak ada kaitannya dengan Hezbollah kehilangan nyawa mereka,” kata Vance kepada wartawan.

Baca juga :  Tak Cuma Minyak, Iran Kini Ancam Kabel Internet Dunia Di Selat Hormuz

Ia menambahkan, “Tindakan seperti itu tidak dapat diterima.”

Sementara itu, Kepala Negosiator Iran Mohammad Ghalibaf memperingatkan pihak mana pun agar tidak melanggar kesepakatan yang telah dicapai.

“Dalam kasus adanya tindakan yang tidak semestinya, pelanggaran perjanjian, dan tindakan berlebihan dari pihak lain, kami tidak meragukan bahwa respons tegas akan diberikan kepada musuh,” ujar Ghalibaf.

Tarik-ulur diplomatik terkait perundingan yang batal digelar itu semakin menambah ketidakpastian mengenai peluang tercapainya perdamaian jangka panjang di kawasan. Konflik regional tersebut telah menewaskan sedikitnya 7.000 orang, mendorong lonjakan harga energi, dan mengguncang pasar global.

Khamenei juga menegaskan bahwa proses negosiasi ke depan tidak akan berjalan mudah.

“Jika pihak Amerika ingin mengajukan tuntutan yang berlebihan, kami tidak akan menerimanya,” kata dia dalam pesan tertulis.

Kesepakatan sementara yang telah ditandatangani memberikan waktu 60 hari bagi para negosiator untuk mencapai kesepakatan mengenai status program nuklir Iran. Kesepakatan itu juga mencakup pembentukan dana rekonstruksi senilai US$ 300 miliar untuk Iran serta berbagai insentif ekonomi lainnya.

Di sisi lain, militer Amerika Serikat mengumumkan pencabutan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang sebelumnya menghambat lalu lintas kapal menuju dan dari Republik Islam tersebut. Meski demikian, kapal perang Amerika disebut tetap berada di kawasan.

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman energi dunia yang sempat diblokade Iran selama konflik berlangsung, hingga kini masih terpantau belum sepenuhnya pulih.