Direktur LHI KMHDI: Jejak Hindu di Tarumanagara Merupakan Fakta yang Tak Bisa Dibantah
DIKSIMERDEKA.COM – Direktur Lembaga Hubungan Internasional Pengurus Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PP KMHDI), Lingga Dharmananda Siana, menegaskan jejak Hindu dalam Kerajaan Tarumanagara merupakan fakta historis yang tidak dapat dibantah.
Pernyataan itu disampaikan Lingga menanggapi munculnya narasi yang mencoba memisahkan Kerajaan Tarumanagara dari pengaruh Hindu dengan alasan minimnya populasi umat Hindu di Jawa Barat saat ini.
Menurut Lingga, sejarah tidak dapat ditafsirkan berdasarkan komposisi demografis masyarakat masa kini. Sejarah harus dibaca berdasarkan bukti-bukti yang ditinggalkan pada masa lalu dan hasil kajian akademik yang telah berkembang selama puluhan tahun.

“Menafikan jejak Hindu dalam sejarah Tarumanagara sama dengan mengabaikan fakta-fakta sejarah yang selama ini menjadi rujukan para sejarawan. Saya menyayangkan apabila seorang pejabat publik menyampaikan narasi sejarah tanpa berpijak pada bukti akademik yang telah lama menjadi konsensus dalam kajian sejarah Indonesia,” ujar Lingga dalam keterangannya, Kamis (19/6/2026).
Sebagai putra Jawa Barat, Lingga mengaku prihatin terhadap narasi tersebut karena berpotensi mempersempit pemahaman masyarakat terhadap sejarah Sunda yang sesungguhnya kaya, terbuka, dan terbentuk melalui perjumpaan berbagai peradaban.
“Sejarah bukan perkara suka atau tidak suka. Sejarah bukan pula alat untuk menyesuaikan masa lalu dengan identitas yang dominan pada masa kini. Ketika fakta sejarah mulai dipilih-pilih agar sesuai dengan preferensi tertentu, saat itulah distorsi sejarah sedang terjadi,” tegasnya.
Lingga menjelaskan, sejumlah prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara, seperti Prasasti Ciaruteun, Prasasti Tugu, dan Prasasti Kebon Kopi, menunjukkan adanya pengaruh kuat tradisi Hindu-Wisnu dalam sistem simbolik dan legitimasi kekuasaan Raja Purnawarman.
Menurutnya, fakta tersebut bukanlah klaim sepihak komunitas tertentu, melainkan hasil penelitian para ahli epigrafi, arkeolog, dan sejarawan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
“Tidak ada sejarawan serius yang membantah keberadaan pengaruh Hindu dalam Tarumanagara. Yang diperdebatkan mungkin tingkat dan bentuk pengaruhnya, tetapi keberadaannya sendiri merupakan fakta historis yang didukung oleh berbagai sumber primer,” katanya.
Lebih lanjut, Lingga menjelaskan Tarumanagara berkembang sebagai bagian dari jaringan perdagangan maritim Asia Tenggara yang menghubungkan Nusantara dengan India dan berbagai pusat peradaban lainnya. Dalam konteks tersebut, masuknya pengaruh Hindu merupakan bagian dari proses sejarah yang lazim terjadi di kawasan Asia Tenggara pada masa itu.
Ia menilai upaya menghapus salah satu lapisan sejarah Jawa Barat justru bertentangan dengan semangat pelestarian warisan budaya dan keberagaman yang menjadi fondasi bangsa Indonesia.
“Jawa Barat tidak menjadi lebih Sunda dengan menghapus jejak Hindu dari sejarahnya. Sebaliknya, Jawa Barat menjadi besar karena mampu menerima, mengolah, dan mewariskan berbagai pengaruh peradaban yang datang silih berganti selama berabad-abad,” ujarnya.
Lingga juga mengingatkan bahwa pejabat publik memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan informasi sejarah secara cermat karena setiap pernyataan yang disampaikan dapat memengaruhi cara masyarakat memahami identitas dan masa lalunya.
“Warisan sejarah Nusantara terlalu berharga untuk direduksi demi kepentingan sesaat. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi fakta sejarah harus tetap dihormati. Sebab tanpa penghormatan terhadap fakta, yang tersisa hanyalah opini yang dipaksakan menjadi kebenaran,” pungkasnya.
Editor: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan